Membagi risiko investasi

Kamis, 23 Agustus 2012 - 13:47 WIB
Membagi risiko investasi
Membagi risiko investasi
A A A

KEGIATAN
investasi selalu berkaitan dengan risiko. Hanya, dalam realitasnya banyak orang yang berinvestasi atau akan berinvestasi hanya membayangkan keuntungan yang diperoleh tanpa mempertimbangkan tingkat risiko di balik investasi yang dilakukannya.

Akibatnya, keberadaan risiko baru disadari ketika investasi itu mengalami kegagalan. Sementara, mereka yang menyadari bahwa setiap kegiatan investasi itu mengandung risiko pada umumnya malah tidak mau mengambil risiko.Akibatnya, jika mereka memiliki kelebihan dana,mereka cenderung hanya menyimpan atau mendiamkannya saja di bank dalam bentuk tabungan. Atau, jika menginginkan imbal hasil yang lebih tinggi, mereka akan menyimpannya dalam bentuk deposito.

Kecenderungan ini bisa dilihat pada data Bank Indonesia (BI). Dalam lima tahun terakhir, jumlah dana pihak ketiga(DPK) dibank umum selalu mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.Per Juni 2012 lalu, nilai DPK mencapai Rp2.955,8 triliun. Sekitar 43,9 persen dari DPK tersebut disimpan dalam bentuk deposito, 31,8 persen dalam bentuk tabungan, dan 24,3 persen dalam bentuk giro. Padahal, sampai Desember 2011 lalu, nilai DPK masih di angka Rp2.784,9 triliun dengan rincian 44,3 persen dalam bentuk deposito, 32,3 persen dalam bentuk tabungan, dan sisanya 23,4 persen dalam bentuk giro.

Data BI ini menunjukkan betapa pertumbuhan DPK di perbankan cukup tinggi. Dengan menyimak data lima tahun ke belakang, diprediksi bahwa nilai DPK pada Desember 2012 nanti akan menembus angka Rp3.000 triliun dengan komposisi terbesar masih di deposito. Tingginya pertumbuhan DPK di atas juga menunjukkan mayoritas masyarakat masih bersifat konservatif, yaitu lebih suka menyimpan dananya di tempat yang aman meski pertumbuhannya kecil daripada menginvestasikannya di lahan yang penuh risiko.

Dalam konteks seperti ini, paradigma yang menyebutkan uang selalu mencari tempat yang lebih tinggi tidaklah berlaku. Uang akan tetap stagnan atau diam di tempat jika berada pada genggaman orangorang yang konservatif, yaitu orang-orang yang tidak memiliki keberanian untuk menanggung sedikit risiko meskipun ada peluang terbuka untuk memperoleh keuntungan yang jauh lebih besar. Andai saja sebagian dana masyarakat dalam bentuk deposito itu diputar dalam kegiatan investasi portofolio yang lebih produktif, maka hal itu tentu akan sangat membantu pertumbuhan perekonomian nasional.

Butuh Keterampilan

Persoalannya,mengapa masyarakat masih banyak yang enggan memutar uangnya di pasar modal,saham,maupun obligasi? Untuk mencari jawaban yang pasti atas pertanyaan sederhana ini tentu membutuhkan riset yang mendalam karena banyak faktor yang bisa menjadi penyebabnya. Namun,logikasederhananya adalah kembali pada persoalan seberapa besar masyarakat memahami dan berani menerima risiko.

Tanpa ada keberanian dalammenghadapirisiko, mustahil orang mau memindahkan uangnyadaridepositoke pasarmodal. Dibutuhkan pengetahuan,keterampilan, dan kemampuan untuk mengelola risiko sehingga risiko dalam kegiatan investasi bisa diminimalkan. Di atas kertas, banyak yang mengetahui prinsip dasar investasi, yaitu high risk, high return.Namun, prinsip itu harus dipahami dengan cukup cerdas bahwa ada risiko di satu sisi dan ada return di sisi lain. Namun, bukan berarti setiap penambahan bobot risiko akan menghasilkan return dengan bobot yang sama.

Bukan berarti risiko yang bertambah 1 persen hanya akan menambah potensi return sebesar 1 persen. Di sinilah letak relativitas risiko. Untuk jenis risiko yang sama, belum tentu bobotnya sama bagi setiap orang. Hal ini tergantung dari kepiawaian orang tersebut dalam mengelola risiko. Dengan pemahaman itu, orang akan menyadari bahwa pemindahan dana dari deposito ke pasar modal akan diikuti oleh bertambahnya risiko.

Secara logika, bertambahnya risiko itu harus diikuti oleh bertambahnya return yang setimpal. Persoalan berikutnya bagi investor awam yang tidak atau kurang memahami pasar modal adalah seberapa besar pasar modal bisa memberikan kepastian return yang dihasilkan memang lebih tinggi dari returndeposito.Padahal hal ini tentu tidak pasti.

Membagi Risiko

Oleh karena itu, jika investor memang belum lihai dalam mengelola risiko, maka salah satu cara sederhana untuk belajar mengatasinya adalah dengan membagi risiko. Ini berbeda pengertiannya dengan menyebarkan risiko.Membagi risiko berarti ada pihak lain yang turut memikul risiko. Dalam pemahaman ini,ada istilah kerja sama, tanggung renteng, sindikasi, patungan, joint venture, pembagian komposisi saham, dan semacamnya.

Hal yang sama sebenarnya bisa diterapkan dalam investasi di pasar modal. Untuk tahap awal,investorbisasajamembentuk sindikasi, club, atau kelompok investasi yang terdiri dari tiga sampai lima orang.Dana investasi di-polling menjadi satu dan kelompok ini membuat kebijakan investasi, termasuk strategi investasi.Kebijakan investasi itu misalnya kesepakatan bahwa portofolio investasi hanya terdiri dari saham IDX30.

Tentunya keuntungan dan kerugian yang ditimbulkan dari aktivitas transaksi itu ditanggung secara proporsional sesuai dana patungan. Nah, dengan pola seperti ini, investor tidak hanya melakukan diversifikasi risiko, tetapi juga membagi risiko.

Tim BEI
(and)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
CPI Rilis Dasbor Pembiayaan...
CPI Rilis Dasbor Pembiayaan Listrik, Soroti Lonjakan Investasi EBT
Bijak Memilih, Berikut...
Bijak Memilih, Berikut Tips Aman Berinvestasi di Aset Digital
Daftar 14 Investasi...
Daftar 14 Investasi Ilegal yang Distop Satgas Waspada Investasi
Korban Dugaan Investasi...
Korban Dugaan Investasi Bodong Tanyakan Kelanjutan Kasusnya ke OJK
Penipuan Investasi Bodong...
Penipuan Investasi Bodong Dengan Kedok Investasi Beras
Thong Guan Industries...
Thong Guan Industries Bhd Investasi di KIT Batang Jawa Tengah
Berita Terkini
Prabowo Kumpulin Menteri...
Prabowo Kumpulin Menteri di Hambalang Bahas Harga Khusus BBM untuk Nelayan
7 jam yang lalu
Raih 3 Pengakuan Internasional,...
Raih 3 Pengakuan Internasional, IIF Terus Memperkuat Kapasitas Pendanaan Infrastruktur
8 jam yang lalu
S&P Pertahankan Rating...
S&P Pertahankan Rating dan Outlook Kredit Indonesia, Purbaya: Arah Kebijakan Ekonomi Terjaga
8 jam yang lalu
Danamon Prasmul EduWealth...
Danamon Prasmul EduWealth Menjawab Tren Kenaikan Biaya Pendidikan: Ekosistem Pendanaan dan Proteksi
9 jam yang lalu
Sensus Ekonomi Tak Hanya...
Sensus Ekonomi Tak Hanya Dilakukan Indonesia: Gerakan Global yang Diikuti Malaysia hingga Zimbabwe
9 jam yang lalu
Membuka Pintu Investasi...
Membuka Pintu Investasi dan Kerja Sama Selangor-Jawa Barat lewat SIBS 2026
9 jam yang lalu
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved