Manulife genjot investor reksa dana
Rabu, 03 Oktober 2012 - 09:09 WIB
Manulife genjot investor reksa dana
A
A
A
Sindonews.com - PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai penetrasi produk reksa dana masih cukup rendah jika dibandingkan total populasi yang mencapai 254 juta jiwa. Saat ini baru sekitar 161.000 investor reksa dana di Indonesia.
Presiden Direktur PT MAMI, Legowo Kusumonegoro mengatakan, banyak orang Indonesia yang belum mengenal reksa dana. Pasalnya, mereka tidak memanfaatkan instrumen investasi ini untuk menikmati kesempatan dari pasar modal guna menumbuhkan kekayaan.
“Reksa dana diklaim sebagai pilihan investasi yang nyaman dan terbuka bagi siapa saja,” ujarnya saat paparan publik di Jakarta kemarin, Selasa (2/10/2012).
Menurut dia, untuk menopang itu, MAMI telah membentuk divisi Retail Distribution sebagai bentuk dukungan bagi segmen mass affluent Indonesia. Sementara, Direktur Pengembangan Bisnis MAMI, Putut E Andanawarih menambahkan kebutuhan masyarakat terkait pertumbuhan aset semakin tinggi karena memiliki tujuan finansial.
Selain itu, mereka harus mempertahankan standar hidup di tengah hantaman inflasi. “Tabungan dan deposito tradisional tampaknya tidak menawarkan imbal hasil yang cukup. Tingkat bunga saat ini tidak mampu mengalahkan inflasi,” katanya.
Dampaknya, lanjut dia, nilai modal terus tergerus. Saat ini masyarakat harus mulai menilik instrumen-instrumen investasi lainnya. Secara historis, dalam jangka panjang, produk reksa dana yang berbasis saham telah menunjukkan kemampuan untuk memberikan imbal hasil yang mampu mengalahkan inflasi.
Reksa dana merupakan alternatif investasi guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Selama lima tahun terakhir, indeks harga saham gabungan (IHSG) mencatatkan imbal hasil sekitar 15,7 persen per tahun, mengalahkan inflasi yang berada pada level 6 persen per tahun.
Pertumbuhan IHSG juga mengalahkan tingkat bunga tabungan yang rata-rata di bawah 4 persen per tahun. “Kebanyakan orang cenderung menginvestasikan apa yang tersisa dari penghasilan mereka setelah dibelanjakan,” katanya.
Putut mengungkapkan, perseroan telah meraup dana kelolaan hingga akhir semester I/2012 Rp39,2 triliun. Dana kelolaan tersebut terdiri dari produk reksa dana pendapatan tetap, saham (termasuk reksa dana saham syariah), campuran, pasar uang dan reksa dana terproteksi.
“Jika dibandingkan dengan Juni 2011,dana kelolaan kami naik sekitar 16%,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, saat ini MAMI lebih mudah diakses oleh investor dengan mengaktifkan point of sales and service di Jakarta, Surabaya, Bandung dan Semarang. MAMI juga menggandeng 14 bank baik lokal maupun asing untuk mendistribusikan produknya.
Presiden Direktur PT MAMI, Legowo Kusumonegoro mengatakan, banyak orang Indonesia yang belum mengenal reksa dana. Pasalnya, mereka tidak memanfaatkan instrumen investasi ini untuk menikmati kesempatan dari pasar modal guna menumbuhkan kekayaan.
“Reksa dana diklaim sebagai pilihan investasi yang nyaman dan terbuka bagi siapa saja,” ujarnya saat paparan publik di Jakarta kemarin, Selasa (2/10/2012).
Menurut dia, untuk menopang itu, MAMI telah membentuk divisi Retail Distribution sebagai bentuk dukungan bagi segmen mass affluent Indonesia. Sementara, Direktur Pengembangan Bisnis MAMI, Putut E Andanawarih menambahkan kebutuhan masyarakat terkait pertumbuhan aset semakin tinggi karena memiliki tujuan finansial.
Selain itu, mereka harus mempertahankan standar hidup di tengah hantaman inflasi. “Tabungan dan deposito tradisional tampaknya tidak menawarkan imbal hasil yang cukup. Tingkat bunga saat ini tidak mampu mengalahkan inflasi,” katanya.
Dampaknya, lanjut dia, nilai modal terus tergerus. Saat ini masyarakat harus mulai menilik instrumen-instrumen investasi lainnya. Secara historis, dalam jangka panjang, produk reksa dana yang berbasis saham telah menunjukkan kemampuan untuk memberikan imbal hasil yang mampu mengalahkan inflasi.
Reksa dana merupakan alternatif investasi guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Selama lima tahun terakhir, indeks harga saham gabungan (IHSG) mencatatkan imbal hasil sekitar 15,7 persen per tahun, mengalahkan inflasi yang berada pada level 6 persen per tahun.
Pertumbuhan IHSG juga mengalahkan tingkat bunga tabungan yang rata-rata di bawah 4 persen per tahun. “Kebanyakan orang cenderung menginvestasikan apa yang tersisa dari penghasilan mereka setelah dibelanjakan,” katanya.
Putut mengungkapkan, perseroan telah meraup dana kelolaan hingga akhir semester I/2012 Rp39,2 triliun. Dana kelolaan tersebut terdiri dari produk reksa dana pendapatan tetap, saham (termasuk reksa dana saham syariah), campuran, pasar uang dan reksa dana terproteksi.
“Jika dibandingkan dengan Juni 2011,dana kelolaan kami naik sekitar 16%,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, saat ini MAMI lebih mudah diakses oleh investor dengan mengaktifkan point of sales and service di Jakarta, Surabaya, Bandung dan Semarang. MAMI juga menggandeng 14 bank baik lokal maupun asing untuk mendistribusikan produknya.
(rna)
Lihat Juga :