Produksi Kopi Preanger Garut capai 180 ton
Selasa, 04 September 2012 - 09:45 WIB
Produksi Kopi Preanger Garut capai 180 ton
A
A
A
Sindonews.com - Produksi Kopi Preanger di Kabupaten Garut tahun 2012 meningkat 18 kali lipat dibandingkan 2010 lalu. Kini, produksi gabah kopi yang ditanam di wilayah Perhutani KPH Garut ini mencapai 180 ton.
“Padahal pada 2010 sebelumnya, produksi kopi hanya sebanyak 10 ton saja,” kata Kepala Urusan Hukum Agraria dan Kehumasan Perhutani KPH Garut Jaenal Abidin saat ditemui di ruang kerjanya kemarin.
Penanaman komoditas Kopi Preanger sendiri dilakukan di kawasan hutan lindung wilayah Garut seluas 10 ribu hektare (ha). Jaenal optimis, produksi Kopi Preanger akan mengalami peningkatan pada tahun-tahun selanjutnnya.
“Lahan hutan lindung di Kabupaten Garut ada seluas 75 ribu ha. Untuk tanaman kopi, kami proyeksikan lahan sebanyak 20 ribu ha. Yang baru optimal sekarang baru 10 ribu ha saja, jadi masih ada sisa lahan yang dapat dikembangkan. Ini menjadi alasan kuat produksi kopi di tahun-tahun mendatang bisa mengalami peningkatan,” urainya.
Pengembangan tanaman kopi di lahan hutan lindung sendiri dimaksudkan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian hutan dari ancaman bencana longsor dan erosi. Selain itu, tanaman kopi dipercaya mampu menahan cadangan air.
“Hasil produksi Kopi Preanger dikelola 35 Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) di Garut. Oleh Perhutani, kopi-kopi ini ditampung untuk dijual kepada perusahaan Indocom di daerah Sidoarjo dengan harga jual Rp23 ribu per kgnya,” jelasnya.
“Padahal pada 2010 sebelumnya, produksi kopi hanya sebanyak 10 ton saja,” kata Kepala Urusan Hukum Agraria dan Kehumasan Perhutani KPH Garut Jaenal Abidin saat ditemui di ruang kerjanya kemarin.
Penanaman komoditas Kopi Preanger sendiri dilakukan di kawasan hutan lindung wilayah Garut seluas 10 ribu hektare (ha). Jaenal optimis, produksi Kopi Preanger akan mengalami peningkatan pada tahun-tahun selanjutnnya.
“Lahan hutan lindung di Kabupaten Garut ada seluas 75 ribu ha. Untuk tanaman kopi, kami proyeksikan lahan sebanyak 20 ribu ha. Yang baru optimal sekarang baru 10 ribu ha saja, jadi masih ada sisa lahan yang dapat dikembangkan. Ini menjadi alasan kuat produksi kopi di tahun-tahun mendatang bisa mengalami peningkatan,” urainya.
Pengembangan tanaman kopi di lahan hutan lindung sendiri dimaksudkan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian hutan dari ancaman bencana longsor dan erosi. Selain itu, tanaman kopi dipercaya mampu menahan cadangan air.
“Hasil produksi Kopi Preanger dikelola 35 Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) di Garut. Oleh Perhutani, kopi-kopi ini ditampung untuk dijual kepada perusahaan Indocom di daerah Sidoarjo dengan harga jual Rp23 ribu per kgnya,” jelasnya.
(gpr)
Lihat Juga :