RI harus waspada agar tidak overheating
Senin, 03 September 2012 - 17:42 WIB
RI harus waspada agar tidak overheating
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Keuangan Agus Martowardojo menegaskan agar Indonesia tetap waspada. Kendati defisit, neraca perdagangan pada Juli 2012 masih cukup stabil dan aman bagi perekonomian dalam negeri.
"Kita tidak dalam overheating tapi tetap perlu waspada," kata Agus saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (3/9/2012).
Namun demikian, Agus berpendapat, penurunan defisit Juli sebesar USD 1,32 miliar dibanding bulan sebelumnya, masih sesuai dengan harapan pemerintah. Dimana, pemerintah telah mengantisipasi defisit tersebut, karena pemerintah telah berupaya mengendalikan defisit dengan berkoordinasi, sehingga besaran transaksi berjalan dan neraca perdagangan tetap terjaga.
"Sehingga, saya ingin sampaikan bahwa Indonesia tidak dalam kondisi overheating," tegas Agus lagi.
Agus menambahkan, dari sisi pertumbuhan kredit perbankan yang saat ini telah mencapai 26 persen tidak perlu dikhawatirkan. Sebab kredit tersebut lebih digunakan untuk kebutuhan investasi dan modal dan bukan untuk konsumsi.
Walaupun dengan kondisi seperti itu, Indonesia tetap perlu waspada atas neraca perdagangan dan keseimbangan transaksi berjalannya. "Sebab kredit tersebut lebih digunakan untuk kebutuhan investasi dan modal. Bukan untuk konsumsi," simpulnya.
"Kita tidak dalam overheating tapi tetap perlu waspada," kata Agus saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (3/9/2012).
Namun demikian, Agus berpendapat, penurunan defisit Juli sebesar USD 1,32 miliar dibanding bulan sebelumnya, masih sesuai dengan harapan pemerintah. Dimana, pemerintah telah mengantisipasi defisit tersebut, karena pemerintah telah berupaya mengendalikan defisit dengan berkoordinasi, sehingga besaran transaksi berjalan dan neraca perdagangan tetap terjaga.
"Sehingga, saya ingin sampaikan bahwa Indonesia tidak dalam kondisi overheating," tegas Agus lagi.
Agus menambahkan, dari sisi pertumbuhan kredit perbankan yang saat ini telah mencapai 26 persen tidak perlu dikhawatirkan. Sebab kredit tersebut lebih digunakan untuk kebutuhan investasi dan modal dan bukan untuk konsumsi.
Walaupun dengan kondisi seperti itu, Indonesia tetap perlu waspada atas neraca perdagangan dan keseimbangan transaksi berjalannya. "Sebab kredit tersebut lebih digunakan untuk kebutuhan investasi dan modal. Bukan untuk konsumsi," simpulnya.
(gpr)
Lihat Juga :