Wamenkeu: Ancaman overheating tidak terlihat
Selasa, 04 September 2012 - 16:40 WIB
Wamenkeu: Ancaman overheating tidak terlihat
A
A
A
Sindonews.com - Wakil Menteri Keuangan, Mahendra Siregar memandang dari segi ekonomi makro, tidak ada ancaman overheating yang terlihat. Kendati demikian dirinya mengaku memang sempat terjadi kenaikan inflasi, sehingga memberikan kecenderungan menuju overheating.
Menurutnya, hal tersebut lebih hanya dipengaruhi sindrom selama Ramadan dimana harga-harga barang memang mengalami peningkatan. "Dari segi makro tidak terlihat, inflasi tidak terlalu tinggi. Agustus memang tinggi karena Lebaran isu daging dan kedelai, tapi masih terkendali 4,6 persen. YoY masih sesuai harapan," terang Mahendra saat ditemui wartawan di kantor Kemenko Perekonomian Jakarta, Selasa (4/9/2012).
Mahendra melanjutkan, ada dua hal utama yang harus diperhatikan dalam melihat adanya kemungkinan overheating. Pertama, kata Mahendra, adalah tingkat inflasi. "Ukuran yang paling tepat untuk overheating itu inflasi. Kalo inflasinya manageable, maka nggak gitu (tidak overheating)," ujarnya.
Kedua, apakah ada gejala bubble dalam valuasi aset, di portofolio, di properti. "Yang kita lihat memang kenaikan yang tidak terlalu luar biasa dibandingkan dengan potensi daya beli maupun juga kawasan regional," tambahnya lagi.
Lebih lanjut dirinya menjelaskan, bila kedua hal tersebut masih dalam tahap yang dapat dikendalikan, maka istilah overheating tersebut tidak tepat disandangkan bagi perekonomian Indonesia.
Dirinya memandang hal itu masih dapat dikendalikan. "Jadi saya tidak cocok tuh dengan istilah overheating. Lagi-lagi kita harus lihat gambaran besarnya. 40 persen loan (pajak) to GDP, masa overheating," Mahendra mempertanyakan.
Menurutnya, hal tersebut lebih hanya dipengaruhi sindrom selama Ramadan dimana harga-harga barang memang mengalami peningkatan. "Dari segi makro tidak terlihat, inflasi tidak terlalu tinggi. Agustus memang tinggi karena Lebaran isu daging dan kedelai, tapi masih terkendali 4,6 persen. YoY masih sesuai harapan," terang Mahendra saat ditemui wartawan di kantor Kemenko Perekonomian Jakarta, Selasa (4/9/2012).
Mahendra melanjutkan, ada dua hal utama yang harus diperhatikan dalam melihat adanya kemungkinan overheating. Pertama, kata Mahendra, adalah tingkat inflasi. "Ukuran yang paling tepat untuk overheating itu inflasi. Kalo inflasinya manageable, maka nggak gitu (tidak overheating)," ujarnya.
Kedua, apakah ada gejala bubble dalam valuasi aset, di portofolio, di properti. "Yang kita lihat memang kenaikan yang tidak terlalu luar biasa dibandingkan dengan potensi daya beli maupun juga kawasan regional," tambahnya lagi.
Lebih lanjut dirinya menjelaskan, bila kedua hal tersebut masih dalam tahap yang dapat dikendalikan, maka istilah overheating tersebut tidak tepat disandangkan bagi perekonomian Indonesia.
Dirinya memandang hal itu masih dapat dikendalikan. "Jadi saya tidak cocok tuh dengan istilah overheating. Lagi-lagi kita harus lihat gambaran besarnya. 40 persen loan (pajak) to GDP, masa overheating," Mahendra mempertanyakan.
(gpr)
Lihat Juga :