Pertumbuhan 6,4% realistis
Jum'at, 05 Oktober 2012 - 10:26 WIB
Pertumbuhan 6,4% realistis
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi pada tahun ini bisa mencapai 6,4 persen, didorong belanja pemerintah serta investasi yang diprediksi masih tetap tinggi.
Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam laporannya barubaru ini mengoreksi proyeksi pertumbuhan Indonesia dari 6,4 persen menjadi 6,3 persen pada tahun ini. ADB melakukan koreksi mempertimbangkan melemahnya pertumbuhan ekonomi di India dan China yang selama ini menjadi motor pertumbuhan Asia dan dunia.
Pelambatan China dan India diyakini menurunkan permintaan ekspor mereka terhadap mitra dagangnya, termasuk Indonesia. Akibatnya, kinerja ekspor Indonesia yang tengah melemah belakangan ini bisa semakin tertekan.
Menanggapi proyeksi tersebut, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan, pertumbuhan sebesar 6,4 persen masih realistis meskipun dia mengakui bahwa kinerja ekspor tengah mengalami penurunan.
”Ekspor turun, tapi impor kita juga jauh drop 15 persen pada kuartal III ini. Jadi, sampai akhir tahun saya masih optimistis(pertumbuhan ekonomi) di kisaran 6,4 persen akan bisa kita capai,” ujar Hatta setelah menghadiri rapat koordinasi mengenai APEC di kantornya, Jakarta, kemarin.
Menurut Hatta, kinerja investasi yang masih tetap tinggi hingga kuartal III juga akan menjadi pendukung tingginya pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini. ”Investasi kan belum tunjukan tanda-tanda menurun,” tandasnya.
Selain itu, imbuh dia, belanja pemerintah pada kuartal III juga semakin besar dibandingkan kuartal-kuartal sebelumnya sehingga akan mampu mendongkrak pertumbuhan secara keseluruhan. Namun, situasi sulit ekonomi global saat ini diakui pula akan memberatkan laju perekonomian nasional.
Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung mengemukakan, memang sulit bagi Indonesia mencapai pertumbuhan 6,4 persen tahun ini. ”Saya musti akui berat. Dengan situasi makro sekarang ini, jika bisa bertahan di 6,3–6,4 persen saja, kita mesti katakan harus bersyukur.Saya rasa kita mesti realistis karena saya juga di dunia usaha melihat terjadi proses perlambatan sesudah Lebaran ini.Terjadi perlambatan di sektor konsumsi,” ujarnya.
Berkaitan dengan persoalan ekspor, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan, perlambatan ekonomi global berdampak menekan harga komoditas andalan Indonesia. Turunnya harga komoditas kemudian membuat nilai ekspor Indonesia terus berkurang, meskipun secara volume sebetulnya tidak ada perubahan dan bahkan mengalami kenaikan.
”Yang perlu digarisbawahi, ekspor turun tapi volumenya naik, unitnya naik.Tapi, ini kan karena penurunan harga, ini kan 65–70 persen dari total ekspor kita semua terkait dengan komoditas. Volume naik, tapi karena harga turun, jadinya value ekspornya turun,” papar Gita.
Gita mengakui sangat sulit bagi Indonesia untuk mencapai target ekspor senilai USD203 miliar pada tahun ini atau bahkan hanya menyamai pencapaian tahun lalu sebesar USD200 miliar. Namun, dia tetap optimistis bahwa neraca perdagangan hingga akhir tahun akan mencatatkan surplus.
Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam laporannya barubaru ini mengoreksi proyeksi pertumbuhan Indonesia dari 6,4 persen menjadi 6,3 persen pada tahun ini. ADB melakukan koreksi mempertimbangkan melemahnya pertumbuhan ekonomi di India dan China yang selama ini menjadi motor pertumbuhan Asia dan dunia.
Pelambatan China dan India diyakini menurunkan permintaan ekspor mereka terhadap mitra dagangnya, termasuk Indonesia. Akibatnya, kinerja ekspor Indonesia yang tengah melemah belakangan ini bisa semakin tertekan.
Menanggapi proyeksi tersebut, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan, pertumbuhan sebesar 6,4 persen masih realistis meskipun dia mengakui bahwa kinerja ekspor tengah mengalami penurunan.
”Ekspor turun, tapi impor kita juga jauh drop 15 persen pada kuartal III ini. Jadi, sampai akhir tahun saya masih optimistis(pertumbuhan ekonomi) di kisaran 6,4 persen akan bisa kita capai,” ujar Hatta setelah menghadiri rapat koordinasi mengenai APEC di kantornya, Jakarta, kemarin.
Menurut Hatta, kinerja investasi yang masih tetap tinggi hingga kuartal III juga akan menjadi pendukung tingginya pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini. ”Investasi kan belum tunjukan tanda-tanda menurun,” tandasnya.
Selain itu, imbuh dia, belanja pemerintah pada kuartal III juga semakin besar dibandingkan kuartal-kuartal sebelumnya sehingga akan mampu mendongkrak pertumbuhan secara keseluruhan. Namun, situasi sulit ekonomi global saat ini diakui pula akan memberatkan laju perekonomian nasional.
Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung mengemukakan, memang sulit bagi Indonesia mencapai pertumbuhan 6,4 persen tahun ini. ”Saya musti akui berat. Dengan situasi makro sekarang ini, jika bisa bertahan di 6,3–6,4 persen saja, kita mesti katakan harus bersyukur.Saya rasa kita mesti realistis karena saya juga di dunia usaha melihat terjadi proses perlambatan sesudah Lebaran ini.Terjadi perlambatan di sektor konsumsi,” ujarnya.
Berkaitan dengan persoalan ekspor, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan, perlambatan ekonomi global berdampak menekan harga komoditas andalan Indonesia. Turunnya harga komoditas kemudian membuat nilai ekspor Indonesia terus berkurang, meskipun secara volume sebetulnya tidak ada perubahan dan bahkan mengalami kenaikan.
”Yang perlu digarisbawahi, ekspor turun tapi volumenya naik, unitnya naik.Tapi, ini kan karena penurunan harga, ini kan 65–70 persen dari total ekspor kita semua terkait dengan komoditas. Volume naik, tapi karena harga turun, jadinya value ekspornya turun,” papar Gita.
Gita mengakui sangat sulit bagi Indonesia untuk mencapai target ekspor senilai USD203 miliar pada tahun ini atau bahkan hanya menyamai pencapaian tahun lalu sebesar USD200 miliar. Namun, dia tetap optimistis bahwa neraca perdagangan hingga akhir tahun akan mencatatkan surplus.
(rna)
Lihat Juga :