Target pertumbuhan industri manufaktur direvisi

Senin, 15 Oktober 2012 - 08:53 WIB
Target pertumbuhan industri...
Target pertumbuhan industri manufaktur direvisi
A A A
Sindonews.com — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) merevisi target pertumbuhan industri pengolahan manufaktur tahun ini dari 7,1 persen menjadi 6,5 persen.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, revisi target itu dengan melihat adanya dampak dari krisis ekonomi global. Kendati demikian, Hidayat tetap optimistis industri manufaktur akan terus bertumbuh secara signifikan.

“Kalau mau realistis sih 6,5 persen atau dibawah 7 persen. Melihat kondisi hingga kuartal tiga, kami memprediksi pertumbuhannya di bawah 7 persen,” kata Hidayat di Jakarta, belum lama ini.

Adapun sejumlah sektor yang mendorong pertumbuhan industri manufaktur, kata dia, salah satunya adalah automotif. Menurutnya, investasi di sektor automotif terus meningkat.

Hidayat mencontohkan, produsen komponen asal Jepang yakni Denso Corporation akan mengalihkan basis produksi untuk wilayah Asia Tenggara dari Thailand ke Indonesia. Rencananya, Denso akan melakukan peletakan batu pertama (ground breaking) pabrik ketiganya di Bekasi pada November mendatang.

Sementara itu, terkait masalah penahanan kontainer berisi bahan baku baja di sejumlah pelabuhan, memang memengaruhi kinerja industri logam dasar di awal tahun ini. Namun, kinerja industri itu mulai kembali menggeliat di semester II/2012.

Hal itu, menurutnya, terlihat dari komitmen investasi di sektor tersebut, seperti investor China yang ingin membangun pabrik di Kalimantan. “Itu membuktikan, meski pertumbuhannya melemah, sektor tersebut tetap menjadi primadona,” tuturnya.

Hidayat menjelaskan, kinerja sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) juga mengalami penurunan. Penurunan itu, terjadi akibat melemahnya permintaan ekspor.

Hidayat mengatakan, ada sejumlah tantangan yang harus diatasi, yakni pelemahan pasar di Amerika dan Eropa, ketergantungan impor bahan baku dan penolong, produk impor, persaingan antara produk lokal dengan produk impor, kondisi infrastruktur sebagai pendukung produksi dan distribusi, ketersediaan lahan kawasan industri, serta jaminan pasokan bahan baku dan sumber energi.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Tahap II, Kemenag Salurkan...
Tahap II, Kemenag Salurkan 4,6 Juta Bantuan Paket Data untuk Siswa Madrasah
Kelembagaan dan Kebijakan...
Kelembagaan dan Kebijakan Ekonomi
Kemendagri Dorong Percepatan...
Kemendagri Dorong Percepatan Penataan dan Registrasi Posyandu
Kemenag Segera Miliki...
Kemenag Segera Miliki Instrumen Asesmen Kompetensi Madrasah
Kemendes PDT dan Transmigrasi...
Kemendes PDT dan Transmigrasi Ajak ISSF Sosialisasikan PP No. 11/2021 Terkait Kelembagaan BUMDES
KKP Segel Lahan Proyek...
KKP Segel Lahan Proyek Reklamasi di Batam
Berita Terkini
S&P Tahan RI Masih Investment...
S&P Tahan RI Masih Investment Grade, Fuad Bawazier Prediksi Ekonomi Bangkit 6 Bulan Lagi!
1 jam yang lalu
Transaksi Serba Digital,...
Transaksi Serba Digital, Pembelian Token Listrik Semakin Praktis
2 jam yang lalu
BI Injeksi Likuiditas...
BI Injeksi Likuiditas Rp837,11 Triliun, Tekanan di Pasar Uang Mulai Reda
2 jam yang lalu
Mantan Menkeu Ungkap...
Mantan Menkeu Ungkap 3 Gol Besar Sistem Ekspor Satu Pintu yang Dipuji S&P
3 jam yang lalu
MAMI Kelola Aset Rp125...
MAMI Kelola Aset Rp125 Triliun hingga Juni 2026, Catat Lebih 2,6 Juta Investor
3 jam yang lalu
Elnusa Petrofin Pastikan...
Elnusa Petrofin Pastikan Distribusi BBM di Sumatra Utara Kembali Normal
4 jam yang lalu
Infografis
Senjata Makan Tuan,...
Senjata Makan Tuan, Tarif Trump Ancam Industri Senjata AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved