Politik memanas, Pertamina ragu investasi di Venezuela
Senin, 23 Juli 2012 - 13:40 WIB
Politik memanas, Pertamina ragu investasi di Venezuela
A
A
A
Sindonews.com - PT Pertamina (Persero) kembali mengungkapkan keraguan untuk menancapkan investasi di Venezuela. Bahkan, rencana untuk mengakuisisi 32 persen saham Petrodelta terancam gagal.
Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan menuturkan, penyebab keraguan Pertamina tersebut adalah ketidakstabilan politik karena pemilihan presiden baru di negara kawasan Amerika Latin tersebut. "Kita melihat kestabilan politik di sana karena mereka juga akan pemilu di bulan Oktober," ungkap Karen kepada wartawan di Jakarta, Senin (23/7/2012).
Berhubung proyek ini adalah proyek besar, menurutnya pemerintah juga harus dapat membantu dengan melakukan konsolidasi dengan pemerintah Venezuela. "Dimana saya minta forum goverment to goverment (g to g), dimana pemerintah kita juga berbicara ke sana," jelasnya.
Sebagai informasi, saat ini Venezuela memasuki masa kampanye dari masing-masing calon presiden sebelum pemilu yang digelar di bulan Oktober. Persaingan calon presiden ini cukup menegangkan, karena mengadu pemimpin sayap kiri Hugo Chavez menghadapi pengusaha sayap tengah dan Gubernur, Henrique Caprilez.
Sedangkan terkait Petrodelta adalah operator dan pemegang hak konsesi dari pemerintah Venezuela hingga tahun 2027 untuk mengeksplorasi, mengembangkan, memproduksikan, dan mengelola blok migas yang terdiri dari lapangan Uracoa, Bombal, Tucupita, El Salto, El Inseno dan Temblador, dengan keseluruhan cakupan wilayah seluas 1.000 kilometer persegi.
Berdasarkan sertifikasi dari Ryder Scott tahun 2012 sesuai dengan pedoman dari US Securities and Exchange Commission, lapangan Petrodelta mengandung cadangan terbukti dan mungkin (proven & probable, 2P) total sekitar 486 juta barel ekuivalen minyak bumi (mmboe). Kandungan cadangan hidrokarbon tersebut lebih besar dibandingkan dengan cadangan Blok Cepu, yang merupakan penemuan terbesar di Indonesia selama 10 tahun terakhir.
Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan menuturkan, penyebab keraguan Pertamina tersebut adalah ketidakstabilan politik karena pemilihan presiden baru di negara kawasan Amerika Latin tersebut. "Kita melihat kestabilan politik di sana karena mereka juga akan pemilu di bulan Oktober," ungkap Karen kepada wartawan di Jakarta, Senin (23/7/2012).
Berhubung proyek ini adalah proyek besar, menurutnya pemerintah juga harus dapat membantu dengan melakukan konsolidasi dengan pemerintah Venezuela. "Dimana saya minta forum goverment to goverment (g to g), dimana pemerintah kita juga berbicara ke sana," jelasnya.
Sebagai informasi, saat ini Venezuela memasuki masa kampanye dari masing-masing calon presiden sebelum pemilu yang digelar di bulan Oktober. Persaingan calon presiden ini cukup menegangkan, karena mengadu pemimpin sayap kiri Hugo Chavez menghadapi pengusaha sayap tengah dan Gubernur, Henrique Caprilez.
Sedangkan terkait Petrodelta adalah operator dan pemegang hak konsesi dari pemerintah Venezuela hingga tahun 2027 untuk mengeksplorasi, mengembangkan, memproduksikan, dan mengelola blok migas yang terdiri dari lapangan Uracoa, Bombal, Tucupita, El Salto, El Inseno dan Temblador, dengan keseluruhan cakupan wilayah seluas 1.000 kilometer persegi.
Berdasarkan sertifikasi dari Ryder Scott tahun 2012 sesuai dengan pedoman dari US Securities and Exchange Commission, lapangan Petrodelta mengandung cadangan terbukti dan mungkin (proven & probable, 2P) total sekitar 486 juta barel ekuivalen minyak bumi (mmboe). Kandungan cadangan hidrokarbon tersebut lebih besar dibandingkan dengan cadangan Blok Cepu, yang merupakan penemuan terbesar di Indonesia selama 10 tahun terakhir.
(and)
Lihat Juga :