Serasi Autoraya bidik bisnis tumbuh 20%
Senin, 30 Juli 2012 - 07:29 WIB
Serasi Autoraya bidik bisnis tumbuh 20%
A
A
A
Sindonews.com - PT Serasi Autoraya (Sera), salah satu unit bisnis PT Astra International Tbk (ASII) yang bergerak di bidang rental dan penjualan mobil bekas menargetkan pertumbuhan bisnis hingga 20 persen pada tahun ini.
Direktur Sera Jefri R Sirait mengatakan, bisnis perusahaan terdiri dari usaha rental mobil yakni Trac, jasa taksi O-Renz Taxi, logistik melalui Selog, dan penjualan mobil bekas melalui Mobil 88.
Tahun lalu, lanjutnya, Sera telah mendapatkan keuntungan sekitar Rp270 miliar dengan 33.000 armada. Sedangkan, tahun ini perusahaan akan menambah armada menjadi 37.000 dengan mengeluarkan modal sebesar Rp2,7 triliun untuk membeli armada.
Hingga bulan Juni perusahaan sudah mengeluarkan dana sekitar Rp870 miliar dari modal belanjanya. “Sampai dengan Juni 2012 kita sudah tumbuh 15 persen secara unit dan bottom line. Net profit margin naik 15 persen. Nilainya setara dengan Rp270 miliar,” kata Jefri di Jakarta akhir pekan lalu.
Dia menuturkan, untuk Trac, bertumbuh 6 persen secara year on year(yoy). Saat ini Trac memiliki sekitar 6.100 unit kendaraan. Di mana, sekitar 65 persennya adalah mobil Toyota, dan 60 persennya merupakan jenis MPV.
Dia menambahkan, 90 persen pelanggan berasal dari perusahaan yang bergerak di sektor perbankan, telekomunikasi, dan produk konsumsi. Untuk Mobil 88, perusahaan masih mengandalkan kendaraan yang sebelumnya digunakan Trac.
Pasalnya, pembeli lebih merasa terjamin dengan kondisi dan kualitas produk. Jefri mengatakan, dari empat unit usaha, 75–78 persen net profit marginperseroan dihasilkan oleh Trac, 16–17 persen oleh Selog, dan 2 persen oleh O-Renz Taxi. Lalu, sisanya sekitar 3 persen oleh Mobil 88. “Ke depan, kami mengejar kontribusi Selog agar bisa mencapai 20 persen,” ucapnya.
Sementara, dia mengaku, saat ini suplai kendaraan, terutama untuk jenis 4X4 mengalami shortage sejak terjadi banjir Thailand dan tsunami Jepang. Pada tahun lalu perusahaan menyediakan sekitar 4.500 unit kendaraan jenis 4x4 untuk pelanggan sektor pertambangan dan perkebunan.
Namun, tahun ini hingga semester I Sera hanya mampu menyediakan 400 unit. Padahal, segmen 4x4 merupakan produk dengan margin profitabilitas yang tinggi.
Untuk mendorong bisnis, kata dia, perusahaan melakukan sejumlah strategi, seperti memperpanjang kontrak pelanggan yang sudah ada, dan terus menjaga kondisi kendaraan. Selain itu, perusahaan juga bermain di pasar kendaraan niaga.
“Karena, pada 2020, Astra menargetkan masuk dalam Fortune 500 dan menargetkan pertumbuhan secara merata 20 persen,” ucapnya.
Khusus untuk Lebaran, bisa berkontribusi sekitar 18–20 persen terhadap total kinerja semester II. Dia menyebutkan, bisnis rental bisa tumbuh 2,5 kali lipat di semester II dibandingkan semester I.
Chief Marketing Auto 2000 Rahmat Samulo mengatakan, tren menjelang Lebaran biasanya meningkat. Namun, itu tergantung jenis mobil dan ada atau tidaknya stok. “Walau dekat Lebaran, permintaan naik, produksi kan sudah diplot,” tandasnya.
Direktur Sera Jefri R Sirait mengatakan, bisnis perusahaan terdiri dari usaha rental mobil yakni Trac, jasa taksi O-Renz Taxi, logistik melalui Selog, dan penjualan mobil bekas melalui Mobil 88.
Tahun lalu, lanjutnya, Sera telah mendapatkan keuntungan sekitar Rp270 miliar dengan 33.000 armada. Sedangkan, tahun ini perusahaan akan menambah armada menjadi 37.000 dengan mengeluarkan modal sebesar Rp2,7 triliun untuk membeli armada.
Hingga bulan Juni perusahaan sudah mengeluarkan dana sekitar Rp870 miliar dari modal belanjanya. “Sampai dengan Juni 2012 kita sudah tumbuh 15 persen secara unit dan bottom line. Net profit margin naik 15 persen. Nilainya setara dengan Rp270 miliar,” kata Jefri di Jakarta akhir pekan lalu.
Dia menuturkan, untuk Trac, bertumbuh 6 persen secara year on year(yoy). Saat ini Trac memiliki sekitar 6.100 unit kendaraan. Di mana, sekitar 65 persennya adalah mobil Toyota, dan 60 persennya merupakan jenis MPV.
Dia menambahkan, 90 persen pelanggan berasal dari perusahaan yang bergerak di sektor perbankan, telekomunikasi, dan produk konsumsi. Untuk Mobil 88, perusahaan masih mengandalkan kendaraan yang sebelumnya digunakan Trac.
Pasalnya, pembeli lebih merasa terjamin dengan kondisi dan kualitas produk. Jefri mengatakan, dari empat unit usaha, 75–78 persen net profit marginperseroan dihasilkan oleh Trac, 16–17 persen oleh Selog, dan 2 persen oleh O-Renz Taxi. Lalu, sisanya sekitar 3 persen oleh Mobil 88. “Ke depan, kami mengejar kontribusi Selog agar bisa mencapai 20 persen,” ucapnya.
Sementara, dia mengaku, saat ini suplai kendaraan, terutama untuk jenis 4X4 mengalami shortage sejak terjadi banjir Thailand dan tsunami Jepang. Pada tahun lalu perusahaan menyediakan sekitar 4.500 unit kendaraan jenis 4x4 untuk pelanggan sektor pertambangan dan perkebunan.
Namun, tahun ini hingga semester I Sera hanya mampu menyediakan 400 unit. Padahal, segmen 4x4 merupakan produk dengan margin profitabilitas yang tinggi.
Untuk mendorong bisnis, kata dia, perusahaan melakukan sejumlah strategi, seperti memperpanjang kontrak pelanggan yang sudah ada, dan terus menjaga kondisi kendaraan. Selain itu, perusahaan juga bermain di pasar kendaraan niaga.
“Karena, pada 2020, Astra menargetkan masuk dalam Fortune 500 dan menargetkan pertumbuhan secara merata 20 persen,” ucapnya.
Khusus untuk Lebaran, bisa berkontribusi sekitar 18–20 persen terhadap total kinerja semester II. Dia menyebutkan, bisnis rental bisa tumbuh 2,5 kali lipat di semester II dibandingkan semester I.
Chief Marketing Auto 2000 Rahmat Samulo mengatakan, tren menjelang Lebaran biasanya meningkat. Namun, itu tergantung jenis mobil dan ada atau tidaknya stok. “Walau dekat Lebaran, permintaan naik, produksi kan sudah diplot,” tandasnya.
(gpr)
Lihat Juga :