Kian laris, pembangunan mal di Jakarta sulit direm
Sabtu, 14 Juli 2012 - 15:40 WIB
Kian laris, pembangunan mal di Jakarta sulit direm
A
A
A
Sindonews.com - Pertumbuhan pembangunan mal di Jakarta memang sulit untuk di rem. Padahal semestinya ada aturan yang ditetapkan mengenai kawasan sentra primer ekonomi dan kawasan pengembangan ekonomi sekunder.
Ahli tata kota dari Univesitas Trisakti, Yayat Supriatna, menyatakan pembangunan mal untuk wilayah DKI Jakarta, sebaiknya dilakukan di kawasan pengembangan ekonomi sekunder.
"Pada dasarnya jika mengacu konsep tata ruang, pembangunan pusat perbelanjaan ini di bangun pada kawasan ekonomi sekunder karena menyangkut berbagai aspek, seperti transportasi massal dan infrastruktur," ujar Yayat di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, jika tidak memperhatikan sinergi dengan berbagai aspek tersebut, maka akan menambah kemacetan Jakarta. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah pembangunan tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan.
"Sejauh mana urgensitas lokasi tersebut membutuhkan pusat perbelanjaan, seperti kita tahu banyaknya mal dengan lokasi yang berdekatan akan mengakibatkan kompetisi atau persaingan tak sehat antar mal," tuturnya.
Sementara itu, jika dilihat dari segi lingkungan, pembangunan mal yang berdekatan juga bisa menimbulkan eksploitasi tanah dan air berlebihan. Di samping itu, tanpa adanya pengendalian dan mengindahkan tata ruang, akan semakin banyak tempat dialihfungsikan.
"Seperti ruang terbuka hijau Senayan yang kini tumbuh menjadi mal, karenanya perlu ditelusuri lebih dalam aspek peruntukan dan perizinan suatu lahan. Sehingga tetap terbentuk pembangunan yang terkendali," imbuh Yayat.
Ditambahkan Yayat, hal ini memerlukan kerjasama dari berbagai pihak, baik pemerintah, pengembang maupun masyarakat harus menyadari pentingnya menjaga ekologi berkelanjutan, tidak hanya mengutamakan aspek komersial semata.
Sekedar mengingatkan, dalam empat tahun ke depan, rencananya akan ada sekira 13 mal baru yang akan beroperasi. Meski demikian, menjamurnya pusat perbelanjaan di di wilayah ibu kota, tidak lantas membuat para pengembang maupun pengelola mal khawatir akan tingkat okupansi.
"Persentasi okupansi masih cukup tinggi sekitar 85 persen. Hal ini memang wajar adanya jika mengingat pangsa pasar Indonesia, khususnya Jakarta. Dengan populasi penduduk yang cukup tinggi, pasar masih terbuka luas," kata Hasan.
Bahkan, lanjutnya, daya beli masyararakat sendiri juga masih cukup besar, sehingga pembangunan mal di Jakarta masih menjadi pilihan, karena tetap menjadi salah satu pangsa pasar yang mumpuni.
"Meski tingkat persaingan sendiri memang cukup ketat, tapi hal ini bukanlah suatu kendala. Asalkan pelaku pintar mencari tempat atau lahan yang masih komersial untuk dikembangkan," ujarnya.
Menurut Hasan, banyak strategi jitu yang dilakukan pengembang saat ini untuk membuat produk properti komersialnya laku. Salah satunya dengan membangun proyek mixed-use atau superblok. Contohnya seperti tiga proyek superblok yang berada di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Namun, jika hal ini tidak memungkinkan, pengembang juga bisa menyiasati dnegan pemilihan lokasi yang strategis dan melakukan diferensiasi seperti pada konsep pemasaran yang kreatif.
"Sehingga dapat bersaing dengan mal-mal lain misalnya dengan menggelar event-event tertentu yang dapat menarik pengunjung. Menghadirkan sesuatu yang terkesan tiidak biasa dapat dipertimnbangkan untuk dijakdikan sebagai pembeda antar mal," ujar Hasan menutup.
Ahli tata kota dari Univesitas Trisakti, Yayat Supriatna, menyatakan pembangunan mal untuk wilayah DKI Jakarta, sebaiknya dilakukan di kawasan pengembangan ekonomi sekunder.
"Pada dasarnya jika mengacu konsep tata ruang, pembangunan pusat perbelanjaan ini di bangun pada kawasan ekonomi sekunder karena menyangkut berbagai aspek, seperti transportasi massal dan infrastruktur," ujar Yayat di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, jika tidak memperhatikan sinergi dengan berbagai aspek tersebut, maka akan menambah kemacetan Jakarta. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah pembangunan tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan.
"Sejauh mana urgensitas lokasi tersebut membutuhkan pusat perbelanjaan, seperti kita tahu banyaknya mal dengan lokasi yang berdekatan akan mengakibatkan kompetisi atau persaingan tak sehat antar mal," tuturnya.
Sementara itu, jika dilihat dari segi lingkungan, pembangunan mal yang berdekatan juga bisa menimbulkan eksploitasi tanah dan air berlebihan. Di samping itu, tanpa adanya pengendalian dan mengindahkan tata ruang, akan semakin banyak tempat dialihfungsikan.
"Seperti ruang terbuka hijau Senayan yang kini tumbuh menjadi mal, karenanya perlu ditelusuri lebih dalam aspek peruntukan dan perizinan suatu lahan. Sehingga tetap terbentuk pembangunan yang terkendali," imbuh Yayat.
Ditambahkan Yayat, hal ini memerlukan kerjasama dari berbagai pihak, baik pemerintah, pengembang maupun masyarakat harus menyadari pentingnya menjaga ekologi berkelanjutan, tidak hanya mengutamakan aspek komersial semata.
Sekedar mengingatkan, dalam empat tahun ke depan, rencananya akan ada sekira 13 mal baru yang akan beroperasi. Meski demikian, menjamurnya pusat perbelanjaan di di wilayah ibu kota, tidak lantas membuat para pengembang maupun pengelola mal khawatir akan tingkat okupansi.
"Persentasi okupansi masih cukup tinggi sekitar 85 persen. Hal ini memang wajar adanya jika mengingat pangsa pasar Indonesia, khususnya Jakarta. Dengan populasi penduduk yang cukup tinggi, pasar masih terbuka luas," kata Hasan.
Bahkan, lanjutnya, daya beli masyararakat sendiri juga masih cukup besar, sehingga pembangunan mal di Jakarta masih menjadi pilihan, karena tetap menjadi salah satu pangsa pasar yang mumpuni.
"Meski tingkat persaingan sendiri memang cukup ketat, tapi hal ini bukanlah suatu kendala. Asalkan pelaku pintar mencari tempat atau lahan yang masih komersial untuk dikembangkan," ujarnya.
Menurut Hasan, banyak strategi jitu yang dilakukan pengembang saat ini untuk membuat produk properti komersialnya laku. Salah satunya dengan membangun proyek mixed-use atau superblok. Contohnya seperti tiga proyek superblok yang berada di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Namun, jika hal ini tidak memungkinkan, pengembang juga bisa menyiasati dnegan pemilihan lokasi yang strategis dan melakukan diferensiasi seperti pada konsep pemasaran yang kreatif.
"Sehingga dapat bersaing dengan mal-mal lain misalnya dengan menggelar event-event tertentu yang dapat menarik pengunjung. Menghadirkan sesuatu yang terkesan tiidak biasa dapat dipertimnbangkan untuk dijakdikan sebagai pembeda antar mal," ujar Hasan menutup.
(and)
Lihat Juga :