Investor saham tidak lepas dari mitos
Minggu, 29 Juli 2012 - 10:34 WIB
Investor saham tidak lepas dari mitos
A
A
A
SEWAKTU masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), saya pernah mendengar sebuah mitos, “Kalau mau pintar, sering-seringlah menaruh buku di atas kepala dan jangan pernah menduduki atau menginjaknya”.
Kedengarannya tidak masuk akal tetapi banyak orang percaya mitos seperti ini termasuk saya saat itu. Siapa anak yang tidak ingin menjadi pintar? Saya pun selalu menaruh buku di atas kepala setiap berjalan kaki pulang dari sekolah agar terhindar dari panas matahari sekaligus berharap menjadi pintar. Soal mitos, banyak orang dewasa yang masih percaya dan mempraktikkannya.
Tidak terkecuali para investor saham, seperti yang diamati Peter Lynch, mantan manajer reksa dana terbesar di AS. Lynch yang pernah di juluki manajer investasi nomor wahid di dunia oleh majalah Time, menuliskan mitos-mitos yang populer di kalangan investor Amerika itu dalam salah satu bukunya “One Up On Wall Street”. Menariknya, mitos-mitos itu tampaknya juga melanda para investor saham kita di bursa. Inilah sebagian dari mitos itu.
Harga Terendah
Pertama, harga saham itu sudah turun begitu dalamnya sehingga tidak mungkin turun lagi. Investor banyak yang meyakini kalau saham yang harganya telah merosot drastis, tidak akan turun lebih rendah lagi. Kenyataannya belum tentu. Contohnya, saham ELTY harganya merosot 80 persen dari Rp650 menjadi Rp130 dari awal tahun 2008 hingga awal tahun ini. Kalau Anda percaya mitos ini dengan mem be li saham itu pada harga Rp130, Anda akan gigit jari karena harganya masih saja turun hingga di bawah Rp70 saat ini.
Kedua, nanti saja beli saham itu kalau harganya mencapai titik terendahnya. Masalahnya, kita tidak pernah tahu harga terbawah sebuah saham. Persis seperti jingle iklan rokok di televisi beberapa tahun lalu, pada saat harga saham anjlok, investor hanya bisa bertanya, How low can you go? Menurut Lynch, menebak harga terendah sebuah saham yang sedang turun mirip seperti menangkap pisau yang sedang jatuh. Pisau tidak didapat, tangan malah terluka.
Cut Loss
Ketiga, saya tidak mau menjual rugi (cut loss) saham saya. Nanti saja kalau harganya kembali ke Rp500, baru saya jual. Mengetahui harga saham turun naik, Anda boleh saja berprinsip seperti itu. Sebagai investor individu, Anda bebas memutuskan apa saja untuk uang dan portofolio Anda. Harga saham mungkin saja kembali naik seperti harapan Anda. Tetapi, siapa yang dapat memastikan hal itu akan terjadi dalam waktu dekat.
Bagaimana kalau terjadinya 5 tahun lagi? Kalau memang fundamental perusahaan dan prospek industrinya benar-benar jelek, sebaiknya Anda bersikap realistis dan berani cut loss. Mengaku salah dan bersedia menerima kerugian adalah sangat manusiawi dalam investasi saham. Harga saham dalam satu tahun bisa turun sampai -87 persen pada tahun 2010 (saham IKAI) dan -61 persen pada tahun 2011 (saham SHID).
Soal cut loss ini, Anda dapat belajar dari manajer investasi. Karena mengelola dana nasabah, manajer investasi umumnya menerapkan strategi cut loss untuk saham dalam portofolionya. Seorang manajer investasi sering cut loss jika harga sebuah saham portofolionya sudah turun sebesar 7–10 persen dari harga beli rata-rata. Manajer investasi itu dapat saja membeli lagi saham yang harganya sedang jatuh itu untuk menurunkan rata-rata harga belinya.
Tetapi ini akan dilakukan hanya jika si manajer investasi itu yakin akan fundamental perusahaan itu. Jika tidak yakin, mereka umumnya tidak ragu untuk cut loss. Dalam bukunya The Investment Club Book, John Wasik (1995) menyebutkan, National Association of Investors Corporations (NAIC) yang mewakili 8.000 klub pemilihan saham di Amerika merekomendasikan investor mengoleksi lima saham dalam portofolionya.
Teori Rule of Five dari NAIC ini mengatakan, dari lima saham ke mungkinan satu akan menjadi loser, tiga mem berikan return biasa-biasa saja (mediocre) dan hanya satu saja yang akan menjadi saham pemenang sejati (the real winner). Intinya, tidak ada investor saham yang tidak pernah mengalami kerugian. Semua investor pasti pernah salah pilih dan Anda masih dinilai jago bermain saham jika kesalahan pilih Anda hanya 1 dari 4 atau 5 saham. Jangan pernah bermimpi pemilihan saham Anda akan selalu tepat. Karena itu, jangan takut untuk cut loss. Manajer investasi pun sering melakukannya.
Harga Tertinggi
Keempat, harga sahamnya sudah meroket tinggi sehingga tidak mungkin naik lagi. Investor saham Astra International (ASII) yang membelinya pada harga Rp9.000 per saham di awal 2009 dan menjualnya di harga Rp20 ribu setahun kemudian banyak yang menyesal ketika mengetahui harganya menembus Rp40 ribu pada awal 2011. Investor itu akan gelenggeleng kepalanya lagi ketika menyasikan harga ASII mencapai Rp70 ribu sebelum dipecah menjadi 10 saham masing-masing berharga Rp7.000 di bulan Mei 2012 lalu.
Kelima, kalau harga saham sudah naik 50 persen, cepat realisasikan keuntungan Anda. Mitos ini berlawanan dengan mitos ketiga. Jika Anda percaya dua mitos ini, Anda masih memerlukan banyak jam terbang untuk menjadi investor piawai. Bukan apa-apa, menerapkan dua mitos ini akan membuat Anda membatasi keuntungan Anda tetapi tidak membatasi kerugian Anda. Artinya, Anda siap untuk menerima kerugian berapa pun tetapi tidak siap untuk mengalami return di atas 50 persen.
Untuk Anda ketahui, return ratarata 10 saham top gainers di BEI tahun 2011 adalah 280 persen (dari 138 persen hingga 515 persen masing-masingnya), turun dari rata-rata 884 persen tahun sebelumnya (573 persen hingga 1.475 persen). Tips dari saya, dalam berinvestasi saham langsung, jangan ragu atau malu untuk bertanya dan belajar kepada yang berpengalaman dan jangan malas untuk membaca dan mencari informasi.
BUDI FRENSIDY
Penasihat Investasi dan Penulis Buku Matematika Keuangan
Kedengarannya tidak masuk akal tetapi banyak orang percaya mitos seperti ini termasuk saya saat itu. Siapa anak yang tidak ingin menjadi pintar? Saya pun selalu menaruh buku di atas kepala setiap berjalan kaki pulang dari sekolah agar terhindar dari panas matahari sekaligus berharap menjadi pintar. Soal mitos, banyak orang dewasa yang masih percaya dan mempraktikkannya.
Tidak terkecuali para investor saham, seperti yang diamati Peter Lynch, mantan manajer reksa dana terbesar di AS. Lynch yang pernah di juluki manajer investasi nomor wahid di dunia oleh majalah Time, menuliskan mitos-mitos yang populer di kalangan investor Amerika itu dalam salah satu bukunya “One Up On Wall Street”. Menariknya, mitos-mitos itu tampaknya juga melanda para investor saham kita di bursa. Inilah sebagian dari mitos itu.
Harga Terendah
Pertama, harga saham itu sudah turun begitu dalamnya sehingga tidak mungkin turun lagi. Investor banyak yang meyakini kalau saham yang harganya telah merosot drastis, tidak akan turun lebih rendah lagi. Kenyataannya belum tentu. Contohnya, saham ELTY harganya merosot 80 persen dari Rp650 menjadi Rp130 dari awal tahun 2008 hingga awal tahun ini. Kalau Anda percaya mitos ini dengan mem be li saham itu pada harga Rp130, Anda akan gigit jari karena harganya masih saja turun hingga di bawah Rp70 saat ini.
Kedua, nanti saja beli saham itu kalau harganya mencapai titik terendahnya. Masalahnya, kita tidak pernah tahu harga terbawah sebuah saham. Persis seperti jingle iklan rokok di televisi beberapa tahun lalu, pada saat harga saham anjlok, investor hanya bisa bertanya, How low can you go? Menurut Lynch, menebak harga terendah sebuah saham yang sedang turun mirip seperti menangkap pisau yang sedang jatuh. Pisau tidak didapat, tangan malah terluka.
Cut Loss
Ketiga, saya tidak mau menjual rugi (cut loss) saham saya. Nanti saja kalau harganya kembali ke Rp500, baru saya jual. Mengetahui harga saham turun naik, Anda boleh saja berprinsip seperti itu. Sebagai investor individu, Anda bebas memutuskan apa saja untuk uang dan portofolio Anda. Harga saham mungkin saja kembali naik seperti harapan Anda. Tetapi, siapa yang dapat memastikan hal itu akan terjadi dalam waktu dekat.
Bagaimana kalau terjadinya 5 tahun lagi? Kalau memang fundamental perusahaan dan prospek industrinya benar-benar jelek, sebaiknya Anda bersikap realistis dan berani cut loss. Mengaku salah dan bersedia menerima kerugian adalah sangat manusiawi dalam investasi saham. Harga saham dalam satu tahun bisa turun sampai -87 persen pada tahun 2010 (saham IKAI) dan -61 persen pada tahun 2011 (saham SHID).
Soal cut loss ini, Anda dapat belajar dari manajer investasi. Karena mengelola dana nasabah, manajer investasi umumnya menerapkan strategi cut loss untuk saham dalam portofolionya. Seorang manajer investasi sering cut loss jika harga sebuah saham portofolionya sudah turun sebesar 7–10 persen dari harga beli rata-rata. Manajer investasi itu dapat saja membeli lagi saham yang harganya sedang jatuh itu untuk menurunkan rata-rata harga belinya.
Tetapi ini akan dilakukan hanya jika si manajer investasi itu yakin akan fundamental perusahaan itu. Jika tidak yakin, mereka umumnya tidak ragu untuk cut loss. Dalam bukunya The Investment Club Book, John Wasik (1995) menyebutkan, National Association of Investors Corporations (NAIC) yang mewakili 8.000 klub pemilihan saham di Amerika merekomendasikan investor mengoleksi lima saham dalam portofolionya.
Teori Rule of Five dari NAIC ini mengatakan, dari lima saham ke mungkinan satu akan menjadi loser, tiga mem berikan return biasa-biasa saja (mediocre) dan hanya satu saja yang akan menjadi saham pemenang sejati (the real winner). Intinya, tidak ada investor saham yang tidak pernah mengalami kerugian. Semua investor pasti pernah salah pilih dan Anda masih dinilai jago bermain saham jika kesalahan pilih Anda hanya 1 dari 4 atau 5 saham. Jangan pernah bermimpi pemilihan saham Anda akan selalu tepat. Karena itu, jangan takut untuk cut loss. Manajer investasi pun sering melakukannya.
Harga Tertinggi
Keempat, harga sahamnya sudah meroket tinggi sehingga tidak mungkin naik lagi. Investor saham Astra International (ASII) yang membelinya pada harga Rp9.000 per saham di awal 2009 dan menjualnya di harga Rp20 ribu setahun kemudian banyak yang menyesal ketika mengetahui harganya menembus Rp40 ribu pada awal 2011. Investor itu akan gelenggeleng kepalanya lagi ketika menyasikan harga ASII mencapai Rp70 ribu sebelum dipecah menjadi 10 saham masing-masing berharga Rp7.000 di bulan Mei 2012 lalu.
Kelima, kalau harga saham sudah naik 50 persen, cepat realisasikan keuntungan Anda. Mitos ini berlawanan dengan mitos ketiga. Jika Anda percaya dua mitos ini, Anda masih memerlukan banyak jam terbang untuk menjadi investor piawai. Bukan apa-apa, menerapkan dua mitos ini akan membuat Anda membatasi keuntungan Anda tetapi tidak membatasi kerugian Anda. Artinya, Anda siap untuk menerima kerugian berapa pun tetapi tidak siap untuk mengalami return di atas 50 persen.
Untuk Anda ketahui, return ratarata 10 saham top gainers di BEI tahun 2011 adalah 280 persen (dari 138 persen hingga 515 persen masing-masingnya), turun dari rata-rata 884 persen tahun sebelumnya (573 persen hingga 1.475 persen). Tips dari saya, dalam berinvestasi saham langsung, jangan ragu atau malu untuk bertanya dan belajar kepada yang berpengalaman dan jangan malas untuk membaca dan mencari informasi.
BUDI FRENSIDY
Penasihat Investasi dan Penulis Buku Matematika Keuangan
(and)
Lihat Juga :