2013, pertumbuhan ekonomi RI diprediksi stagnan
Kamis, 16 Agustus 2012 - 14:40 WIB
2013, pertumbuhan ekonomi RI diprediksi stagnan
A
A
A
Sindonews.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution memperkirakan pertumbuhan ekonomi di tahun 2013 mendatang masih akan berada pada kisaran 6,3 persen.
Darmin menjelaskan, pertumbuhan perekonomian yang cenderung stagnan tersebut dikarenakan situasi dan kondisi perekonomian global yang masih diperkirakan belum akan pulih.
"Kita masih lebih rendah walau tidak beda banyak kita 6,3 persen kalau 6,8 persen kayaknya susah karena dunia belum pulih untuk bisa mencapai 6,8 persen. Apalagi untuk Indonesia terlalu tinggi ke arah itu (6,8 persen)," ungkapnya kala ditemui usai menghadiri Pidato Kenegaraan di DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (16/8/2012).
Darmin melanjutkan bahwa Indonesia harus menyesuaikan diri untuk menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dengan laju impor. Hal ini karena jika tidak maka akan disertai dengan laju impor yang semakin besar.
"Harus agak menyesuaikan diri dan tidak terlalu bersemangat mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi karena setiap kali pertumbuhan ekonomi tinggi impornya membesar. Kali ini defisit menjadi besar karena ekspornya negatif," pungkasnya.
Darmin menjelaskan, pertumbuhan perekonomian yang cenderung stagnan tersebut dikarenakan situasi dan kondisi perekonomian global yang masih diperkirakan belum akan pulih.
"Kita masih lebih rendah walau tidak beda banyak kita 6,3 persen kalau 6,8 persen kayaknya susah karena dunia belum pulih untuk bisa mencapai 6,8 persen. Apalagi untuk Indonesia terlalu tinggi ke arah itu (6,8 persen)," ungkapnya kala ditemui usai menghadiri Pidato Kenegaraan di DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (16/8/2012).
Darmin melanjutkan bahwa Indonesia harus menyesuaikan diri untuk menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dengan laju impor. Hal ini karena jika tidak maka akan disertai dengan laju impor yang semakin besar.
"Harus agak menyesuaikan diri dan tidak terlalu bersemangat mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi karena setiap kali pertumbuhan ekonomi tinggi impornya membesar. Kali ini defisit menjadi besar karena ekspornya negatif," pungkasnya.
(gpr)
Lihat Juga :