Bank Dunia: Pertumbuhan ekonomi RI hanya 6%
Kamis, 12 Juli 2012 - 14:05 WIB
Bank Dunia: Pertumbuhan ekonomi RI hanya 6%
A
A
A
Sindonews.com - Bank Dunia menilai bahwa Indonesia dapat melewati gejolak keuangan global yang terjadi saat ini, namun dapat dipastikan tetap memiliki rIsiko yang tinggi. Prediksinya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2012 hanya akan menguat di angka 6 persen.
"Namun gejolak aliran modal portfolio dan pasar saham menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tidak kebal dari ketidakpastian di zona euro," kata Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, Stefan Koeberle dalam konferensi pers di Gedung BKPM, Jakarta, Kamis (12/7/2012).
Pada harga-harga komoditas ekspor utama Indonesia, dirinya menuturkan seperti batu bara, karet, minyak sawit dan tembaga telah menurun, bahkan hampir 20 persen penyumbang terhadap melemahnya ekspor dan bergeraknya neraca berjalan kearah defisit. "Rupiah juga terus melemah, turun sekitar 10 persen terhadap USD sejak Agustus 2011," ucapnya.
Kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini tetap kuat tetapi dengan masih tingginya ketidakpastian terhadap prospek perekonomian internasional dibutuhkan untuk terus meningkatkan kesiagaan menghadapi krisis dan pada saat yang bersamaan mengatasi tantangan jangka panjang untuk meningkatkan krisis dan pada saat yang bersamaan dalam kondisi lingkungan yang melemah.
"Indonesia memang kuat dibanding negara berkembang lainnya, berkat kuatnya konsumsi domestik dan investasi namun tetap saja tidak akan terhindar, terutama jika harga komoditas dunia dan permintaan sperti China terkena dampaknya," pungkas Stefan.
"Namun gejolak aliran modal portfolio dan pasar saham menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tidak kebal dari ketidakpastian di zona euro," kata Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, Stefan Koeberle dalam konferensi pers di Gedung BKPM, Jakarta, Kamis (12/7/2012).
Pada harga-harga komoditas ekspor utama Indonesia, dirinya menuturkan seperti batu bara, karet, minyak sawit dan tembaga telah menurun, bahkan hampir 20 persen penyumbang terhadap melemahnya ekspor dan bergeraknya neraca berjalan kearah defisit. "Rupiah juga terus melemah, turun sekitar 10 persen terhadap USD sejak Agustus 2011," ucapnya.
Kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini tetap kuat tetapi dengan masih tingginya ketidakpastian terhadap prospek perekonomian internasional dibutuhkan untuk terus meningkatkan kesiagaan menghadapi krisis dan pada saat yang bersamaan mengatasi tantangan jangka panjang untuk meningkatkan krisis dan pada saat yang bersamaan dalam kondisi lingkungan yang melemah.
"Indonesia memang kuat dibanding negara berkembang lainnya, berkat kuatnya konsumsi domestik dan investasi namun tetap saja tidak akan terhindar, terutama jika harga komoditas dunia dan permintaan sperti China terkena dampaknya," pungkas Stefan.
(and)
Lihat Juga :