Holcim optimistis penjualan tumbuh 15%
Jum'at, 07 September 2012 - 11:06 WIB
Holcim optimistis penjualan tumbuh 15%
A
A
A
Sindonews.com - PT Holcim Indonesia Tbk (SCMB) optimistis bisa membukukan volume penjualan di atas pasar pada akhir tahun ini, yakni 12-15 persen.
Direktur Pengembangan Strategi, Bisnis dan Inovasi Holcim Indonesia Patrick Walser mengatakan,perseroan pada tahun lalu berhasil tumbuh di atas industri. ”Market semen tahun ini diperkirakan tumbuh 12-15 persen. Tahun ini, kita ingin tumbuh sama dengan pasar,” kata dia di Jakarta Kamis 6 September 2012.
Menurutnya, volume penjualan perseroan pada semester I tahun ini naik hampir 17 persen menjadi 4,08 juta ton. Angka tersebut melampaui angka pertumbuhan pasar nasional,yang hanya meningkat 15 persen menjadi 25,9 juta ton. Sementara untuk menekan biaya yang ditanggung perseroan seiring naiknya biaya energi, Walser menyatakan, Holcim akan meningkatkan efisiensi.
Di bidang logistik, perseroan akan mengembangkan jaringan antar pulau guna menjaga pasokan kepada konsumen. Terkait pembangunan pabrik semen di Tuban, Jawa Timur dengan kapasitas 1,7 juta ton per tahun, Walser menjelaskan, baru mulai berproduksi pada awal 2013. Produksi semen dari pabrik dengan nilai investasi sebesar USD450 juta tersebut tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan di Jawa tapi juga luar Jawa.
Presiden Direktur Holcim Eamon Ginley menuturkan, naiknya kinerja keuangan perusahaan pada paruh pertama tahun ini didorong naiknya volume penjualan dan harga rata-rata, yang tumbuh 6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Kendati demikian, total beban penjualan mengalami peningkatan akibat mahalnya biaya pengadaan energi. Beban pokok penjualan perseroan meningkat sebesar 23,14 persen.
Menjadi Rp2,815 triliun dari posisi semester I tahun lalu senilai Rp2,29 triliun. Naiknya penjualan menyebabkan beban pokok penjualan meningkat menjadi Rp1,37 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp2,29 triliun.
Biaya penjualan dan distribusi juga meningkat sekitar 8,5 persen menjadi Rp358,94 miliar dari Rp330,94 miliar seiring keberhasilan perseroan menjangkau pasar yang lebih luas dan meningkatnya biaya bahan bakar dan angkutan seiring makin luasnya jaringan logistik guna memenuhi kebutuhan pelanggan.
Direktur Pengembangan Strategi, Bisnis dan Inovasi Holcim Indonesia Patrick Walser mengatakan,perseroan pada tahun lalu berhasil tumbuh di atas industri. ”Market semen tahun ini diperkirakan tumbuh 12-15 persen. Tahun ini, kita ingin tumbuh sama dengan pasar,” kata dia di Jakarta Kamis 6 September 2012.
Menurutnya, volume penjualan perseroan pada semester I tahun ini naik hampir 17 persen menjadi 4,08 juta ton. Angka tersebut melampaui angka pertumbuhan pasar nasional,yang hanya meningkat 15 persen menjadi 25,9 juta ton. Sementara untuk menekan biaya yang ditanggung perseroan seiring naiknya biaya energi, Walser menyatakan, Holcim akan meningkatkan efisiensi.
Di bidang logistik, perseroan akan mengembangkan jaringan antar pulau guna menjaga pasokan kepada konsumen. Terkait pembangunan pabrik semen di Tuban, Jawa Timur dengan kapasitas 1,7 juta ton per tahun, Walser menjelaskan, baru mulai berproduksi pada awal 2013. Produksi semen dari pabrik dengan nilai investasi sebesar USD450 juta tersebut tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan di Jawa tapi juga luar Jawa.
Presiden Direktur Holcim Eamon Ginley menuturkan, naiknya kinerja keuangan perusahaan pada paruh pertama tahun ini didorong naiknya volume penjualan dan harga rata-rata, yang tumbuh 6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Kendati demikian, total beban penjualan mengalami peningkatan akibat mahalnya biaya pengadaan energi. Beban pokok penjualan perseroan meningkat sebesar 23,14 persen.
Menjadi Rp2,815 triliun dari posisi semester I tahun lalu senilai Rp2,29 triliun. Naiknya penjualan menyebabkan beban pokok penjualan meningkat menjadi Rp1,37 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp2,29 triliun.
Biaya penjualan dan distribusi juga meningkat sekitar 8,5 persen menjadi Rp358,94 miliar dari Rp330,94 miliar seiring keberhasilan perseroan menjangkau pasar yang lebih luas dan meningkatnya biaya bahan bakar dan angkutan seiring makin luasnya jaringan logistik guna memenuhi kebutuhan pelanggan.
(gpr)
Lihat Juga :