BI : Stimulus The Fed kecil, tapi berpengaruh
Jum'at, 14 September 2012 - 16:32 WIB
BI : Stimulus The Fed kecil, tapi berpengaruh
A
A
A
Sindonews.com - Bank Indonesia menilai langkah Bank Sentral Amerika The Fed untuk memberikan stimulus Quantitatif Easing (QE3) tidak terlalau besar jika dibandingkan dengan QE1 dan QE2.
"QE3 tidak banyak begitu, USD40 miliar, QE1 dan QE2 lebih banyak dari itu," kata Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di Gedung BI Jakarta, Jumat (14/9/2012).
Meskipun demikian, menurutnya akan membawa dampak yang positif bagi perekonomian dunia, terutama dari sisi likuiditas yang akan terus bertambah, sehingga tekanan dunia terhadap ketersediaan likuiditas dolar akan sedikit melemah. "Nah, sekarang persoalaanya tinggal bagaimana kekuatan ekonomi di masing-masing negeranya," jelasnya.
Darmin mengatakan, sistem perekonomian di Indonesia masih cukup bagus, terutama dari sisi modal, hal ini ditunjukkan dari sejumlah indikator, di antaranya baiknya sistem perekonomian dalam negeri, kecilnya angka inflasi dan rendahnya defisit fiskal. Hal ini memungkinkan untuk menarik uang dari luar negeri.
Akan tetapi, Darmin mengingatkan bahwa dari sisi keseimbangan eksternal kondisi Indonesia tidak relatif baik, hal ini dipicu adanya defisit di transaksi berjalan sebesar 3,1 persen dari PDB. Sehingga hal tersebut akan berdampak pada fluktuasinya nilai tukar.
"Sekarang situasinya bagi Bank Indonesia kita memilih melakukan koordinasi yang lebih erat dengan pemerintah karena mengatasi defisit transaksi berjalan," pungkasnya.
"QE3 tidak banyak begitu, USD40 miliar, QE1 dan QE2 lebih banyak dari itu," kata Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di Gedung BI Jakarta, Jumat (14/9/2012).
Meskipun demikian, menurutnya akan membawa dampak yang positif bagi perekonomian dunia, terutama dari sisi likuiditas yang akan terus bertambah, sehingga tekanan dunia terhadap ketersediaan likuiditas dolar akan sedikit melemah. "Nah, sekarang persoalaanya tinggal bagaimana kekuatan ekonomi di masing-masing negeranya," jelasnya.
Darmin mengatakan, sistem perekonomian di Indonesia masih cukup bagus, terutama dari sisi modal, hal ini ditunjukkan dari sejumlah indikator, di antaranya baiknya sistem perekonomian dalam negeri, kecilnya angka inflasi dan rendahnya defisit fiskal. Hal ini memungkinkan untuk menarik uang dari luar negeri.
Akan tetapi, Darmin mengingatkan bahwa dari sisi keseimbangan eksternal kondisi Indonesia tidak relatif baik, hal ini dipicu adanya defisit di transaksi berjalan sebesar 3,1 persen dari PDB. Sehingga hal tersebut akan berdampak pada fluktuasinya nilai tukar.
"Sekarang situasinya bagi Bank Indonesia kita memilih melakukan koordinasi yang lebih erat dengan pemerintah karena mengatasi defisit transaksi berjalan," pungkasnya.
(gpr)
Lihat Juga :