PLN serahkan pengembangan PLTS ke swasta
Senin, 16 Juli 2012 - 19:55 WIB
PLN serahkan pengembangan PLTS ke swasta
A
A
A
Sindonews.com - Direktur PT PLN (persero), Nur Pamudji menyatakan sangat mendukung program pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS) di Indonesia. Apalagi harga pembelian sudah ditetapkan dari pemerintah, sehingga PLN hanya cukup membeli sesuai ketentuan.
Sedangkan untuk pengembangan PLTS, Nur menganggap lebih baik diserahkan kepada pihak swasta. "Kita serahkan ke swasta aja. Kan kita bagi-bagi area pengembangan. Kalau yang gede-gede PLN. Kalau kecil-kecil swasta. Jadi kita diversifikasi," ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Senin (16/7/2012).
Dirinya menjelaskan dua jenis PLTS yang dapat dikembangkan untuk mengalirkan listrik. "Pertama menggunakan gas metana. Itu tumpukan sampah yang sudah ditutup pakai tanah. Itu land field. Itu dibor. Nah, waktu di bor itu gas metananya akan masuk ke pipa-pipa. Lalu dialirkan ke mesin pembangkit listrik. Ini dilakukan di Bantar Gebang, Bekasi," jelasnya.
Kedua adalah dengan pembakaran sampah dengan nama ensinerator. Setelah dibakar sampah akan menghasilkan panas dan dapat dialirkan ke turbin uap yang bisa menghasilkan listrik.
Terkait harga, menurut Nur, dengan aturan yang berlaku saat ini tidak ada perbedaan harga pembelian listrik. "Satunya Rp900 sekian, satunya seribu sekian. Beda harganya. Tapi tadi Jero Wacik (Menteri ESDM) katakan sedang merevisi tarif terkait sampah. Kita belum tahu," paparnya.
Terhambatnya pengembangan pembangkit listrik dengan bahan bakar biomassa tersebut, Nur mengatakan bukan karena tidak ada yang tertarik, akan tetapi lebih karena belum dijajaki.
Sedangkan untuk pengembangan PLTS, Nur menganggap lebih baik diserahkan kepada pihak swasta. "Kita serahkan ke swasta aja. Kan kita bagi-bagi area pengembangan. Kalau yang gede-gede PLN. Kalau kecil-kecil swasta. Jadi kita diversifikasi," ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Senin (16/7/2012).
Dirinya menjelaskan dua jenis PLTS yang dapat dikembangkan untuk mengalirkan listrik. "Pertama menggunakan gas metana. Itu tumpukan sampah yang sudah ditutup pakai tanah. Itu land field. Itu dibor. Nah, waktu di bor itu gas metananya akan masuk ke pipa-pipa. Lalu dialirkan ke mesin pembangkit listrik. Ini dilakukan di Bantar Gebang, Bekasi," jelasnya.
Kedua adalah dengan pembakaran sampah dengan nama ensinerator. Setelah dibakar sampah akan menghasilkan panas dan dapat dialirkan ke turbin uap yang bisa menghasilkan listrik.
Terkait harga, menurut Nur, dengan aturan yang berlaku saat ini tidak ada perbedaan harga pembelian listrik. "Satunya Rp900 sekian, satunya seribu sekian. Beda harganya. Tapi tadi Jero Wacik (Menteri ESDM) katakan sedang merevisi tarif terkait sampah. Kita belum tahu," paparnya.
Terhambatnya pengembangan pembangkit listrik dengan bahan bakar biomassa tersebut, Nur mengatakan bukan karena tidak ada yang tertarik, akan tetapi lebih karena belum dijajaki.
(gpr)
Lihat Juga :