Indonesia makin dilirik investor China
Rabu, 10 Oktober 2012 - 18:11 WIB
Indonesia makin dilirik investor China
A
A
A
Sindonews.com - Kondusifnya iklim perekonomian, tingginya tingkat konsumsi, dan rendahnya upah tenaga kerja di Indonesia menjadi daya tarik tersendiri bagi para investor dari China.
Demikian disampaikan oleh Head of Global Market HSBC Indonesia, Ali Setiawan, dan Head of Global Trade and Receivables Finance HSBC Indonesia, Nirmala Salli, dalam acara konferensi pers "Internalisation of Renminbi - Opportunities and Challenges" di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (10/10/2012).
Pada kesempatan tersebut Ali menjelaskan, tingginya tingkat konsumsi masyarakat Indonesia menyebabkan Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial bagi para investor dari berbagai negara, termasuk China.
"Consumer spending sangat kuat dan akan masih akan berlanjut, dulu rata-rata 70 persen pendapatan orang Indonesia habis untuk makan, sekarang hanya 40 persen," ujar Ali.
Sementara itu, Nirmala memprediksi, dalam lima tahun kedepan, ekonomi Indonesia akan tumbuh dengan rata-rata 8,5 persen per tahun. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan yang tercepat di Asia. "Di Asia, kita yang tercepat," tandasnya.
Selain itu, Ali juga menyebut upah tenaga kerja yang tergolong rendah sebagai daya tarik bagi investor-investor asal China. "Indonesia makin menarik untuk investasi, labour cost-nya sangat murah, bahkan lebih murah dari China sehingga investor China pun tertarik," Ali melanjutkan.
Saat ini, hubungan dagang Indonesia-China memang tengah meningkat. Pertumbuhan ekonomi kedua negara pun masih tinggi.
Demikian disampaikan oleh Head of Global Market HSBC Indonesia, Ali Setiawan, dan Head of Global Trade and Receivables Finance HSBC Indonesia, Nirmala Salli, dalam acara konferensi pers "Internalisation of Renminbi - Opportunities and Challenges" di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (10/10/2012).
Pada kesempatan tersebut Ali menjelaskan, tingginya tingkat konsumsi masyarakat Indonesia menyebabkan Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial bagi para investor dari berbagai negara, termasuk China.
"Consumer spending sangat kuat dan akan masih akan berlanjut, dulu rata-rata 70 persen pendapatan orang Indonesia habis untuk makan, sekarang hanya 40 persen," ujar Ali.
Sementara itu, Nirmala memprediksi, dalam lima tahun kedepan, ekonomi Indonesia akan tumbuh dengan rata-rata 8,5 persen per tahun. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan yang tercepat di Asia. "Di Asia, kita yang tercepat," tandasnya.
Selain itu, Ali juga menyebut upah tenaga kerja yang tergolong rendah sebagai daya tarik bagi investor-investor asal China. "Indonesia makin menarik untuk investasi, labour cost-nya sangat murah, bahkan lebih murah dari China sehingga investor China pun tertarik," Ali melanjutkan.
Saat ini, hubungan dagang Indonesia-China memang tengah meningkat. Pertumbuhan ekonomi kedua negara pun masih tinggi.
(rna)
Lihat Juga :