Jaga surplus, impor harus dikendalikan
Rabu, 03 Oktober 2012 - 10:48 WIB
Jaga surplus, impor harus dikendalikan
A
A
A
Sindonews.com – Keseriusan pemerintah dalam mengendalikan laju impor akan menjadi kunci bagi kelangsungan surplus neraca perdagangan.
Direktur Eksekutif Indonesian Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Erani Yustika mengingatkan, surplus neraca perdagangan pada Agustus 2012 seharusnya tidak dilihat sebagai sebuah prestasi.
Alasannya, surplus terjadi bukan karena ada kenaikan kinerja ekspor, melainkan adanya penurunan laju impor. Mengingat besarnya peranan impor itulah, Erani meyakini bahwa surplus tidaknya neraca perdagangan pada September 2012 atau bulan-bulan setelahnya akan sangat tergantung pada kinerja impor.
“Itu akan tergantung pada seberapa besar pemerintah bisa mengembalikan impor. Kalau impornya bisa dikendalikan, maka surplus bisa kembali diperoleh pada September. Tapi kalau impor kembali ke level semula, surplus akan sulit dicapai lagi,” papar Erani saat dihubungi kemarin.
Dia menambahkan, melihat tren ke depan, impor Indonesia justru diprediksi akan semakin besar. Hal tersebut didorong makin banyaknya investor yang berniat menanamkan sahamnya di Indonesia. Investasi bisa mendorong laju impor jika mereka mendatangkan bahan baku/penolong dan barang modal dari luar negeri.
Untuk mengurangi volume impor yang diakibatkan investasi, Erani berharap pemerintah bisa menetapkan kebijakan pembatasan investasi. Menurut dia, investasi yang akan masuk ke Indonesia harus diseleksi.
Prioritas seharusnya diberikan kepada investor yang lebih mengandalkan barang baku/penolong dan modal dari dalam negeri. “Pemerintah bisa menyeleksi investasiinvestasi mana yang boleh masuk. Investasi baru khususnya yang tidak menggunakan bahan baku domestik dikurangi,” ucapnya.
Seperti diberitakan, neraca perdagangan pada Agustus mencatatkan surplus sebesar USD248,5 juta.Surplus ini merupakan yang pertama kalinya sejak April 2012. Surplus disebabkan adanya penurunan yang sangat tajam pada impor.
Penurunan tersebut menghindarkan neraca perdagangan Indonesia dari defisit karena pada saat yang bersamaan ekspor juga turun. Pada Agustus nilai impor Indonesia hanya tercatat USD13,87 miliar atau turun 8,02 persen dibandingkan Agustus 2011.
Sementara, ekspor Agustus 2012 mencapai USD14,12 miliar atau turun 24,30 persen dibandingkan Agustus 2011. Menteri Keuangan Agus Martowardojo menegaskan, pemerintah akan mengelola sektor investasi dan impor dengan lebih baik lagi untuk terus memperbaiki neraca perdagangan dan transaksi berjalan.
Agus Marto mengatakan, kembali surplusnya neraca perdagangan pada Agustus merupakan berita baik. Namun, pemerintah akan tetap bersikap waspada terhadap semua faktor yang bisa mengakibatkan neraca perdagangan kembali defisit.
“Ke depan kita perlu kelola yang lebih baik supaya neraca kita sehat. Jalan yang paling utama adalah memberikan komposisi ekspor yang baik, tidak perlu impor kalau tidak perlu,” tutur Agus Marto, di kantornya, kemarin.
Mantan Dirut Bank Mandiri ini menjelaskan, pemerintah tidak hanya akan mengelola impor dalam memperbaiki neraca perdagangan tetapi juga sektor investasi. Investasi asing nantinya tidak akan difokuskan ke pasar domestik saja tetapi juga ke pasar ekspor. Industri Indonesia juga akan disiapkan agar barang-barang tidak perlu impor.
Sementara, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan, impor Indonesia untuk bahan baku atau penolong mencapai 73 persen dan impor barang modal mencapai 20 persen selama Januari–Agustus 2012. Impor barang modal selama Januari–Agustus 2012 mencapai USD25,8 miliar, meningkat 28,6 persen secara tahunan (year on year/yoy).
“Lonjakan impor barang modal dan bahan baku atau penolong didorong oleh membaiknya realisasi aktivitas investasi dan meningkatnya output industri di Tanah Air,” kata Bayu di kantornya kemarin.
Terkait penurunan ekspor nonmigas pada Agustus, Bayu mengatakan karena dipicu oleh melemahnya ekspor di sektor pertanian, industri dan sektor perdagangan yang masing-masing menurun 22,56 persen, 15,68 persen, dan 7,40 persen.
Sementara, penurunan ekspor migas bersumber dari turunnya ekspor hasil minyak dan gas. “Penurunan ekspor nonmigas Indonesia periode Januari– Agustus 2012 disebabkan oleh melemahnya harga beberapa komoditas utama ekspor Indonesia di pasar internasional,” ungkapnya.
Direktur Eksekutif Indonesian Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Erani Yustika mengingatkan, surplus neraca perdagangan pada Agustus 2012 seharusnya tidak dilihat sebagai sebuah prestasi.
Alasannya, surplus terjadi bukan karena ada kenaikan kinerja ekspor, melainkan adanya penurunan laju impor. Mengingat besarnya peranan impor itulah, Erani meyakini bahwa surplus tidaknya neraca perdagangan pada September 2012 atau bulan-bulan setelahnya akan sangat tergantung pada kinerja impor.
“Itu akan tergantung pada seberapa besar pemerintah bisa mengembalikan impor. Kalau impornya bisa dikendalikan, maka surplus bisa kembali diperoleh pada September. Tapi kalau impor kembali ke level semula, surplus akan sulit dicapai lagi,” papar Erani saat dihubungi kemarin.
Dia menambahkan, melihat tren ke depan, impor Indonesia justru diprediksi akan semakin besar. Hal tersebut didorong makin banyaknya investor yang berniat menanamkan sahamnya di Indonesia. Investasi bisa mendorong laju impor jika mereka mendatangkan bahan baku/penolong dan barang modal dari luar negeri.
Untuk mengurangi volume impor yang diakibatkan investasi, Erani berharap pemerintah bisa menetapkan kebijakan pembatasan investasi. Menurut dia, investasi yang akan masuk ke Indonesia harus diseleksi.
Prioritas seharusnya diberikan kepada investor yang lebih mengandalkan barang baku/penolong dan modal dari dalam negeri. “Pemerintah bisa menyeleksi investasiinvestasi mana yang boleh masuk. Investasi baru khususnya yang tidak menggunakan bahan baku domestik dikurangi,” ucapnya.
Seperti diberitakan, neraca perdagangan pada Agustus mencatatkan surplus sebesar USD248,5 juta.Surplus ini merupakan yang pertama kalinya sejak April 2012. Surplus disebabkan adanya penurunan yang sangat tajam pada impor.
Penurunan tersebut menghindarkan neraca perdagangan Indonesia dari defisit karena pada saat yang bersamaan ekspor juga turun. Pada Agustus nilai impor Indonesia hanya tercatat USD13,87 miliar atau turun 8,02 persen dibandingkan Agustus 2011.
Sementara, ekspor Agustus 2012 mencapai USD14,12 miliar atau turun 24,30 persen dibandingkan Agustus 2011. Menteri Keuangan Agus Martowardojo menegaskan, pemerintah akan mengelola sektor investasi dan impor dengan lebih baik lagi untuk terus memperbaiki neraca perdagangan dan transaksi berjalan.
Agus Marto mengatakan, kembali surplusnya neraca perdagangan pada Agustus merupakan berita baik. Namun, pemerintah akan tetap bersikap waspada terhadap semua faktor yang bisa mengakibatkan neraca perdagangan kembali defisit.
“Ke depan kita perlu kelola yang lebih baik supaya neraca kita sehat. Jalan yang paling utama adalah memberikan komposisi ekspor yang baik, tidak perlu impor kalau tidak perlu,” tutur Agus Marto, di kantornya, kemarin.
Mantan Dirut Bank Mandiri ini menjelaskan, pemerintah tidak hanya akan mengelola impor dalam memperbaiki neraca perdagangan tetapi juga sektor investasi. Investasi asing nantinya tidak akan difokuskan ke pasar domestik saja tetapi juga ke pasar ekspor. Industri Indonesia juga akan disiapkan agar barang-barang tidak perlu impor.
Sementara, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan, impor Indonesia untuk bahan baku atau penolong mencapai 73 persen dan impor barang modal mencapai 20 persen selama Januari–Agustus 2012. Impor barang modal selama Januari–Agustus 2012 mencapai USD25,8 miliar, meningkat 28,6 persen secara tahunan (year on year/yoy).
“Lonjakan impor barang modal dan bahan baku atau penolong didorong oleh membaiknya realisasi aktivitas investasi dan meningkatnya output industri di Tanah Air,” kata Bayu di kantornya kemarin.
Terkait penurunan ekspor nonmigas pada Agustus, Bayu mengatakan karena dipicu oleh melemahnya ekspor di sektor pertanian, industri dan sektor perdagangan yang masing-masing menurun 22,56 persen, 15,68 persen, dan 7,40 persen.
Sementara, penurunan ekspor migas bersumber dari turunnya ekspor hasil minyak dan gas. “Penurunan ekspor nonmigas Indonesia periode Januari– Agustus 2012 disebabkan oleh melemahnya harga beberapa komoditas utama ekspor Indonesia di pasar internasional,” ungkapnya.
(rna)
Lihat Juga :