Triwulan II, Rupiah terdepresiasi 2,65%
Kamis, 12 Juli 2012 - 16:41 WIB
Triwulan II, Rupiah terdepresiasi 2,65%
A
A
A
Sindonews.com - Nilai tukar Rupiah pada triwulan II-2012 mengalami tekanan depresiasi, namun dengan volatilitas yang terjaga dibandingkan triwulan sebelumnya.
Rupiah secara point-to-point melemah sebesar 2,65 persen (qtq) ke level Rp9.393 per dolar AS atau secara rata-rata melemah 2,27 persen (qtq) menjadi Rp9.277 per dolar AS.
Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution menyatakan, tekanan terhadap nilai tukar Rupiah dipengaruhi oleh dinamika krisis di Eropa yang mendorong meningkatnya permintaan valas terkait portfolio rebalancing oleh pelaku nonresiden.
"Selain itu, permintaan valas domestik juga meningkat seiring dengan impor yang tinggi. Bank Indonesia terus menempuh langkah-langkah untuk menjaga keseimbangan di pasar valas maupun pengembangan instrumen moneter valas untuk mendukung stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai fundamentalnya dan sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan Asia," jelasnya saat konferensi pers, di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (12/7/2012).
Sementara itu, tekanan inflasi pada triwulan II-2012 dinilai masih relatif rendah. Inflasi IHK pada triwulan II-2012 tercatat 0,90 persen (qtq) sehingga secara tahunan tercatat sebesar 4,53 persen (yoy).
"Secara fundamental, inflasi masih terkendali sebagaimana tercermin pada inflasi inti yang berada level yang rendah (4,15 persen yoy) seiring dengan penurunan harga komoditas global dan ekspektasi yang membaik," tuturnya.
Sementara itu, harga bahan pangan mengalami peningkatan akibat terganggunya pasokan. Di sisi lain, inflasi administered prices minimal seiring dengan tidak adanya kebijakan Pemerintah di bidang harga barang dan jasa yang bersifat strategis. "Ke depan, tekanan inflasi diprakirakan moderat dan diperkirakan tetap berada dalam kisaran sasarannya," tandasnya.
Rupiah secara point-to-point melemah sebesar 2,65 persen (qtq) ke level Rp9.393 per dolar AS atau secara rata-rata melemah 2,27 persen (qtq) menjadi Rp9.277 per dolar AS.
Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution menyatakan, tekanan terhadap nilai tukar Rupiah dipengaruhi oleh dinamika krisis di Eropa yang mendorong meningkatnya permintaan valas terkait portfolio rebalancing oleh pelaku nonresiden.
"Selain itu, permintaan valas domestik juga meningkat seiring dengan impor yang tinggi. Bank Indonesia terus menempuh langkah-langkah untuk menjaga keseimbangan di pasar valas maupun pengembangan instrumen moneter valas untuk mendukung stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai fundamentalnya dan sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan Asia," jelasnya saat konferensi pers, di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (12/7/2012).
Sementara itu, tekanan inflasi pada triwulan II-2012 dinilai masih relatif rendah. Inflasi IHK pada triwulan II-2012 tercatat 0,90 persen (qtq) sehingga secara tahunan tercatat sebesar 4,53 persen (yoy).
"Secara fundamental, inflasi masih terkendali sebagaimana tercermin pada inflasi inti yang berada level yang rendah (4,15 persen yoy) seiring dengan penurunan harga komoditas global dan ekspektasi yang membaik," tuturnya.
Sementara itu, harga bahan pangan mengalami peningkatan akibat terganggunya pasokan. Di sisi lain, inflasi administered prices minimal seiring dengan tidak adanya kebijakan Pemerintah di bidang harga barang dan jasa yang bersifat strategis. "Ke depan, tekanan inflasi diprakirakan moderat dan diperkirakan tetap berada dalam kisaran sasarannya," tandasnya.
(and)