Inflasi terkendali, BI Rate ditahan
Jum'at, 14 September 2012 - 10:29 WIB
Inflasi terkendali, BI Rate ditahan
A
A
A
Sindonews.com - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen. Namun, bank sentral tetap mewaspadai Neraca Pembayaran Indonesia (NPI).
Direktur Eksekutif Kepala Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI Dody Budi Waluyo mengatakan, BI menilai tingkat suku bunga tersebut dipandang masih konsisten dengan tekanan inflasi yang rendah dan terkendali sesuai dengan sasaran inflasi 2012 dan 2013, yaitu 4,5 persen plus minus 1 persen. RDG BI memandang bahwa keseimbangan eksternal sejauh ini menunjukkan defisit transaksi berjalan pada triwulan III/2012 mengalami perbaikan seperti yang diperkirakan sebelumnya.
Selain itu kinerja perekonomian domestik masih tetap sejalan dengan kapasitas ekonomi.” Dalam triwulan III/2012 masih tetap kuat didukung tingginya konsumsi dan investasi,” kata Dody dalam keterangannya di Jakarta, kemarin. Dia mengatakan, sesuai perkiraan, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III/2012 mengalami perbaikan walaupun tetap perlu diwaspadai.
Defisit transaksi berjalan diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan triwulan II/2012.Hal itu terindikasi dari mulai membaiknya neraca perdagangan pada Juli 2012.Di sisi lain, defisit transaksi berjalan dapat diimbangi oleh surplus transaksi modal dan finansial yang diprakirakan meningkat, terutama FDI (foreign direct investment).
Sementara, cadangan devisa hingga akhir Agustus 2012 sedikit meningkat dibandingkan posisi akhir bulan sebelumnya, yaitu USD109 miliar atau setara 5,9 bulan impor. BI juga menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah pada Agustus 2012 masih berlanjut namun dengan intensitas yang menurun. Rupiah secara point-to-point melemah 0,94 persen (mont to month) ke level Rp9.535 per dolar AS atau secara rata-rata melemah 0,63 persen menjadi Rp9.493 per dolar AS.
”Untuk itu, BI terus mencermati keseimbangan di pasar valuta asing untuk mengarahkan pergerakan nilai tukar rupiah sejalan dengan fundamentalnya,” ujarnya.
Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM Tony Prasetiantono menilai, yang bisa dilakukan BI adalah menahan BI Rate. Tony mengamati ada beberapa alasan mengapa BI tetap menahan BI Rate.
Pertama,Tony melihat kondisi inflasi saat ini secara setahunan baru mencapai level 4,56 persen dan diperkirakan menyentuh level 5 persen di akhir tahun. Jika merujuk kondisi inflasi saja, kata Tony, sebenarnya ada peluang BI Rate diturunkan menjadi 5,5 persen. Seperti diketahui, BPS mencatat inflasi pada Agustus 2012 berada pada kisaran 0,95 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi ketimbang inflasi Juli sebesar 0,70 persen.
Sementara pada kalender 2012 inflasi di kisaran 3,48 persen, secara year on year (yoy) berada di kisaran 4,58 persen. Sedangkan komponen inti inflasi yang sebesar 0,97 persen, secara yoy sebesar 4,16 persen. ”Kondisi rupiah cenderung melemah di level Rp9.600 per dolar AS, maka memang sebaiknya BI Rateditahan di level 5,75 persen,” ujar Tony melalui pesan elektroniknya.
Chief Economist BNI Ryan Kiryanto menuturkan, puncak inflasi sudah lewat di Agustus yang lalu, sehingga BI tidak harus menaikkan BI Rate maupun suku bunga FasBI (suku bunga batas bawah operasi moneter) yang berfungsi untuk menyerap ekses likuiditas. Alasannya, perbankan harus tetap ekspansi ke sektor riil ataupun sektor produktif.
Menurut Ryan, defisit transaksi berjalan menjadi tanggung jawab pemerintah untuk mengendalikannya, di mana ekspor harus dipacu, sedangkan impor direm. Sementara, Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti mengatakan, tekanan terhadap nilai tukar rupiah selama semester I dan ke depan lebih disebabkan oleh faktor eksternal atau tekanan global. Tekanan terhadap rupiah akan tetap terjadi meskipun perekonomian dalam kondisi baik.
”Bahkan jika di negara kita tidak terjadi apa-apa dan di global baru bergejolak, maka akan timbul terhadap tekanan di rupiah dan pasar saham. Setiap kali ada gejolak kita pasti kena,” tutur Destry dalam acara Macroeconomic Outlook Bank Mandiri Group, di Jakarta, kemarin. Destry menambahkan, tekanan rupiah juga akan terus terjadi karena investasi tinggi di Indonesia yang sangat menggantungkan diri pada impor, terutama impor barang baku/ penolong serta barang modal.
Dia memperkirakan, impor Indonesia pada semester II memang akan menurun tetapi tidak terlalu tajam. Sebaliknya, ekspor memang naik tetapi kenaikannya tidak cepat sehingga belum cukup untuk mengerek nilai tukar. (mai)
Direktur Eksekutif Kepala Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI Dody Budi Waluyo mengatakan, BI menilai tingkat suku bunga tersebut dipandang masih konsisten dengan tekanan inflasi yang rendah dan terkendali sesuai dengan sasaran inflasi 2012 dan 2013, yaitu 4,5 persen plus minus 1 persen. RDG BI memandang bahwa keseimbangan eksternal sejauh ini menunjukkan defisit transaksi berjalan pada triwulan III/2012 mengalami perbaikan seperti yang diperkirakan sebelumnya.
Selain itu kinerja perekonomian domestik masih tetap sejalan dengan kapasitas ekonomi.” Dalam triwulan III/2012 masih tetap kuat didukung tingginya konsumsi dan investasi,” kata Dody dalam keterangannya di Jakarta, kemarin. Dia mengatakan, sesuai perkiraan, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III/2012 mengalami perbaikan walaupun tetap perlu diwaspadai.
Defisit transaksi berjalan diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan triwulan II/2012.Hal itu terindikasi dari mulai membaiknya neraca perdagangan pada Juli 2012.Di sisi lain, defisit transaksi berjalan dapat diimbangi oleh surplus transaksi modal dan finansial yang diprakirakan meningkat, terutama FDI (foreign direct investment).
Sementara, cadangan devisa hingga akhir Agustus 2012 sedikit meningkat dibandingkan posisi akhir bulan sebelumnya, yaitu USD109 miliar atau setara 5,9 bulan impor. BI juga menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah pada Agustus 2012 masih berlanjut namun dengan intensitas yang menurun. Rupiah secara point-to-point melemah 0,94 persen (mont to month) ke level Rp9.535 per dolar AS atau secara rata-rata melemah 0,63 persen menjadi Rp9.493 per dolar AS.
”Untuk itu, BI terus mencermati keseimbangan di pasar valuta asing untuk mengarahkan pergerakan nilai tukar rupiah sejalan dengan fundamentalnya,” ujarnya.
Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM Tony Prasetiantono menilai, yang bisa dilakukan BI adalah menahan BI Rate. Tony mengamati ada beberapa alasan mengapa BI tetap menahan BI Rate.
Pertama,Tony melihat kondisi inflasi saat ini secara setahunan baru mencapai level 4,56 persen dan diperkirakan menyentuh level 5 persen di akhir tahun. Jika merujuk kondisi inflasi saja, kata Tony, sebenarnya ada peluang BI Rate diturunkan menjadi 5,5 persen. Seperti diketahui, BPS mencatat inflasi pada Agustus 2012 berada pada kisaran 0,95 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi ketimbang inflasi Juli sebesar 0,70 persen.
Sementara pada kalender 2012 inflasi di kisaran 3,48 persen, secara year on year (yoy) berada di kisaran 4,58 persen. Sedangkan komponen inti inflasi yang sebesar 0,97 persen, secara yoy sebesar 4,16 persen. ”Kondisi rupiah cenderung melemah di level Rp9.600 per dolar AS, maka memang sebaiknya BI Rateditahan di level 5,75 persen,” ujar Tony melalui pesan elektroniknya.
Chief Economist BNI Ryan Kiryanto menuturkan, puncak inflasi sudah lewat di Agustus yang lalu, sehingga BI tidak harus menaikkan BI Rate maupun suku bunga FasBI (suku bunga batas bawah operasi moneter) yang berfungsi untuk menyerap ekses likuiditas. Alasannya, perbankan harus tetap ekspansi ke sektor riil ataupun sektor produktif.
Menurut Ryan, defisit transaksi berjalan menjadi tanggung jawab pemerintah untuk mengendalikannya, di mana ekspor harus dipacu, sedangkan impor direm. Sementara, Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti mengatakan, tekanan terhadap nilai tukar rupiah selama semester I dan ke depan lebih disebabkan oleh faktor eksternal atau tekanan global. Tekanan terhadap rupiah akan tetap terjadi meskipun perekonomian dalam kondisi baik.
”Bahkan jika di negara kita tidak terjadi apa-apa dan di global baru bergejolak, maka akan timbul terhadap tekanan di rupiah dan pasar saham. Setiap kali ada gejolak kita pasti kena,” tutur Destry dalam acara Macroeconomic Outlook Bank Mandiri Group, di Jakarta, kemarin. Destry menambahkan, tekanan rupiah juga akan terus terjadi karena investasi tinggi di Indonesia yang sangat menggantungkan diri pada impor, terutama impor barang baku/ penolong serta barang modal.
Dia memperkirakan, impor Indonesia pada semester II memang akan menurun tetapi tidak terlalu tajam. Sebaliknya, ekspor memang naik tetapi kenaikannya tidak cepat sehingga belum cukup untuk mengerek nilai tukar. (mai)
(gpr)
Lihat Juga :