Bank Sentral Jepang ikuti langkah Eropa dan AS
Kamis, 20 September 2012 - 12:09 WIB
Bank Sentral Jepang ikuti langkah Eropa dan AS
A
A
A
Sindonews.com - Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) kemarin mengumumkan stimulus baru berupa pembelian obligasi senilai 10 triliun yen (USD128 miliar) untuk meningkatkan perekonomian.
Langkah tersebut mengikuti program pelonggaran moneter yang sebelumnya dilakukan otoritas bank sentral di Eropa dan Amerika Serikat (AS).Dalam skema itu, BoJ mengalokasikan dana 5 triliun yen untuk membeli surat utang jangka panjang hingga akhir 2013. Sisanya, akan dibelanjakan untuk obligasi bertenor pendek dengan periode pembelian hingga Juni tahun depan.
Seperti diketahui, awal bulan ini Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) mengumumkan pembelian obligasi tidak terbatas untuk mencegah tingginya biaya pinjaman.
Sementara, Amerika Serikat (AS) pekan lalu mengalokasikan dana USD40 miliar untuk menyerap surat utang berbasis kredit perumahan guna menggenjot pertumbuhan. Selain menyediakan dana dalam jumlah besar, BoJ juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di rekor terendah 0-0,1%.
Keputusan ini membuat nilai tukar yen jatuh terhadap dolar dan euro, sedangkan indeks bursa Nikkei melonjak ke tingkat tertinggi dalam empat bulan.Di bursa utama Asia lainnya, seperti Hong Kong,indeks naik 1,16%, Sanghai menguat 0,4%,dan Sydney naik 0,54%.
Di pasar valuta asing, dolar AS diperdagangkan di kisaran 79,11 yen, naik dari 78,65 yen sebelum pengumuman BoJ. Sekadar perbandingan, pada Selasa (18/9) dolar berada di posisi 78,80 yen. Dalam skema program stimulus lanjutan ini, BoJ berharap bisa menyediakan likuiditas di pasar sehingga mampu memfasilitasi perbankan yang membeli obligasi dan surat berharga lainnya dari pemerintah dan korporasi.
Dengan program terbaru ini, BoJ total telah menggelontorkan dana 80 triliun yen untuk membangkitkan perekonomiannya pascabencana gempa dan tsunami serta krisis utang Eropa dan AS.
Menteri Keuangan Jun Azumi menyambut baik keputusan BoJ. Dia mengatakan bahwa bank sentral telah mengambil tindakan yang lebih dari yang diharapkan. “Itu akan membantu mendukung perekonomian,” kata Azumi dikutip AFP kemarin.
Dalam pernyataannya, BoJ memperingatkan bahwa kenaikan beberapa indikator ekonomi telah mengalami perlambatan sementara akibat perlambatan di pasar luar negeri.
Menurut BoJ, saat ini masih ada ketidakpastian dalam level cukup tinggi dalam perekonomian global di Eropa maupun di AS. “Kita harus memberikan perhatian pada perkembangan di pasar keuangan global di tengah masalah utang Eropa yang telah berlangsung lama,” ujar BoJ.
Ekonom UBS Daiju Aoki mengatakan, BoJ telah mengambil keputusan dalam saat yang cukup mengejutkan karena di luar perkiraan sebelumnya. Para pelaku pasar memprediksi, BoJ baru akan bertindak lebih jauh pada bulan Oktober berbarengan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi.
Sementara, Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (Fed) berkomitmen meningkatkan pertumbuhan ekonomi Paman Sam. Gubernur Bank Sentral New York (New York Federal Reserve) William Dudley mengatakan, para pejabat bank sentral telah bersedia untuk mempercepat laju pemulihan ekonomi di Paman Sam.
Langkah tersebut mengikuti program pelonggaran moneter yang sebelumnya dilakukan otoritas bank sentral di Eropa dan Amerika Serikat (AS).Dalam skema itu, BoJ mengalokasikan dana 5 triliun yen untuk membeli surat utang jangka panjang hingga akhir 2013. Sisanya, akan dibelanjakan untuk obligasi bertenor pendek dengan periode pembelian hingga Juni tahun depan.
Seperti diketahui, awal bulan ini Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) mengumumkan pembelian obligasi tidak terbatas untuk mencegah tingginya biaya pinjaman.
Sementara, Amerika Serikat (AS) pekan lalu mengalokasikan dana USD40 miliar untuk menyerap surat utang berbasis kredit perumahan guna menggenjot pertumbuhan. Selain menyediakan dana dalam jumlah besar, BoJ juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di rekor terendah 0-0,1%.
Keputusan ini membuat nilai tukar yen jatuh terhadap dolar dan euro, sedangkan indeks bursa Nikkei melonjak ke tingkat tertinggi dalam empat bulan.Di bursa utama Asia lainnya, seperti Hong Kong,indeks naik 1,16%, Sanghai menguat 0,4%,dan Sydney naik 0,54%.
Di pasar valuta asing, dolar AS diperdagangkan di kisaran 79,11 yen, naik dari 78,65 yen sebelum pengumuman BoJ. Sekadar perbandingan, pada Selasa (18/9) dolar berada di posisi 78,80 yen. Dalam skema program stimulus lanjutan ini, BoJ berharap bisa menyediakan likuiditas di pasar sehingga mampu memfasilitasi perbankan yang membeli obligasi dan surat berharga lainnya dari pemerintah dan korporasi.
Dengan program terbaru ini, BoJ total telah menggelontorkan dana 80 triliun yen untuk membangkitkan perekonomiannya pascabencana gempa dan tsunami serta krisis utang Eropa dan AS.
Menteri Keuangan Jun Azumi menyambut baik keputusan BoJ. Dia mengatakan bahwa bank sentral telah mengambil tindakan yang lebih dari yang diharapkan. “Itu akan membantu mendukung perekonomian,” kata Azumi dikutip AFP kemarin.
Dalam pernyataannya, BoJ memperingatkan bahwa kenaikan beberapa indikator ekonomi telah mengalami perlambatan sementara akibat perlambatan di pasar luar negeri.
Menurut BoJ, saat ini masih ada ketidakpastian dalam level cukup tinggi dalam perekonomian global di Eropa maupun di AS. “Kita harus memberikan perhatian pada perkembangan di pasar keuangan global di tengah masalah utang Eropa yang telah berlangsung lama,” ujar BoJ.
Ekonom UBS Daiju Aoki mengatakan, BoJ telah mengambil keputusan dalam saat yang cukup mengejutkan karena di luar perkiraan sebelumnya. Para pelaku pasar memprediksi, BoJ baru akan bertindak lebih jauh pada bulan Oktober berbarengan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi.
Sementara, Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (Fed) berkomitmen meningkatkan pertumbuhan ekonomi Paman Sam. Gubernur Bank Sentral New York (New York Federal Reserve) William Dudley mengatakan, para pejabat bank sentral telah bersedia untuk mempercepat laju pemulihan ekonomi di Paman Sam.
(gpr)
Lihat Juga :