Sektor manufaktur perlu diperkuat

Jum'at, 21 September 2012 - 10:52 WIB
Sektor manufaktur perlu...
Sektor manufaktur perlu diperkuat
A A A
Sindonews.com - Pemerintah optimistis perekonomian Indonesia bisa menjadi yang terbesar ketujuh di dunia pada 2030 seperti yang diproyeksikan McKinsey Global Institute (MGI). Namun, untuk mencapainya, Indonesia harus konsisten memperkuat pembangunan industri manufaktur.

Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan mengatakan, selain memperkuat pembangunan industri manufaktur, Indonesia harus bisa memastikan perekonomian tumbuh 5–6 persen per tahun.

Jika itu terjadi, tegasnya, maka pada 2030 Indonesia memang akan menduduki peringkat tujuh ekonomi terbesar dunia. “Dan, saya rasa kita punya bekal untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 5–6 persen per tahun itu,” kata Mendag di Jakarta kemarin.

Menurut Gita, langkah memacu pertumbuhan ekonomi harus dibarengi upaya memperkuat pembangunan industri manufaktur. Termasuk, harus meningkatkan nilai tambah (value added) dari sektor tersebut. Melalui itu, Indonesia berpotensi menjadi basis industri regional dan global.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil pada triwulan II/2012 meningkat 2,11 persen dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, jika dibandingkan dengan triwulan I/2012, produksi industri manufaktur mikro dan kecil justru mengalami penurunan 3,35 persen.

Sementara, jenis industri yang mengalami pertumbuhan produksi tertinggi pada triwulan II/2012 adalah alat angkutan yang naik 11,44 persen, industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki yang naik 9,35 persen serta industri percetakan dan reproduksi media rekaman yang naik 6,5 persen.

“Pendorong pertumbuhan sektor industri manufaktur Indonesia adalah peningkatan impor bahan modal yang mencapai 20,10 persen sehingga menyebabkan peningkatan produksi industri manufaktur,” kata Kepala BPS Suryamin beberapa waktu lalu.

BPS juga mencatat, beberapa sektor yang memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada triwulan II/2012 adalah sektor pertambangan, dengan kontribusi sebesar 12,1 persen, sektor jasa-jasa sebesar 11 persen, sektor konstruksi sebesar 10,3 persen, sektor keuangan 7,2 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi 6,5 persen.

“Sementara, sektor listrik, gas dan air bersih kontribusinya paling kecil terhadap PDB Indonesia pada triwulan II/2012, hanya sebesar 0,8 persen,” katanya.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Antisipasi Risiko Sosial...
Antisipasi Risiko Sosial Tambang, Perusahaan Didorong Terapkan Standar Keberlanjutan Global
24 menit yang lalu
Dibuka Naik Tipis, IHSG...
Dibuka Naik Tipis, IHSG Langsung Balik Arah Turun 0,24% ke 6.093
1 jam yang lalu
Purbaya Tarik Dana SAL,...
Purbaya Tarik Dana SAL, BTN Siap Kembalikan Rp38 Triliun
2 jam yang lalu
Krisis Selat Hormuz,...
Krisis Selat Hormuz, Bos IEA Wanti-wanti Ekonomi Global dalam Bahaya
2 jam yang lalu
Percepat Terbentuknya...
Percepat Terbentuknya Ekosistem Pasar Karbon Nasional yang Kredibel, Transparan, dan Berdaya Saing
12 jam yang lalu
Bio Farma Luncurkan...
Bio Farma Luncurkan Bio-TCV, Perkuat Kedaulatan Vaksin Lewat Kolaborasi Akademisi dan Industri
12 jam yang lalu
Infografis
Hati-hati! Ini 10 Tanda...
Hati-hati! Ini 10 Tanda Kolesterol Tinggi yang Perlu Diwaspadai
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved