Waspadai overheating pasar finansial

Selasa, 16 Oktober 2012 - 08:37 WIB
Waspadai overheating...
Waspadai overheating pasar finansial
A A A
Sindonews.com – Indonesia diminta mewaspadai ancaman kepanasan (overheating) serta penggelembungan (bubble) aset di pasar keuangan akibat pelonggaran moneter oleh sejumlah bank sentral di Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

Ekonom Senior Bank Dunia untuk Indonesia Ndiame Diop mengungkapkan, kebijakan pelonggaran moneter di sejumlah negara seperti quantitative easing (QE3) di Amerika Serikat (AS) telah mendorong kelebihan likuiditas di pasar saham. Likuiditas yang berlebih tersebut akan mencari tempat investasi baru yang dianggap menguntungkan.

Di tengah resesi global, negara-negara berkembang yang memiliki pertumbuhan tinggi seperti Indonesia merupakan tempat terbaik untuk memarkir likuiditas berlebih tersebut. Karena itulah, Indonesia diharapkan segera menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi dampak dari mengalirnya dana segar dari sejumlah negara seperti AS sehingga penggelembungan aset di pasar keuangan tidak terjadi.

“Penggelembungan harga aset di pasar finansial sangat mungkin terjadi. Ini harus segera dimitigasi. Namun, penggelembungan aset sangat tergantung pada supply and demand di pasar keuangan dan pasar properti,” tutur Diop dalam launching World Bank’s Indonesia Economic Quarterly di Kampus Paramadina Graduate School, Jakarta, kemarin.

Diop mengungkapkan, Bank Indonesia (BI) telah memberlakukan kebijakan tepat dalam mengantisipasi ancaman overheating pertumbuhan ekonomi seperti menaikkan down payment atau setoran uang muka bagi kredit kendaraan dan rumah.

Kebijakan yang tepat juga diharapkan bisa diterapkan BI untuk menangani ancaman overheating di pasar keuangan. “Saat ini penggelembungan aset dan overheating memang belum terjadi tetapi tetap harus dipantau terus,” imbuhnya.

Berdasarkan laporan Bank Dunia, penerapan QE3 di AS pada pertengahan September terbukti menambah likuiditas global, sehingga mendorong kenaikan harga aset-aset di pasar keuangan, seperti saham dan obligasi.

Kenaikan harga aset di negara-negara berkembang pada bulan September meningkat 13,6 persen dibanding posisi selama Juni. Selisih imbal hasil obligasi valas negara-negara berkembang dibandingkan dengan US Treasury (surat obligasi AS) menipis menjadi 310 basis poin dibandingkan dengan 440 basis poin pada awal Juni.

Kepala Ekonom Standard Chartered Fauzi Ichsan mengakui, risiko overheating dan penggelembungan aset sangat mungkin terjadi akibat sejumlah kebijakan moneter di sejumlah negara. Terlebih, pelonggaran moneter bukan hanya dilakukan AS tetapi juga bank sentral Eropa (ECB) dengan melakukan pembelian surat utang negara negara-negara Uni Eropa yang mengalami masalah seperti Yunani dan Italia.

Fauzi mengingatkan, suntikan likuiditas akan terus dilakukan negara-negara seperti AS dan Uni Eropa dalam dua tahun ke depan, sehingga kelebihan likuiditas masih sangat dimungkinkan. Menurutnya, sebagian likuiditas yang berlebih tersebut untuk sementara masih disimpan di pasar uang dan pasar obligasi AS karena pengelola dana belum berani memutar semua uangnya mengingat krisis Eropa masih berlangsung.

“Tetapi tahun depan terutama di semester I/2012 di saat krisis Eropa mereda otomatis pengelola dana akan menarik dana-dana mereka ke pasar-pasar modal ke negara-negara berkembang seperti Indonesia,” ujarnya.

Fauzi menambahkan, kelebihanlikuiditas di pasar keuangan Indonesia akan menjadi masalah karena Indonesia tidak mampu menyerap likuiditas tersebut melalui sektor riil. Penyerapan dan perputaran likuiditas tersebut pun akhirnya hanya akan terjadi di pasar keuangan hingga menyebabkan overheating serta penggelembungan aset di pasar keuangan.

Fauzi menyebut penggelembungan aset tersebut bisa meningkatkan price earning ratio (PE) terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG) menjadi 18-20x. Sebagai catatan, PE IHSG pada Agustus 2012 mencapai 13,77x sementara rekor PE IHSG tertinggi terjadi pada 11 Desember 2007 (19,22x).

“Pertumbuhan Indonesia memang pesat tetapi tidak cukup pesat untuk menyerap dana-dana tersebut ke sektor riil karena pertumbuhan sektor riil yang tidak seimbang dibandingkan sektor keuangan,” tandasnya.

Senior Partner and Co-founder CRECO Consultant Raden Pardede mengatakan, overheating dan penggelembungan aset memang belum terjadi tahun depan, tetapi bukan berarti hal tersebut tidak akan terjadi.

“Kita harus mulai menyiapkan diri, sehingga saat itu terjadi kita siap. Yang terpenting adalah bagaimana kita bereaksi terhadap hal itu. Mungkin belum akan terjadi pada tahun ini tapi bisa tahun depan,” ujarnya.

Dalam laporannya kemarin, Bank Dunia juga menyoroti perlunya perbaikan regulasi serta kualitas belanja untuk mendukung pertumbuhan yang lebih tinggi. Bank Dunia meyakini pertumbuhan Indonesia memang akan tetap tinggi pada tahun 2013 (6,3 persen) tetapi sejumlah perbaikan kebijakan tetap harus dilakukan untuk menjaga performa pertumbuhan.

Terlebih, Indonesia sekarang ini sangat menggantungkan sumber pertumbuhan pada konsumsi domestik serta investasi. Tanpa perbaikan regulasi, maka investor bisa meninggalkan Indonesia.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
S&P Tahan RI Masih Investment...
S&P Tahan RI Masih Investment Grade, Fuad Bawazier Prediksi Ekonomi Bangkit 6 Bulan Lagi!
3 jam yang lalu
Transaksi Serba Digital,...
Transaksi Serba Digital, Pembelian Token Listrik Semakin Praktis
4 jam yang lalu
BI Injeksi Likuiditas...
BI Injeksi Likuiditas Rp837,11 Triliun, Tekanan di Pasar Uang Mulai Reda
5 jam yang lalu
Mantan Menkeu Ungkap...
Mantan Menkeu Ungkap 3 Gol Besar Sistem Ekspor Satu Pintu yang Dipuji S&P
5 jam yang lalu
MAMI Kelola Aset Rp125...
MAMI Kelola Aset Rp125 Triliun hingga Juni 2026, Catat Lebih 2,6 Juta Investor
6 jam yang lalu
Elnusa Petrofin Pastikan...
Elnusa Petrofin Pastikan Distribusi BBM di Sumatra Utara Kembali Normal
6 jam yang lalu
Infografis
Gubernur DKI Dorong...
Gubernur DKI Dorong Pasar di Jakarta Lakukan Digitalisasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved