ADB koreksi proyeksi ekonomi Asia

Kamis, 04 Oktober 2012 - 09:03 WIB
ADB koreksi proyeksi...
ADB koreksi proyeksi ekonomi Asia
A A A
Sindonews.com – Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi negaranegara di Asia pada 2012 lebih rendah dibandingkan prediksi lembaga ini pada April lalu.

Ekonom senior ADB Edimon Ginting menjelaskan, penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di Asia jauh lebih cepat dibandingkan dengan prediksi mereka pada April. Pada April 2012, ADB memproyeksi pertumbuhan negara-negara berkembang Asia akan mencapai 6,9 persen tahun ini, tetapi dikoreksi menjadi 6,1 persen, kemarin.

Pertumbuhan 6,1 persen ini jauh lebih rendah dibandingkan 2011 yang mencapai 7,2 persen. Besarnya koreksi pertumbuhan tersebut didorong pengaruh global serta melambatnya perekonomian di India dan China yang selama ini menjadi motor pertumbuhan Asia dan dunia.

“Investasi di China sudah melambat, begitu juga ekspornya. Di India, ekspor dan investasi juga mulai melambat karena reformasi struktural yang lambat,” tutur Edimon saat memaparkan ADB Outlook 2012 Update di Jakarta, Rabu (3/10/2012).

Dalam laporan update-nya, ADB mengoreksi pertumbuhan sejumlah negara, terutama China. Negara dengan perekonomian terbesar di Asia tersebut diprediksi hanya bisa tumbuh sebesar 7,7 persen pada tahun ini.
Proyeksi ini jauh lebih rendah dibandingkan April lalu yakni 8,5 persen.

Untuk 2013, China diperkirakan hanya bisa tumbuh 8,1 persen atau jauh di bawah prediksi semula (8,7 persen).
Untuk Indonesia, ADB memberikan koreksi proyeksi pertumbuhan yang cukup rendah yakni menjadi 6,3 persen dari sebelumnya 6,4 persen. Sedangkan, pada 2013 Indonesia diperkirakan akan tumbuh 6,6 persen.

“Pertumbuhan Indonesia masih jauh lebih baik dibandingkan dengan negara lain. Dari segi ketergantungan terhadap perekonomian global, Indonesia rendah. Investasi juga tumbuh tinggi sehingga bisa mengompensasi penurunan ekspor yang sangat tajam,” imbuh Ginting.

Kendati demikian, ADB mengingatkan Indonesia untuk segera mencari sumber pertumbuhan baru sebagai cara untuk mempertahankan pertumbuhan tinggi. Salah satu sumber pertumbuhan tersebut adalah dengan menggenjot sektor jasa.

Ekonom ADB Priasto Aji mengingatkan, sektor jasa berperan besar dalam mendukung pertumbuhan karena mampu menyerap banyak tenaga kerja. Priasto mengatakan, di negara-negara maju, sektor jasa bisa menyerap tenaga kerja hingga 80–90 persen, sementara di Indonesia baru 40 persen.

Peran sektor jasa untuk mendukung pertumbuhan PDB (produk domestik bruto) juga masih terbilang rendah yakni sekitar 4 persen, padahal di India hampir mencapai 9 persen, China sekitar 11 persen dan Singapura sekitar 8 persen.

Menurut Priasto, rendahnya kontribusi itu salah satunya disebabkan ketergantungan Indonesia pada sektor jasa tradisional seperti pertanian atau restoran. Sementara, sektor jasa yang menyerap tenaga kerja seperti teknologi komunikasi belum dioptimalkan.

“Indonesia harus bisa mengembangkan sektor jasa yang menyerap tenaga kerja besar seperti komunikasi dan perbankan,” tutur Priasto.

Priasto menuturkan ada tiga hal yang menyebabkan sektor jasa tidak berkembang secara maksimal yaitu regulasi pemerintah yang tidak mendukung, buruknya infrastruktur, serta kualitas sumber daya manusia yang rendah.

Edimon menjelaskan, Indonesia memiliki banyak sektor jasa yang masih bisa digenjot produktivitasnya, salah satunya adalah jasa keuangan dan pembiayaan. Terlebih, akses masyarakat terhadap sektor keuangan masih sangat rendah.

Sektor teknologi komunikasi juga masih ditingkatkan mengingat banyak kawasan Indonesia Timur yang belum tersentuh oleh sektor komunikasi. "Pertumbuhan sektor jasa pada awalnya memang menimbulkan impor besar karena ada impor barang modal/bahan baku yang tinggi. Tapi setelah jadi service, maka itu akan meningkatkan sisi supply,” tandasnya.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Rupiah Semringah Sambut...
Rupiah Semringah Sambut Akhir Pekan, Menjauh dari Level Rp18 Ribu per Dolar AS
29 menit yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Sumbagut dan Polda Sumut Sinergi Percepat Normalisasi Distribusi BBM
47 menit yang lalu
Yamaha Grand Filano...
Yamaha Grand Filano Hybrid Tawarkan Gaya Kalcer, Konsumsi BBM Diklaim Capai 60 Km per Liter
56 menit yang lalu
Produktivitas Kebun...
Produktivitas Kebun Sawit Sitaan Negara Menurun, Muncul Desakan Audit Total
57 menit yang lalu
Danantara Resmi Gabung...
Danantara Resmi Gabung ke Forum Sovereign Wealth Fund Dunia, Ini Manfaatnya
1 jam yang lalu
Penguatan IHSG Tak Terbendung...
Penguatan IHSG Tak Terbendung Sentuh 6.175, Diwarnai Lompatan 363 Saham
1 jam yang lalu
Infografis
10 Universitas Terbaik...
10 Universitas Terbaik di Indonesia Versi THE Asia University Rankings 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved