Kadin setuju tarif listrik dinaikkan
Rabu, 29 Agustus 2012 - 07:00 WIB
Kadin setuju tarif listrik dinaikkan
A
A
A
Sindonews.com - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menilai perlunya kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL). Kenaikan TTL diperlukan lantaran subsidi yang dikucurkan untuk listrik sudah membebani anggaran.
"Rencana pemerintah menaikan TDL memang wajar, mengingat subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) sudah besar. Kalau ditambah listrik, kasian negara, cukup dibebani," ungkap Ketua Umum Kadin Suryo B Sulisto di Jakarta, Selasa 28 Agustus 2012.
Meski kenaikan TDL akan menghantam dunia usaha, baik secara langsung maupun tidak langsung. Menurutnya, kenaikan TDL yang diterapkan secara bertahap sehingga tidak terlalu membebani dunia usaha.
"Kalau kita selalu menikmati harga murah, bagaimana pemerintahnya nanti? Kan bisa mengorbankan pembiayaan infrastruktur lainnya, seperti pendidikan," jelas dia.
Dia menjelaskan, untuk mengimbangi kenaikan TTL ini, maka Kadin akan melakukan tindakan antisipasi dengan meningkatkan efisien produktivitas, dan mengganti energi listrik dengan bahan lainnya.
"Sekarang sekira 40 persen hampir memakai minyak disel atau sumber yang lainnya. Itu upaya-upaya yang harus diusahakan, dan mudah-mudahan dengan pengurangan subsidi ada pengembangan alternatif lainnya," tukas dia.
Baca ulasannya di Koran Sindo
"Rencana pemerintah menaikan TDL memang wajar, mengingat subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) sudah besar. Kalau ditambah listrik, kasian negara, cukup dibebani," ungkap Ketua Umum Kadin Suryo B Sulisto di Jakarta, Selasa 28 Agustus 2012.
Meski kenaikan TDL akan menghantam dunia usaha, baik secara langsung maupun tidak langsung. Menurutnya, kenaikan TDL yang diterapkan secara bertahap sehingga tidak terlalu membebani dunia usaha.
"Kalau kita selalu menikmati harga murah, bagaimana pemerintahnya nanti? Kan bisa mengorbankan pembiayaan infrastruktur lainnya, seperti pendidikan," jelas dia.
Dia menjelaskan, untuk mengimbangi kenaikan TTL ini, maka Kadin akan melakukan tindakan antisipasi dengan meningkatkan efisien produktivitas, dan mengganti energi listrik dengan bahan lainnya.
"Sekarang sekira 40 persen hampir memakai minyak disel atau sumber yang lainnya. Itu upaya-upaya yang harus diusahakan, dan mudah-mudahan dengan pengurangan subsidi ada pengembangan alternatif lainnya," tukas dia.
Baca ulasannya di Koran Sindo
(gpr)
Lihat Juga :