BNI klaim kuasai pasar trade finance
Kamis, 06 September 2012 - 11:25 WIB
BNI klaim kuasai pasar trade finance
A
A
A
Sindonews.com - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mengklaim menguasai pangsa pasar layanan pembiayaan transaksi internasional atau trade finance dengan pangsa 29 persen dari total volume nasional.
Pencapaian ini kemudian membuat BNI mendapatkan predikat bank yang cukup baik dari Alpha Southeast Asia sebagai bank dalam pembiayaan ekspor impor di Indonesia.
Direktur Treasury dan Financial Institutions BNI Adi Setianto mengungkapkan, hingga Juni 2012, total trade finance ekspor impor di BNI mencapai USD11,5 miliar di luar volume garansi bank lokal. Komposisinya tersalur untuk pembiayaan ekspor sebesar 35 persen dan impor sebesar 65 persen.
“Atas dasar penilaian tersebut, Alpha Southeast Asia, Institutional Investment Magazine yang berbasis di Hong Kong memberikan penghargaan BNI sebagai Best Trade Finance Bank in Indonesia 2012. Ini satu langkah maju bagi BNI,” ungkap Adi di sela-sela penandatanganan kerja sama BNI dengan Joyo Bank di Jakarta kemarin.
Menurut Adi, meski trade finance BNI masih didominasi pada pembiayaan korporasi, pembiayaan ekspor impor bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus tumbuh.
Sebagai salah satu langkah memperkuat layanan trade financedan layanan perbankan lain, BNI kembali menggandeng salah satu bank asal Jepang bernama Joyo Bank yang berasal dari Prefektur Ibaraki. Ini bukan kali pertama BNI menjalin kerja sama dengan perbankan Jepang.
Sebelumnya, BNI telah menjalin kerja sama secara bilateral dengan 14 bank regional Jepang dan juga 26 bank yang berada di bawah payung Japan Bank for International Cooperation( JBIC). “Hingga akhir tahun kami menargetkan dapat merangkul kerja sama dengan 46 bank Jepang,” tambah Adi.
Menurut Adi, jalinan kerja sama dengan perbankan Jepang ini memang layak diupayakan karena total potensi pembiayaan kepada investor Jepang di Indonesia mencapai USD48,8 miliar. Selain itu, kerja sama yang dijalin BNI dengan bank-bank regional Jepang itu sangat menguntungkan. Terlebih, BNI telah menghimpun dana pihak ketiga (DPK) senilai Rp1,35 triliun dari 196 akun perusahaan Jepang di Indonesia.
Dari total dana tersebut, 50 persen di antaranya disimpan dalam bentuk deposito, sisanya merupakan dana murah. Dalam kerja sama dengan bank-bank itu, lanjut Adi, BNI tak hanya menyediakan jasa layanan perbankan bagi investor Jepang yang menanamkan modalnya di Indonesia.
BNI juga membantu menyediakan informasi mengenai iklim investasi di Indonesia, baik berupa potensi ekonomi makro, peraturan investasi, hingga isu ketenagakerjaan, terutama yang menjadi nasabah bank Jepang.
“Kami dipilih menjadi perwakilan bank di Indonesia untuk 30 nasabah perusahaan Joyo Bank yang berada di Indonesia. Salah satu yang juga penting untuk dilakukan adalah membantu menyediakan kawasan industribagiinvestorJepangyangmenanamkan modalnya di Indonesia” ujar Adi.
Presiden Joyo Bank Kazuyoshi Terakado mengungkapkan, bekerja sama dengan bank di Indonesia merupakan salah satu tuntutan nasabahnya yang berkeinginan untuk investasi di Jepang.
Menurut dia, saat ini terdapat sekitar 30 nasabah Joyo Bank yang telah membuka perusahaan atau kantor cabang di Indonesia. “Kemungkinan dapat meningkat dua kali lipat. Salah satu nasabah terbesar Joyo adalah Hitachi,” ungkapnya.
Menurut Kazuyoshi, Indonesia dilirik oleh investor Jepang karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang berlimpah dan juga jumlah populasi yang besar.
Sebagai informasi, Joyo Bank memiliki aset mencapai 8 triliun Yen dengan DPK sebesar 7,2 triliun Yen, dan total kredit yang disalurkan sebesar 5 triliun Yen.
Pencapaian ini kemudian membuat BNI mendapatkan predikat bank yang cukup baik dari Alpha Southeast Asia sebagai bank dalam pembiayaan ekspor impor di Indonesia.
Direktur Treasury dan Financial Institutions BNI Adi Setianto mengungkapkan, hingga Juni 2012, total trade finance ekspor impor di BNI mencapai USD11,5 miliar di luar volume garansi bank lokal. Komposisinya tersalur untuk pembiayaan ekspor sebesar 35 persen dan impor sebesar 65 persen.
“Atas dasar penilaian tersebut, Alpha Southeast Asia, Institutional Investment Magazine yang berbasis di Hong Kong memberikan penghargaan BNI sebagai Best Trade Finance Bank in Indonesia 2012. Ini satu langkah maju bagi BNI,” ungkap Adi di sela-sela penandatanganan kerja sama BNI dengan Joyo Bank di Jakarta kemarin.
Menurut Adi, meski trade finance BNI masih didominasi pada pembiayaan korporasi, pembiayaan ekspor impor bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus tumbuh.
Sebagai salah satu langkah memperkuat layanan trade financedan layanan perbankan lain, BNI kembali menggandeng salah satu bank asal Jepang bernama Joyo Bank yang berasal dari Prefektur Ibaraki. Ini bukan kali pertama BNI menjalin kerja sama dengan perbankan Jepang.
Sebelumnya, BNI telah menjalin kerja sama secara bilateral dengan 14 bank regional Jepang dan juga 26 bank yang berada di bawah payung Japan Bank for International Cooperation( JBIC). “Hingga akhir tahun kami menargetkan dapat merangkul kerja sama dengan 46 bank Jepang,” tambah Adi.
Menurut Adi, jalinan kerja sama dengan perbankan Jepang ini memang layak diupayakan karena total potensi pembiayaan kepada investor Jepang di Indonesia mencapai USD48,8 miliar. Selain itu, kerja sama yang dijalin BNI dengan bank-bank regional Jepang itu sangat menguntungkan. Terlebih, BNI telah menghimpun dana pihak ketiga (DPK) senilai Rp1,35 triliun dari 196 akun perusahaan Jepang di Indonesia.
Dari total dana tersebut, 50 persen di antaranya disimpan dalam bentuk deposito, sisanya merupakan dana murah. Dalam kerja sama dengan bank-bank itu, lanjut Adi, BNI tak hanya menyediakan jasa layanan perbankan bagi investor Jepang yang menanamkan modalnya di Indonesia.
BNI juga membantu menyediakan informasi mengenai iklim investasi di Indonesia, baik berupa potensi ekonomi makro, peraturan investasi, hingga isu ketenagakerjaan, terutama yang menjadi nasabah bank Jepang.
“Kami dipilih menjadi perwakilan bank di Indonesia untuk 30 nasabah perusahaan Joyo Bank yang berada di Indonesia. Salah satu yang juga penting untuk dilakukan adalah membantu menyediakan kawasan industribagiinvestorJepangyangmenanamkan modalnya di Indonesia” ujar Adi.
Presiden Joyo Bank Kazuyoshi Terakado mengungkapkan, bekerja sama dengan bank di Indonesia merupakan salah satu tuntutan nasabahnya yang berkeinginan untuk investasi di Jepang.
Menurut dia, saat ini terdapat sekitar 30 nasabah Joyo Bank yang telah membuka perusahaan atau kantor cabang di Indonesia. “Kemungkinan dapat meningkat dua kali lipat. Salah satu nasabah terbesar Joyo adalah Hitachi,” ungkapnya.
Menurut Kazuyoshi, Indonesia dilirik oleh investor Jepang karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang berlimpah dan juga jumlah populasi yang besar.
Sebagai informasi, Joyo Bank memiliki aset mencapai 8 triliun Yen dengan DPK sebesar 7,2 triliun Yen, dan total kredit yang disalurkan sebesar 5 triliun Yen.
(gpr)
Lihat Juga :