Agung Podomoro beli 85% saham TLM
Jum'at, 05 Oktober 2012 - 11:07 WIB
Agung Podomoro beli 85% saham TLM
A
A
A
Sindonews.com - PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) mengakuisisi 85 persen saham PT Tritunggal Lestari Makmur (TLM) senilai Rp45,9 miliar.
TLM memiliki izin selama 30 tahun dari Pemerintah Daerah Jawa Barat untuk mengembangkan lahan seluas 1,9 hektare di Jalan Diponegoro dan Jalan Surapati yang berlokasi di pusat kota Bandung.
Investor Relation APLN Wibisono mengatakan, dana akuisisi berasal dari penerbitan obligasi perseroan beberapa waktu lalu.
Dengan mekanisme pengelolaan secara BOT (build, operate, transfer), perseroan berencana mengembangkan lahan menjadi fasilitas MICE (meetings, incentives, conferences dan exhibitions) termasuk sekitar 300 kamar hotel bintang lima, convention center, ballroom, ruang pertemuan, dan area ritel.
”Pembangunan akan dilakukan pada akhir tahun ini dan diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp500–600 miliar yang berasal dari penerbitan obligasi beberapa waktu lalu,” ujar dia dalam keterangannya, kemarin.
Dia memperkirakan, akan selesai pada akhir 2014. Proyek ini sejalan dengan strategi perusahaan yang akan meningkatkan pendapatan berulang APLN. Menurutnya, perseroan tertarik masuk ke Kota Bandung karena dikenal sebagai kota MICE.
Jumlah kegiatan MICE yang diselenggarakan di Bandung meningkat dengan CAGR (laju pertumbuhan majemuk tahunan) 67,6 persen selama kurun waktu 2007-2010.
Perseroan, lanjut Wibisono, telah menunjuk KJPP Doli Siregar dan rekan untuk melakukan penilaian terhadap proyek ini dan memberikan penilaian kewajaran (fairness opinion) yang mana menegaskan bahwa transaksi ini adalah wajar dengan menggunakan pendekatan berbasis pendapatan dan berbasis aset. Per Agustus, perseroan membukukan marketing sales Rp3,13 triliun.
Capaian tersebut sekitar 65 persen dari target perusahaan di tahun ini yang kisarannya mencapai Rp4,6-5 triliun. Wibisono mengungkapkan, Proyek The Green Bay Superblock masih menjadi penyumbang terbesar dari marketing sales Agustus, yakni sekitar 55 persen.
Kemudian, diikuti oleh proyek Podomoro City sekitar 17persen. “Sementara, proyek baru perseroan Metro Park Residence dan Vimala Hills memberikan kontribusi sekitar 11 persen,” jelas dia.
Sementara, Pefindo menetapkan kembali peringkat idA untuk APLN. Outlook terhadap peringkat perusahaan tersebut adalah stabil.
Menurut analis Pefindo,Vonny Widjaja & Rachmadi Kurniawan, peringkat mencerminkan posisi bisnis APLN yang kuat di industri properti, khususnya pada segmen hunian vertikal dan kualitas aset perusahaan yang di atas rata-rata.
Sedangkan, faktor-faktor yang membatasi peringkat adalah tingkat leverage keuangan yang meningkat dalam waktu dekat untuk membiayai ekspansi bisnis perusahaan dan ketergantungan APLN pada penjualan properti yang sensitif terhadap kondisi makroekonomi.
TLM memiliki izin selama 30 tahun dari Pemerintah Daerah Jawa Barat untuk mengembangkan lahan seluas 1,9 hektare di Jalan Diponegoro dan Jalan Surapati yang berlokasi di pusat kota Bandung.
Investor Relation APLN Wibisono mengatakan, dana akuisisi berasal dari penerbitan obligasi perseroan beberapa waktu lalu.
Dengan mekanisme pengelolaan secara BOT (build, operate, transfer), perseroan berencana mengembangkan lahan menjadi fasilitas MICE (meetings, incentives, conferences dan exhibitions) termasuk sekitar 300 kamar hotel bintang lima, convention center, ballroom, ruang pertemuan, dan area ritel.
”Pembangunan akan dilakukan pada akhir tahun ini dan diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp500–600 miliar yang berasal dari penerbitan obligasi beberapa waktu lalu,” ujar dia dalam keterangannya, kemarin.
Dia memperkirakan, akan selesai pada akhir 2014. Proyek ini sejalan dengan strategi perusahaan yang akan meningkatkan pendapatan berulang APLN. Menurutnya, perseroan tertarik masuk ke Kota Bandung karena dikenal sebagai kota MICE.
Jumlah kegiatan MICE yang diselenggarakan di Bandung meningkat dengan CAGR (laju pertumbuhan majemuk tahunan) 67,6 persen selama kurun waktu 2007-2010.
Perseroan, lanjut Wibisono, telah menunjuk KJPP Doli Siregar dan rekan untuk melakukan penilaian terhadap proyek ini dan memberikan penilaian kewajaran (fairness opinion) yang mana menegaskan bahwa transaksi ini adalah wajar dengan menggunakan pendekatan berbasis pendapatan dan berbasis aset. Per Agustus, perseroan membukukan marketing sales Rp3,13 triliun.
Capaian tersebut sekitar 65 persen dari target perusahaan di tahun ini yang kisarannya mencapai Rp4,6-5 triliun. Wibisono mengungkapkan, Proyek The Green Bay Superblock masih menjadi penyumbang terbesar dari marketing sales Agustus, yakni sekitar 55 persen.
Kemudian, diikuti oleh proyek Podomoro City sekitar 17persen. “Sementara, proyek baru perseroan Metro Park Residence dan Vimala Hills memberikan kontribusi sekitar 11 persen,” jelas dia.
Sementara, Pefindo menetapkan kembali peringkat idA untuk APLN. Outlook terhadap peringkat perusahaan tersebut adalah stabil.
Menurut analis Pefindo,Vonny Widjaja & Rachmadi Kurniawan, peringkat mencerminkan posisi bisnis APLN yang kuat di industri properti, khususnya pada segmen hunian vertikal dan kualitas aset perusahaan yang di atas rata-rata.
Sedangkan, faktor-faktor yang membatasi peringkat adalah tingkat leverage keuangan yang meningkat dalam waktu dekat untuk membiayai ekspansi bisnis perusahaan dan ketergantungan APLN pada penjualan properti yang sensitif terhadap kondisi makroekonomi.
(gpr)
Lihat Juga :