Jepang pangkas angka pertumbuhan kuartal II/2012
Selasa, 11 September 2012 - 11:18 WIB
Jepang pangkas angka pertumbuhan kuartal II/2012
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Jepang memangkas angka pertumbuhan kuartal II/2012 akibat lemahnya ekspor karena masih tertekan krisis utang.
Turunnya proyeksi pertumbuhan tersebut memunculkan kembali kekhawatiran bahwa negara ekonomi terbesar ketiga di dunia itu sedang mengalami perlambatan akibat gejolak di hampir semua negara mitra dagangnya.
“Ekonomi diperkirakan tumbuh pada tingkat hanya 0,7 persen year on year (yoy) selama periode April-Juni atau turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 1,4 persen,” ujar Pemerintah Jepang dalam pernyataan resmi yang dirilis BBC kemarin.
Sedangkan secara kuartalan pada kuartal II/2012 diprediksi tumbuh 0,2 persen, lebih rendah dari angka perkiraan sebelumnya 0,3 persen.
Kepala ekonom Japan Research Institute Hideki Matsumura memaparkan, perlambatan ekonomi Jepang telah terlihat sehingga eksportir menghadapi lingkungan yang sulit.Hal serupa terjadi di sektor automotif yang juga melambat karena berakhirnya insentif dari pemerintah.
“Saya khawatir kita akan melihat lebih banyak data ekonomi yang negatif dari sekarang. Tidak mengherankan jika produk domestik bruto (PDB) Jepang menyusut akhir tahun ini,” ungkapnya.
Sementara, Martin Schulz, analis senior Fujitsu Research Institute mengutarakan, pemotongan angka pertumbuhan merupakan revisi yang signifikan. Hal itu menunjukkan bahwa produksi secara keseluruhan dan investasi di Jepang lebih rendah dari perkiraan pemerintah sebelumnya. “Akibatnya, perekonomian melambat lebih cepat dari yang diprediksi,” tutur dia.
Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Jepang telah dipengaruhi oleh faktor internasional dan dalam negeri.Sektor ekspor sebagai salah satu pendorong terbesar pertumbuhan untuk Negeri Sakura, telah terhantam oleh melemahnya permintaan dari pasar-pasar utama seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa.
Pada saat yang sama, pertumbuhan di negara-negara Asia seperti China dan India -di mana ekonominya lebih baik dari negara Barat setelah krisis keuangan global pada 2008 lalu– juga telah melambat sehingga mengganggu ekspor Negeri Sakura.
Analis mengatakan bahwa melemahnya ekspor telah berdampak terhadap investasi perusahaan dan menghambat pertumbuhan. “Asia khususnya China merupakan pasar yang paling penting bagi Jepang saat ini namun perlambatan di sana memiliki dampak negatif. Tidak hanya pada pertumbuhan Tokyo tetapi juga pada sentimen bisnis dan investasi perusahaan di negara tersebut,” tegas Schulz.
Selain itu, ada juga faktor lain yang memperburuk keadaan yakni permintaan dalam negeri di Jepang yang juga tidak mengalami peningkatan untuk mengimbangi penurunan penjualan asing. Schulz memperingatkan, pertumbuhan Jepang kemungkinan berubah menjadi negatif pada kuartal ini.
AFP melaporkan, Pemerintah Jepang sebelumnya telah mengambil serangkaian kebijakan untuk memicu pertumbuhan. Termasuk insentif untuk menghemat bahan bakar dan langkah-langkah guna membangun kembali wilayah utara yang dilanda gempa dan tsunami Maret tahun lalu.
Menteri Tewas
Di bagian lain, diberitakan NHK, Menteri Jasa Keuangan Jepang Tadahiro Matsushita meninggal dunia di kediamannya kemarin. Pria berusia 73 tahun itu diduga akibat bunuh diri. Menurut NHK, Matsushita, menteri negara yang bertanggung jawab dalam reformasi pada kabinet Perdana Menteri (PM) Yoshihiko Noda, ditemukan terjatuh di rumahnya di Tokyo dan dikonfirmasi meninggal di rumah sakit tidak lama sesudahnya.
Sedangkan, kantor berita Kyododan Jiji Press yang mengutip sumber-sumber kepolisian melaporkan bahwa kemungkinan meninggalnya Matsushita merupakan bunuh diri.
Namun, polisi belum menjelaskan secara detil motif apa yang menyebabkan pejabat tersebut melakukan bunuh diri. “Saya sangat terkejut dengan berita tragis ini.Saya tidak tahu apa yang akan saya katakan,” kata PM Jepang Yoshihiko Noda dikutip Jiji Press kemarin.
Sebelum menjabat menteri,Matsushita adalah politikus yang mulai duduk di Majelis Rendah pada 1993 melalui kendaraan politik Partai Liberal Demokrat.
Turunnya proyeksi pertumbuhan tersebut memunculkan kembali kekhawatiran bahwa negara ekonomi terbesar ketiga di dunia itu sedang mengalami perlambatan akibat gejolak di hampir semua negara mitra dagangnya.
“Ekonomi diperkirakan tumbuh pada tingkat hanya 0,7 persen year on year (yoy) selama periode April-Juni atau turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 1,4 persen,” ujar Pemerintah Jepang dalam pernyataan resmi yang dirilis BBC kemarin.
Sedangkan secara kuartalan pada kuartal II/2012 diprediksi tumbuh 0,2 persen, lebih rendah dari angka perkiraan sebelumnya 0,3 persen.
Kepala ekonom Japan Research Institute Hideki Matsumura memaparkan, perlambatan ekonomi Jepang telah terlihat sehingga eksportir menghadapi lingkungan yang sulit.Hal serupa terjadi di sektor automotif yang juga melambat karena berakhirnya insentif dari pemerintah.
“Saya khawatir kita akan melihat lebih banyak data ekonomi yang negatif dari sekarang. Tidak mengherankan jika produk domestik bruto (PDB) Jepang menyusut akhir tahun ini,” ungkapnya.
Sementara, Martin Schulz, analis senior Fujitsu Research Institute mengutarakan, pemotongan angka pertumbuhan merupakan revisi yang signifikan. Hal itu menunjukkan bahwa produksi secara keseluruhan dan investasi di Jepang lebih rendah dari perkiraan pemerintah sebelumnya. “Akibatnya, perekonomian melambat lebih cepat dari yang diprediksi,” tutur dia.
Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Jepang telah dipengaruhi oleh faktor internasional dan dalam negeri.Sektor ekspor sebagai salah satu pendorong terbesar pertumbuhan untuk Negeri Sakura, telah terhantam oleh melemahnya permintaan dari pasar-pasar utama seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa.
Pada saat yang sama, pertumbuhan di negara-negara Asia seperti China dan India -di mana ekonominya lebih baik dari negara Barat setelah krisis keuangan global pada 2008 lalu– juga telah melambat sehingga mengganggu ekspor Negeri Sakura.
Analis mengatakan bahwa melemahnya ekspor telah berdampak terhadap investasi perusahaan dan menghambat pertumbuhan. “Asia khususnya China merupakan pasar yang paling penting bagi Jepang saat ini namun perlambatan di sana memiliki dampak negatif. Tidak hanya pada pertumbuhan Tokyo tetapi juga pada sentimen bisnis dan investasi perusahaan di negara tersebut,” tegas Schulz.
Selain itu, ada juga faktor lain yang memperburuk keadaan yakni permintaan dalam negeri di Jepang yang juga tidak mengalami peningkatan untuk mengimbangi penurunan penjualan asing. Schulz memperingatkan, pertumbuhan Jepang kemungkinan berubah menjadi negatif pada kuartal ini.
AFP melaporkan, Pemerintah Jepang sebelumnya telah mengambil serangkaian kebijakan untuk memicu pertumbuhan. Termasuk insentif untuk menghemat bahan bakar dan langkah-langkah guna membangun kembali wilayah utara yang dilanda gempa dan tsunami Maret tahun lalu.
Menteri Tewas
Di bagian lain, diberitakan NHK, Menteri Jasa Keuangan Jepang Tadahiro Matsushita meninggal dunia di kediamannya kemarin. Pria berusia 73 tahun itu diduga akibat bunuh diri. Menurut NHK, Matsushita, menteri negara yang bertanggung jawab dalam reformasi pada kabinet Perdana Menteri (PM) Yoshihiko Noda, ditemukan terjatuh di rumahnya di Tokyo dan dikonfirmasi meninggal di rumah sakit tidak lama sesudahnya.
Sedangkan, kantor berita Kyododan Jiji Press yang mengutip sumber-sumber kepolisian melaporkan bahwa kemungkinan meninggalnya Matsushita merupakan bunuh diri.
Namun, polisi belum menjelaskan secara detil motif apa yang menyebabkan pejabat tersebut melakukan bunuh diri. “Saya sangat terkejut dengan berita tragis ini.Saya tidak tahu apa yang akan saya katakan,” kata PM Jepang Yoshihiko Noda dikutip Jiji Press kemarin.
Sebelum menjabat menteri,Matsushita adalah politikus yang mulai duduk di Majelis Rendah pada 1993 melalui kendaraan politik Partai Liberal Demokrat.
(gpr)
Lihat Juga :