Defisit neraca pembayaran masih wajar
Kamis, 09 Agustus 2012 - 09:05 WIB
Defisit neraca pembayaran masih wajar
A
A
A
Sindonews.com – Defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) sampai triwulan II/2012 yang diperkirakan semakin besar merupakan kondisi yang wajar dalam perekonomian Indonesia yang sedang meningkatkan pertumbuhan ekonomi, terutama di sisi investasi.
Pengamat ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, kondisi perekonomian sekarang ini seperti mengulang kejadian pembangunan ekonomi masa Orde Baru tahun 70-an,disaat pemerintah mendorong investasi masuk sehingga meningkatkan impor barang modal dan barang mentah dan menjadikan defisit neraca pembayaran membesar.
“Sebagian orang takut.Tetapi, ini bukan sesuatu yang aneh dalam pembangunan ekonomi sebab jika kita mendorong ekspansi dan investasi memang memerlukan barang modal dan barang mentah,dan jika itu tidak disediakan di dalam negeri, kita harus impor,” ujar Purbaya di Jakarta kemarin.
Untuk mencegah hal ini, menurut dia,pemerintah harus memiliki strategi yang tepat dengan terlebih dahulu mendeteksi kebutuhan barang modal dan barang mentah yang harus disediakan untuk kebutuhan industri dalam negeri.
Tingginya impor belakangan ini,menurut dia, terdiri atas 72 persen barang mentah, 7 persen barang konsumsi, dan 21 persen barang modal. Dengan demikian, jika pasar luar negeri jatuh, impor bahan mentah juga akan berkurang dan neraca akan positif lagi.
Pengamat ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, kondisi perekonomian sekarang ini seperti mengulang kejadian pembangunan ekonomi masa Orde Baru tahun 70-an,disaat pemerintah mendorong investasi masuk sehingga meningkatkan impor barang modal dan barang mentah dan menjadikan defisit neraca pembayaran membesar.
“Sebagian orang takut.Tetapi, ini bukan sesuatu yang aneh dalam pembangunan ekonomi sebab jika kita mendorong ekspansi dan investasi memang memerlukan barang modal dan barang mentah,dan jika itu tidak disediakan di dalam negeri, kita harus impor,” ujar Purbaya di Jakarta kemarin.
Untuk mencegah hal ini, menurut dia,pemerintah harus memiliki strategi yang tepat dengan terlebih dahulu mendeteksi kebutuhan barang modal dan barang mentah yang harus disediakan untuk kebutuhan industri dalam negeri.
Tingginya impor belakangan ini,menurut dia, terdiri atas 72 persen barang mentah, 7 persen barang konsumsi, dan 21 persen barang modal. Dengan demikian, jika pasar luar negeri jatuh, impor bahan mentah juga akan berkurang dan neraca akan positif lagi.
(and)
Lihat Juga :