Bank Maspion berencana IPO awal 2013
Selasa, 09 Oktober 2012 - 09:50 WIB
Bank Maspion berencana IPO awal 2013
A
A
A
Sindonews.com - PT Bank Maspion berencana pencatatan saham (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal Januari tahun depan. Perseroan menggelar penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) menggunakan laporan keuangan Juni 2012.
Presiden Direktur Bank Maspion Herman Halim mengatakan, pihaknya akan melepas 11 persen saham baru dengan target raihan dana Rp100 miliar. ”Dana IPO akan kami gunakan untuk ekspansi kredit,” ujarnya usai melakukan mini-public expose di BEI kemarin.
Dia mengungkapkan, hingga September 2012 perseroan telah menyalurkan kredit sebesar Rp2,4 triliun dengan porsi 70–80 persen disalurkan ke sektor ritel (perdagangan dan usaha kecil menengah).
Herman mengatakan, pihaknya menjaga pertumbuhan kredit di kisaran 25–30 persen per tahun. Adapun, rasio kecukupan modal (CAR) saat ini di level 16 persen dan akan diupayakan menjadi 15 persen tahun depan.
Perseroan telah menunjuk PT Makinta Securities sebagai penjamin pelaksana emisi IPO. Herman menegaskan bahwa Bank Maspion tidak akan melakukan road showke luar negeri.
Analis dari Trust Securities Reza Priyambada menilai pelepasan saham yang sedikit justru akan menjadi bumerang bagi bank tersebut. Hal ini dikhawatirkan akan membuat investor enggan untuk membeli. ”Pembeli akan ragu untuk membeli jika jumlahnya sedikit,” ujar Reza saat dihubungi kemarin.
Fenomena tersebut dapat juga mengindikasikan kekhawatiran bahwa saham perseroan tidak akan laris di pasaran sehingga lebih memilih untuk menunggu reaksi pasar. ”Ada kemungkinan mereka masih ragu untuk melepas dalam jumlah banyak,” katanya.
Sementara, Bursa Efek Indonesia (BEI) menantikan tambahan kehadiran BUMN menjadi perusahaan publik. Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan, niat pemerintah untuk membawa BUMN menjadi IPO masih rendah.
Hal ini terlihat dari hanya 18 dari 140 BUMN yang melantai di bursa, sedangkan masih ada 140 perusahaan milik negara tersebut yang belum tercatat di BEI. ”Sejak tahun 1991 hingga kini baru 18 yang IPO,” ujar Ito.
Menurutnya, IPO BUMN sangat penting untuk pasar modal dan juga untuk perusahaan itu sendiri. Hal ini akan menguntungkan BUMN dengan melihat pengalaman. Mayoritas BUMN akan mendapatkan kenaikan modal yang signifikan.
Dia mengatakan, BUMN dalam bidang apa pun akan mendapat sambutan yang positif dari pasar. ”Jika pemerintah peduli dengan perkembangan pasar modal negeri ini, sebaiknya dilakukan IPO untuk BUMN,” paparnya.
Ito mencontohkan perkembangan saham BRI dan Telkom. Saham BRI selalu mengalami kenaikan sehingga harus stock split (pemecahan nilai nominal saham) agar harganya tidak terlalu tinggi.Telkom pun juga demikian, kapitalisasi modalnya sudah mencapai lebih dari Rp160 triliun. Hal ini melesat jauhdarisaatawalIPOyangkapitalnya kurang dari Rp20 triliun.
Presiden Direktur Bank Maspion Herman Halim mengatakan, pihaknya akan melepas 11 persen saham baru dengan target raihan dana Rp100 miliar. ”Dana IPO akan kami gunakan untuk ekspansi kredit,” ujarnya usai melakukan mini-public expose di BEI kemarin.
Dia mengungkapkan, hingga September 2012 perseroan telah menyalurkan kredit sebesar Rp2,4 triliun dengan porsi 70–80 persen disalurkan ke sektor ritel (perdagangan dan usaha kecil menengah).
Herman mengatakan, pihaknya menjaga pertumbuhan kredit di kisaran 25–30 persen per tahun. Adapun, rasio kecukupan modal (CAR) saat ini di level 16 persen dan akan diupayakan menjadi 15 persen tahun depan.
Perseroan telah menunjuk PT Makinta Securities sebagai penjamin pelaksana emisi IPO. Herman menegaskan bahwa Bank Maspion tidak akan melakukan road showke luar negeri.
Analis dari Trust Securities Reza Priyambada menilai pelepasan saham yang sedikit justru akan menjadi bumerang bagi bank tersebut. Hal ini dikhawatirkan akan membuat investor enggan untuk membeli. ”Pembeli akan ragu untuk membeli jika jumlahnya sedikit,” ujar Reza saat dihubungi kemarin.
Fenomena tersebut dapat juga mengindikasikan kekhawatiran bahwa saham perseroan tidak akan laris di pasaran sehingga lebih memilih untuk menunggu reaksi pasar. ”Ada kemungkinan mereka masih ragu untuk melepas dalam jumlah banyak,” katanya.
Sementara, Bursa Efek Indonesia (BEI) menantikan tambahan kehadiran BUMN menjadi perusahaan publik. Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan, niat pemerintah untuk membawa BUMN menjadi IPO masih rendah.
Hal ini terlihat dari hanya 18 dari 140 BUMN yang melantai di bursa, sedangkan masih ada 140 perusahaan milik negara tersebut yang belum tercatat di BEI. ”Sejak tahun 1991 hingga kini baru 18 yang IPO,” ujar Ito.
Menurutnya, IPO BUMN sangat penting untuk pasar modal dan juga untuk perusahaan itu sendiri. Hal ini akan menguntungkan BUMN dengan melihat pengalaman. Mayoritas BUMN akan mendapatkan kenaikan modal yang signifikan.
Dia mengatakan, BUMN dalam bidang apa pun akan mendapat sambutan yang positif dari pasar. ”Jika pemerintah peduli dengan perkembangan pasar modal negeri ini, sebaiknya dilakukan IPO untuk BUMN,” paparnya.
Ito mencontohkan perkembangan saham BRI dan Telkom. Saham BRI selalu mengalami kenaikan sehingga harus stock split (pemecahan nilai nominal saham) agar harganya tidak terlalu tinggi.Telkom pun juga demikian, kapitalisasi modalnya sudah mencapai lebih dari Rp160 triliun. Hal ini melesat jauhdarisaatawalIPOyangkapitalnya kurang dari Rp20 triliun.
(gpr)
Lihat Juga :