Butuh sinkronisasi atasi overheating ekonomi RI
Rabu, 15 Agustus 2012 - 16:22 WIB
Butuh sinkronisasi atasi overheating ekonomi RI
A
A
A
Sindonews.com - Wakil Menteri Keuangan, Mahendra Siregar menyatakan butuh sinkronisasi dalam memahami pertumbuhan ekonomi saat ini. Apalgi kemungkinan terjadinya overheating (kepanasan) pada ekonomi karena defisit yang menimpa transaksi berjalan yang mencapai 3,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Dia mengakui dari sektor riil, sangat diharapkan peningkatan konsumsi dalam negeri, atau bisa dikatakan sebagai motor yang juga didorong dengan investasi. Sedangkan di sisi lain, menurutnya, ada implikasi terhadap neraca pembayaran dan transaksi berjalan, yang kemudian memang sering dikaitkan dengan moneter.
"ini yang sedang dilihat sinkroniasi," kata Mahendra kepada wartawan di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (15/8/2012).
Maka dari itu, lanjut Mahendra, beberapa persoalan seperti besarnya impor industri sepeda motor dan impor Bahan Bakar Minyak (BBM), bukan merupakan kesalahan utama.
Dalam mencari solusi, menurutnya dapat sekaligus dijadikan sebuah tantangan. Karena selain mengembalikan posisi ekonomi ke arah normal, hal ini juga mengubah pendalaman di sektor industri.
"Jadi kita melihatnya sebagai suatu tantangan dan juga kesempatan untuk mengubah pendalaman dari sektor industri maupun nilai tambah. Memang kalau dilihat dari neraca pembayaran ada hal-hal yang harus diwaspadai," pungkasnya.
Dia mengakui dari sektor riil, sangat diharapkan peningkatan konsumsi dalam negeri, atau bisa dikatakan sebagai motor yang juga didorong dengan investasi. Sedangkan di sisi lain, menurutnya, ada implikasi terhadap neraca pembayaran dan transaksi berjalan, yang kemudian memang sering dikaitkan dengan moneter.
"ini yang sedang dilihat sinkroniasi," kata Mahendra kepada wartawan di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (15/8/2012).
Maka dari itu, lanjut Mahendra, beberapa persoalan seperti besarnya impor industri sepeda motor dan impor Bahan Bakar Minyak (BBM), bukan merupakan kesalahan utama.
Dalam mencari solusi, menurutnya dapat sekaligus dijadikan sebuah tantangan. Karena selain mengembalikan posisi ekonomi ke arah normal, hal ini juga mengubah pendalaman di sektor industri.
"Jadi kita melihatnya sebagai suatu tantangan dan juga kesempatan untuk mengubah pendalaman dari sektor industri maupun nilai tambah. Memang kalau dilihat dari neraca pembayaran ada hal-hal yang harus diwaspadai," pungkasnya.
(gpr)
Lihat Juga :