Pertamina catat deviasi premium saat lebaran
Selasa, 28 Agustus 2012 - 20:18 WIB
Pertamina catat deviasi premium saat lebaran
A
A
A
Sindonews.com - PT Pertamina (persero) mencatat deviasi atas prediksi pada saat arus mudik dan arus balik ketika Lebaran Idul Fitri. Sebelumnya diperkirakan kenaikan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, jenis premium hanya mencapai empat persen. Namun, pada realisasinya konsumsi malah melonjak menjadi 10 persen.
Pada level normal (rata-rata harian) konsumsi BBM premium hanya 77 ribu Kiloliter. Sedangkan realisasi arus mudik dan arus balik mampu mencapai 84 ribu KL.
Senior Vice President Fuel Marketing & Distribution Pertamina, Suhartoko mengakui tidak tepatnya prediksi Pertamina tersebut. Walaupun berdasarkan perilaku pengguna tahun sebelumnya sudah dihitung, tapi masih menyisakan beberapa alasan lain. Seperti, bertambahnya jumlah kendaraan yang dijual dan kemacetan.
"Ternyata memang meleset, mestinya mempertimbangkan jumlah kendaraan yang dijual. Kemudian semkain macet itu juga semakin butuh BBM. Tahun ini macet lebih parah dari jumlah kendaraan yang memang lebih banyak," ucapnya dalam konferensi pers di Hotel Pullman, Jakarta, Selasa (28/8/2012).
Suhartoko menilai pihaknya dapat mengatasi persoalan tersebut dari segi pasokan. Dari kemampuan terminal BBM yang sudah disediakan, menurutnya telah mengakomodir kenaikan konsumsi ini. Pada kegiatan normal, pengisian BBM ke SPBU itu hanya membutuhkan waktu 8 jam. Sehingga, kalau diperlukan pengisian dapat mencapai 300 persen. "Itu memang terbukti di terminal, nah keluar terminal menuju SPBU baru ada kendala," tambahnya.
Salah satu kendalanya, adalah kemacetan yang memang tidak terhindarkan. Walaupun ada beberapa SPBU yang terlambat pengisian, namun tidak berlangsung lama. "Pada monitoring itu tidak ada warna merah, jadi menandakan tidak ada kelangkaan stok," tutupnya.
Pada level normal (rata-rata harian) konsumsi BBM premium hanya 77 ribu Kiloliter. Sedangkan realisasi arus mudik dan arus balik mampu mencapai 84 ribu KL.
Senior Vice President Fuel Marketing & Distribution Pertamina, Suhartoko mengakui tidak tepatnya prediksi Pertamina tersebut. Walaupun berdasarkan perilaku pengguna tahun sebelumnya sudah dihitung, tapi masih menyisakan beberapa alasan lain. Seperti, bertambahnya jumlah kendaraan yang dijual dan kemacetan.
"Ternyata memang meleset, mestinya mempertimbangkan jumlah kendaraan yang dijual. Kemudian semkain macet itu juga semakin butuh BBM. Tahun ini macet lebih parah dari jumlah kendaraan yang memang lebih banyak," ucapnya dalam konferensi pers di Hotel Pullman, Jakarta, Selasa (28/8/2012).
Suhartoko menilai pihaknya dapat mengatasi persoalan tersebut dari segi pasokan. Dari kemampuan terminal BBM yang sudah disediakan, menurutnya telah mengakomodir kenaikan konsumsi ini. Pada kegiatan normal, pengisian BBM ke SPBU itu hanya membutuhkan waktu 8 jam. Sehingga, kalau diperlukan pengisian dapat mencapai 300 persen. "Itu memang terbukti di terminal, nah keluar terminal menuju SPBU baru ada kendala," tambahnya.
Salah satu kendalanya, adalah kemacetan yang memang tidak terhindarkan. Walaupun ada beberapa SPBU yang terlambat pengisian, namun tidak berlangsung lama. "Pada monitoring itu tidak ada warna merah, jadi menandakan tidak ada kelangkaan stok," tutupnya.
(gpr)
Lihat Juga :