Daya saing tangkal overheating ekonomi
Jum'at, 17 Agustus 2012 - 11:13 WIB
Daya saing tangkal overheating ekonomi
A
A
A
Sindonews.com – Pertumbuhan yang tinggi tanpa dibarengi dengan kemampuan penyediaan barang yang cukup, membawa Indonesia ke ambang overheating (kepanasan) ekonomi.
Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo mengungkapkan, gejala kepanasan perekonomian itu sudah mulai terasa. Gejala itu muncul dari ketidakmampuan industri dalam memenuhi permintaan yang sangat besar, sehingga mengakibatkan lonjakan impor dan menyebabkan neraca transaksi berjalan dan neraca pembayaran Indonesia (NPI) mengalami defisit.
“Suplai kita tidak bisa mengikuti pertumbuhan demand, itu adalah bagian dari overheating. Kalau lihat dari faktor tidak bisa suplai, itu (overheating) ada di sektor riil,” tutur Agus dalam diskusi bersama para jurnalis di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, belum lama ini.
Agus menegaskan, untuk mencegah overheating berlanjut, peningkatan daya saing produk Indonesia menjadi keharusan. Perbaikan daya saing, terutama di sektor industri, harus digenjot untuk mengimbangi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. “Dengan pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen, itu sudah menunjukkan kita mesti memperbaiki daya saing kita. Kompetitif kita ini yang kita mesti kendalikan supaya pertumbuhan ekonomi kita bisa lebih tinggi dan tidak mengakibatkan current account atau NPI melemah,”tuturnya.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), transaksi berjalan triwulan II/2012 mencatatkan defisit sebesar USD6,9 miliar (3,1 persen dari PDB), jauh lebih besar dibandingkan triwulan I/2012 yang hanya USD3,2 miliar (1,5 persen dari PDB). Defisit transaksi berjalan pada triwulan II/2012 semakin melebar dibandingkan kuartal sebelumnya, karena meningkatnya defisit pada NPI akibat semakin menipisnya surplus neraca perdagangan serta membesarnya defisit neraca jasa dan pendapatan.
Menkeu bahkan memperkirakan sampai akhir tahun transaksi berjalan akan mengalami defisit. Namun, kondisinya tidak seburuk seperti pada 1997 saat krisis moneter menghantam Indonesia. Sebagai informasi, transaksi berjalan pada 1997 mencatatkan defisit 1,2 persen dari PDB. “‘Forecast kita di triwulan III dan IV akan terkendali defisit current account. Masih defisit termasuk kumulatif satu tahun. Kita akan siapkan respons policy yang memadai dan menjaga agar tidak membesar,” tandasnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan, tingginya defisit transaksi berjalan pada triwulan II/2012 tidak bisa dilepaskan dari besarnya impor minyak dan gas (migas), terutama hasil olahan minyak.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor hasil minyak pada Juni mencapai USD2,41 miliar sedangkan ekspornya hanya USD307 juta. Impor minyak mentah mencapai USD2,43 miliar sementara ekspornya hanya USD845 juta. Selain migas, Hatta mengatakan bahwa defisit jasa pun harus menjadi perhatian.
Guna mengurangi defisit, Hatta memastikan pemerintah akan mencermati investasi, terutama yang mengandalkan impor barang baku/penolong. Pemerintah, tegas dia,akan memberi insentif pajak untuk industriyangmenghasilkanbahan baku dan bahan penolong,agar impor di sisi itu bisa dikurangi.
Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo mengungkapkan, gejala kepanasan perekonomian itu sudah mulai terasa. Gejala itu muncul dari ketidakmampuan industri dalam memenuhi permintaan yang sangat besar, sehingga mengakibatkan lonjakan impor dan menyebabkan neraca transaksi berjalan dan neraca pembayaran Indonesia (NPI) mengalami defisit.
“Suplai kita tidak bisa mengikuti pertumbuhan demand, itu adalah bagian dari overheating. Kalau lihat dari faktor tidak bisa suplai, itu (overheating) ada di sektor riil,” tutur Agus dalam diskusi bersama para jurnalis di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, belum lama ini.
Agus menegaskan, untuk mencegah overheating berlanjut, peningkatan daya saing produk Indonesia menjadi keharusan. Perbaikan daya saing, terutama di sektor industri, harus digenjot untuk mengimbangi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. “Dengan pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen, itu sudah menunjukkan kita mesti memperbaiki daya saing kita. Kompetitif kita ini yang kita mesti kendalikan supaya pertumbuhan ekonomi kita bisa lebih tinggi dan tidak mengakibatkan current account atau NPI melemah,”tuturnya.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), transaksi berjalan triwulan II/2012 mencatatkan defisit sebesar USD6,9 miliar (3,1 persen dari PDB), jauh lebih besar dibandingkan triwulan I/2012 yang hanya USD3,2 miliar (1,5 persen dari PDB). Defisit transaksi berjalan pada triwulan II/2012 semakin melebar dibandingkan kuartal sebelumnya, karena meningkatnya defisit pada NPI akibat semakin menipisnya surplus neraca perdagangan serta membesarnya defisit neraca jasa dan pendapatan.
Menkeu bahkan memperkirakan sampai akhir tahun transaksi berjalan akan mengalami defisit. Namun, kondisinya tidak seburuk seperti pada 1997 saat krisis moneter menghantam Indonesia. Sebagai informasi, transaksi berjalan pada 1997 mencatatkan defisit 1,2 persen dari PDB. “‘Forecast kita di triwulan III dan IV akan terkendali defisit current account. Masih defisit termasuk kumulatif satu tahun. Kita akan siapkan respons policy yang memadai dan menjaga agar tidak membesar,” tandasnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan, tingginya defisit transaksi berjalan pada triwulan II/2012 tidak bisa dilepaskan dari besarnya impor minyak dan gas (migas), terutama hasil olahan minyak.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor hasil minyak pada Juni mencapai USD2,41 miliar sedangkan ekspornya hanya USD307 juta. Impor minyak mentah mencapai USD2,43 miliar sementara ekspornya hanya USD845 juta. Selain migas, Hatta mengatakan bahwa defisit jasa pun harus menjadi perhatian.
Guna mengurangi defisit, Hatta memastikan pemerintah akan mencermati investasi, terutama yang mengandalkan impor barang baku/penolong. Pemerintah, tegas dia,akan memberi insentif pajak untuk industriyangmenghasilkanbahan baku dan bahan penolong,agar impor di sisi itu bisa dikurangi.
(and)
Lihat Juga :