Ekonomi Indonesia masih tahan krisis
Rabu, 10 Oktober 2012 - 10:57 WIB
Ekonomi Indonesia masih tahan krisis
A
A
A
Sindonews.com – Koreksi atas proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang dilakukan Dana Moneter Internasional (IMF) diyakini tidak akan terlalu berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia.
Ekonom Standard Chartered Eric Sugandhi menegaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan tetap tinggi yakni 6,3 persen pada 2012 dan 6,5 persen pada 2013 meskipun IMF memproyeksi adanya perlambatan di India dan China, dua negara yang selama ini menjadi mitra utama perdagangan Indonesia.
Eric mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih digerakkan oleh konsumsi domestik sehingga perlambatan ekonomi kawasan ataupunglobaltidakakanterlalu berpengaruh.“Eksporhanya menyumbang 10–11 persen, jadi tidak terlalu besar. Selagi konsumsi domestik masih tinggi, ekonomi Indonesia masih baik,” tutur Eric saat dihubungi kemarin.
Dia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia baru akan mengalami penurunan signifikan jika ada penerapan kebijakan yang menyentuh banyak masyarakat, misalnya kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi pada tahun depan. Alasannya, kebijakan tersebut bakal menimbulkan inflasi tinggi sehingga menggerus daya beli masyarakat.
Namun, mengingat akan ada kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) serta Pemilu 2014, sangat kecil kemungkinannya jika harga BBM dinaikkan tahun ini atau tahun depan. Senada dengan Eric,Kepala Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Lana Soelistianingsih mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan tetap kuat hingga tahun depan.
Hal tersebut dibuktikan dengan proyeksi dari IMF, Bank Dunia, serta Bank Pembangunan Asia (ADB) yang memperkirakan pertumbuhan Indonesia di kisaran 6 persen. “Mereka nampaknya cukup yakin bahwa perekonomian Indonesia lebih stabil dan kuat dibandingkan dengan negara-negara lain karena dukungan ekonomi domestiknya,” tutur Lana, kemarin.
Kendati demikian, Lana mengingatkan bahwa ekonomi Indonesia tidak akan kebal dari krisis global, terutama pada sektor perdagangan. Karena itulah, Lana sangat berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan infrastruktur sebagai salah satu cara menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia agar tetap tinggi.
Diketahui, IMF menerbitkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global terbaru kemarin. Dalam laporan bertajuk World Economic Outlook (WEO) IMF, perekonomian global belum akan membaik sampai akhir tahun ini. Laporan tersebut juga memperlihatkan bagaimana besarnya pengaruh krisis global terhadap sejumlah negara yang selama ini menjadi motor perekonomian dunia seperti China dan India.
Dalam WEO, IMF memberikan koreksi cukup tajam terhadap pertumbuhan ekonomi global, yakni menjadi hanya 3,3 persen pada tahun ini atau turun 0,2 persen dibandingkan proyeksi mereka pada Juli lalu (3,5 persen). Koreksi terbesar diberikan kepada India.
Bila pada Juli lalu IMF masih memproyeksi pertumbuhan India sebesar 6,2 persen, maka pada Oktober diperkirakan hanya tumbuh 4,9 persen atau turun 1,3 persen. China yang menjadi motor utama perekonomian Asia mengalami koreksi pertumbuhan sebesar 0,2 persen dari 8,0 persen menjadi 7,8 persen pada 2012.
Selama satu dekade terakhir, ekonomi China memang sangat menggantungkan diri pada investasi. Pada periode awal 2000-an, 50 persen perekonomian China disumbang oleh investasi. Menurunnya investasi China akan sangat berpengaruh terhadap negara-negara yang selama ini memiliki keterkaitan erat dengan industri di China seperti Malaysia, Korea Selatan, dan Taiwan.
“Sebaliknya, eksportir dengan komoditas yang lebih besar dan memiliki sumber pertumbuhan yang lebih beragam seperti Brasil dan Indonesia akan mengalami penurunan pertumbuhan yang tidak terlalu besar,” ujar IMF.
IMF memperkirakan, defisit anggaran Indonesia pada 2012 hanya akan berada pada level 2,0 persen terhadap PDB (pendapatan domestik bruto). IMF berharap, Indonesia terus melakukan reformasi kebijakan fiskal untuk mendukung pertumbuhan seperti mengurangi subsidi serta meningkatkan anggaran infrastruktur.
Ekonom Standard Chartered Eric Sugandhi menegaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan tetap tinggi yakni 6,3 persen pada 2012 dan 6,5 persen pada 2013 meskipun IMF memproyeksi adanya perlambatan di India dan China, dua negara yang selama ini menjadi mitra utama perdagangan Indonesia.
Eric mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih digerakkan oleh konsumsi domestik sehingga perlambatan ekonomi kawasan ataupunglobaltidakakanterlalu berpengaruh.“Eksporhanya menyumbang 10–11 persen, jadi tidak terlalu besar. Selagi konsumsi domestik masih tinggi, ekonomi Indonesia masih baik,” tutur Eric saat dihubungi kemarin.
Dia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia baru akan mengalami penurunan signifikan jika ada penerapan kebijakan yang menyentuh banyak masyarakat, misalnya kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi pada tahun depan. Alasannya, kebijakan tersebut bakal menimbulkan inflasi tinggi sehingga menggerus daya beli masyarakat.
Namun, mengingat akan ada kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) serta Pemilu 2014, sangat kecil kemungkinannya jika harga BBM dinaikkan tahun ini atau tahun depan. Senada dengan Eric,Kepala Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Lana Soelistianingsih mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan tetap kuat hingga tahun depan.
Hal tersebut dibuktikan dengan proyeksi dari IMF, Bank Dunia, serta Bank Pembangunan Asia (ADB) yang memperkirakan pertumbuhan Indonesia di kisaran 6 persen. “Mereka nampaknya cukup yakin bahwa perekonomian Indonesia lebih stabil dan kuat dibandingkan dengan negara-negara lain karena dukungan ekonomi domestiknya,” tutur Lana, kemarin.
Kendati demikian, Lana mengingatkan bahwa ekonomi Indonesia tidak akan kebal dari krisis global, terutama pada sektor perdagangan. Karena itulah, Lana sangat berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan infrastruktur sebagai salah satu cara menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia agar tetap tinggi.
Diketahui, IMF menerbitkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global terbaru kemarin. Dalam laporan bertajuk World Economic Outlook (WEO) IMF, perekonomian global belum akan membaik sampai akhir tahun ini. Laporan tersebut juga memperlihatkan bagaimana besarnya pengaruh krisis global terhadap sejumlah negara yang selama ini menjadi motor perekonomian dunia seperti China dan India.
Dalam WEO, IMF memberikan koreksi cukup tajam terhadap pertumbuhan ekonomi global, yakni menjadi hanya 3,3 persen pada tahun ini atau turun 0,2 persen dibandingkan proyeksi mereka pada Juli lalu (3,5 persen). Koreksi terbesar diberikan kepada India.
Bila pada Juli lalu IMF masih memproyeksi pertumbuhan India sebesar 6,2 persen, maka pada Oktober diperkirakan hanya tumbuh 4,9 persen atau turun 1,3 persen. China yang menjadi motor utama perekonomian Asia mengalami koreksi pertumbuhan sebesar 0,2 persen dari 8,0 persen menjadi 7,8 persen pada 2012.
Selama satu dekade terakhir, ekonomi China memang sangat menggantungkan diri pada investasi. Pada periode awal 2000-an, 50 persen perekonomian China disumbang oleh investasi. Menurunnya investasi China akan sangat berpengaruh terhadap negara-negara yang selama ini memiliki keterkaitan erat dengan industri di China seperti Malaysia, Korea Selatan, dan Taiwan.
“Sebaliknya, eksportir dengan komoditas yang lebih besar dan memiliki sumber pertumbuhan yang lebih beragam seperti Brasil dan Indonesia akan mengalami penurunan pertumbuhan yang tidak terlalu besar,” ujar IMF.
IMF memperkirakan, defisit anggaran Indonesia pada 2012 hanya akan berada pada level 2,0 persen terhadap PDB (pendapatan domestik bruto). IMF berharap, Indonesia terus melakukan reformasi kebijakan fiskal untuk mendukung pertumbuhan seperti mengurangi subsidi serta meningkatkan anggaran infrastruktur.
(rna)
Lihat Juga :