Isu BBM dan TDL turut lemahkan rupiah
Rabu, 19 September 2012 - 17:40 WIB
Isu BBM dan TDL turut lemahkan rupiah
A
A
A
Sindonews.com - Penutupan perdagangan hari ini Rupiah tercatat melemah ke level 9.530/9.545 per USD setelah kemarin, Selasa (18/9/2012) rupiah ditutup di level 9.495/9.499.
Pengamat Valas, Rahadyo Anggoro Widagdo memandang, penurunan tersebut dikarenakan kekhawatiran pelaku pasar yang kembali datang akibat terpaan krisis di Spanyol.
"Pelemahan dipicu oleh kembali khawatirnya pelaku pasar terhadap krisis ekonomi di Spanyol. Kondisi itu mendorong investor melakukan profit taking," terang Anggoro kepada Sindonews, Rabu (19/9/2012).
Dari dalam negeri sendiri, kata Anggoro, isu ekonomi berasal terkait penambahan kuota BBM subsidi turut mempengaruhi pelemahan tersebut.
Komisi VII DPR menyetujui tambahan kuota bahan bakar minyak (BBM) untuk 2012 sebesar 4,04 juta kiloliter menjadi 44,04 juta kiloliter. DPR juga menyetujui pemerintah menaikkan tarif tenaga listrik (TTL) 15 persen pada 2013 secara bertahap (kuartalan).
Tambahan kuota ini pun dipastikan menambah defisit APBN-P 2012 yang semula ditargetkan sebesar 2,23 persen dari PDB. Kenaikan tarif tersebut juga menekan kebutuhan subsidi tahun berjalan menjadi Rp78,63 triliun, dibanding Rp93,52 triliun jika tidak ada kenaikan. (mai)
Pengamat Valas, Rahadyo Anggoro Widagdo memandang, penurunan tersebut dikarenakan kekhawatiran pelaku pasar yang kembali datang akibat terpaan krisis di Spanyol.
"Pelemahan dipicu oleh kembali khawatirnya pelaku pasar terhadap krisis ekonomi di Spanyol. Kondisi itu mendorong investor melakukan profit taking," terang Anggoro kepada Sindonews, Rabu (19/9/2012).
Dari dalam negeri sendiri, kata Anggoro, isu ekonomi berasal terkait penambahan kuota BBM subsidi turut mempengaruhi pelemahan tersebut.
Komisi VII DPR menyetujui tambahan kuota bahan bakar minyak (BBM) untuk 2012 sebesar 4,04 juta kiloliter menjadi 44,04 juta kiloliter. DPR juga menyetujui pemerintah menaikkan tarif tenaga listrik (TTL) 15 persen pada 2013 secara bertahap (kuartalan).
Tambahan kuota ini pun dipastikan menambah defisit APBN-P 2012 yang semula ditargetkan sebesar 2,23 persen dari PDB. Kenaikan tarif tersebut juga menekan kebutuhan subsidi tahun berjalan menjadi Rp78,63 triliun, dibanding Rp93,52 triliun jika tidak ada kenaikan. (mai)
(gpr)