Kinerja baik, investor tak terpengaruh
Senin, 08 Oktober 2012 - 09:45 WIB
Kinerja baik, investor tak terpengaruh
A
A
A
Sindonews.com - Kasus pailit yang kini sedang menimpa PT Telkomsel, anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), tidak signifikan memengaruhi sikap investor dengan melakukan penjualan saham perusahaan telekomunikasi tersebut di pasar modal.
Investor melihat kinerja dan prospek bisnis emiten berkode saham TLKM tersebut masih bagus.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, status pailit yang disematkan kepada Telkomsel tidak akan memengaruhi kinerja dan saham Telkom.
Alasannya, secara objektif perseroan memiliki kemampuan untuk membayar kewajiban Rp5,3 miliar kepada penggugat dalam kasus pailit Telkomsel. ”TLKM merupakan perusahaan besar,” tutur dia saat dihubungi, kemarin.
Sebagai perbandingan, pada semester I/2012 Telkom mampu membukukan pendapatan sebesar Rp36,72 triliun, naik 6,8 persen dibandingkan periode yang sama pada 2011 sebesar Rp34,37 triliun.Laba bersih perseroan Rp8,9 triliun,naik 11,85 persen dibandingkan semester I/2011 sebesar Rp8,03 triliun.
Sedangkan,pendapatan Telkomsel pada semester I/2012 Rp25,42 triliun atau naik 9,5 persen dibandingkan periode sama 2011 sebesar Rp23,22 triliun. Adapun,laba bersihnya pada semester I/2012 mencapai Rp7,29 triliun atau naik 21,9 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai Rp5,98 triliun.
Itulah sebabnya, beberapa bulan sebelumnya tidak ada satu pun tanda yang mengindikasikan TLKM ataupun Telkomsel mengalami kesulitan pendanaan.
Sementara, Dewan Pakar Masyarakat Investor Sekuritas Seluruh Indonesia (MISSI) Johannes Sutikno mengatakan, persoalan hukum yang menimpa Telkomsel tidaklah material bagi Telkom.
Hal itu membuat investor tidak beranggapan kasus tersebut berdampak negatif bagi kinerja Telkom. ”Untuk ukuran TLKM, nilai yang dipersoalkan tidaklah material,” ujarnya.
Sesuai Peraturan Bapepam- LK No IX.E.2 tentang transaksi material dan perubahan kegiatan usaha utama menyebutkan, yang dikatakan material adalah jika nilainya sama atau lebih besar dari 10 persen dari pendapatan perusahaan atau 20 persen dari ekuitas. Johannes menambahkan, penurunan saham yang sempat terjadi terhadap TLKM lebih banyak disebabkan aktivitas investor jangka pendek.
Investor melihat kinerja dan prospek bisnis emiten berkode saham TLKM tersebut masih bagus.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, status pailit yang disematkan kepada Telkomsel tidak akan memengaruhi kinerja dan saham Telkom.
Alasannya, secara objektif perseroan memiliki kemampuan untuk membayar kewajiban Rp5,3 miliar kepada penggugat dalam kasus pailit Telkomsel. ”TLKM merupakan perusahaan besar,” tutur dia saat dihubungi, kemarin.
Sebagai perbandingan, pada semester I/2012 Telkom mampu membukukan pendapatan sebesar Rp36,72 triliun, naik 6,8 persen dibandingkan periode yang sama pada 2011 sebesar Rp34,37 triliun.Laba bersih perseroan Rp8,9 triliun,naik 11,85 persen dibandingkan semester I/2011 sebesar Rp8,03 triliun.
Sedangkan,pendapatan Telkomsel pada semester I/2012 Rp25,42 triliun atau naik 9,5 persen dibandingkan periode sama 2011 sebesar Rp23,22 triliun. Adapun,laba bersihnya pada semester I/2012 mencapai Rp7,29 triliun atau naik 21,9 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai Rp5,98 triliun.
Itulah sebabnya, beberapa bulan sebelumnya tidak ada satu pun tanda yang mengindikasikan TLKM ataupun Telkomsel mengalami kesulitan pendanaan.
Sementara, Dewan Pakar Masyarakat Investor Sekuritas Seluruh Indonesia (MISSI) Johannes Sutikno mengatakan, persoalan hukum yang menimpa Telkomsel tidaklah material bagi Telkom.
Hal itu membuat investor tidak beranggapan kasus tersebut berdampak negatif bagi kinerja Telkom. ”Untuk ukuran TLKM, nilai yang dipersoalkan tidaklah material,” ujarnya.
Sesuai Peraturan Bapepam- LK No IX.E.2 tentang transaksi material dan perubahan kegiatan usaha utama menyebutkan, yang dikatakan material adalah jika nilainya sama atau lebih besar dari 10 persen dari pendapatan perusahaan atau 20 persen dari ekuitas. Johannes menambahkan, penurunan saham yang sempat terjadi terhadap TLKM lebih banyak disebabkan aktivitas investor jangka pendek.
(gpr)
Lihat Juga :