BKPM siap kawal kepentingan investor
Minggu, 23 September 2012 - 17:18 WIB
BKPM siap kawal kepentingan investor
A
A
A
Sindonews.com - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengaku siap mengawal kepentingan para investor guna menjaga momentum investasi yang demikian bergairah.
Penegasan itu disampaikan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Chatib Basri dalam acara Regional Investment Forum (RIF), di Melbourne Australia, Kamis 20 September 2012 lalu.
Diakui Chatib, Indonesia masih memiliki sejumlah kendala untuk kenyamanan investasi. Seperti birokrasi yang masih berbelit, informasi website yang belum memadai, keterlambatan merespons pertanyaan atau komplain melalui email, dan tingginya biaya-biaya tidak resmi.
Berbagai permasalahan dari mulai birokrasi hingga banyaknya praktik pungutan liar yang marak di sana-sini, masih menjadi momok bagi calon investor yang ingin berinvestasi di Indonesia.
Sementara diketahui, laju pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6,5 persen pada 2011. Ini masih menjadi daya pikat utama Indonesia sebagai tujuan investasi yang sangat menjanjikan.
Karena itulah pihaknya tidak tinggal diam guna menjaga iklim investasi Indonesia yang baik ini.
“Kami tidak menutup mata dengan adanya berbagai kendala di lapangan, tetapi percayalah staf BKPM akan mengawal kepentingan setiap investor,” janji Chatib dalam keterangan pers yang diterima Sindonews, Minggu (23/9/2012).
Sementara, Konsulat Jenderal RI untuk Melbourne Irmawan Emir Wisnandar menerangkan, pada dasarnya pengusaha Australia, khususnya dari Victoria, sangat berminat untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Dalam catatan Australia Indonesia Business Council (AIBC) terdapat 400 perusahaan Australia yang berinvestasi di Indonesia.
"Keluhan utama mereka berbelitnya birokrasi dan lambatnya respons atas pertayaan dan komplain yang mereka ajukan. Penjelasan Chatib setidaknya membuka harapan baru yang dapat menarik semakin investor Australia," imbuhnya.
Penegasan itu disampaikan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Chatib Basri dalam acara Regional Investment Forum (RIF), di Melbourne Australia, Kamis 20 September 2012 lalu.
Diakui Chatib, Indonesia masih memiliki sejumlah kendala untuk kenyamanan investasi. Seperti birokrasi yang masih berbelit, informasi website yang belum memadai, keterlambatan merespons pertanyaan atau komplain melalui email, dan tingginya biaya-biaya tidak resmi.
Berbagai permasalahan dari mulai birokrasi hingga banyaknya praktik pungutan liar yang marak di sana-sini, masih menjadi momok bagi calon investor yang ingin berinvestasi di Indonesia.
Sementara diketahui, laju pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6,5 persen pada 2011. Ini masih menjadi daya pikat utama Indonesia sebagai tujuan investasi yang sangat menjanjikan.
Karena itulah pihaknya tidak tinggal diam guna menjaga iklim investasi Indonesia yang baik ini.
“Kami tidak menutup mata dengan adanya berbagai kendala di lapangan, tetapi percayalah staf BKPM akan mengawal kepentingan setiap investor,” janji Chatib dalam keterangan pers yang diterima Sindonews, Minggu (23/9/2012).
Sementara, Konsulat Jenderal RI untuk Melbourne Irmawan Emir Wisnandar menerangkan, pada dasarnya pengusaha Australia, khususnya dari Victoria, sangat berminat untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Dalam catatan Australia Indonesia Business Council (AIBC) terdapat 400 perusahaan Australia yang berinvestasi di Indonesia.
"Keluhan utama mereka berbelitnya birokrasi dan lambatnya respons atas pertayaan dan komplain yang mereka ajukan. Penjelasan Chatib setidaknya membuka harapan baru yang dapat menarik semakin investor Australia," imbuhnya.
(gpr)
Lihat Juga :