Dahlan: Kerugian Pertamina di Australia itu wajar

Selasa, 16 Oktober 2012 - 20:48 WIB
Dahlan: Kerugian Pertamina...
Dahlan: Kerugian Pertamina di Australia itu wajar
A A A
Sindonews.com - Mengenai temuan BPK tentang adanya investasi PT Pertamina di Blok Basker Manta (Australia) yang merugikan negara hingga Rp568 miliar, Menteri BUMN Dahlan Iskan menyatakan bahwa kejadian tersebut adalah sesuatu yang wajar dalam industri pertambangan.

Sebab, lanjut Dahlan, bidang pertambangan memiliki resiko investasi yang tinggi, bisa saja sebuah blok pertambangan tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan.

“Bahwa kemudian tidak menghasilkan, investasi minyak memang begitu, resikonya begitu,” terang Dahlan di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (16/10/2012).

Mantan Dirut PLN tersebut juga menilai, investasi yang dilakukan perusahaan minyak berplat merah tersebut telah melalui proses pertimbangan yang matang. Ia membantah adanya kelalaian Pertamina dalam proses pengambilan keputusan investasi.

“Investasi itu bersama-sama antara Pertamina dengan perusahaan-perusahaan asing lainnya, sehingga saya menduga proses pengkajian terhadap investasi itu sudah dilakukan dengan baik karena tidak hanya pertamina yang melakukan, perusahaan-perusahaan besar dunia juga melakukan,” imbuhnya.

Dalam kesempatan ini, Dahlan juga menekankan bahwa kerugian investasi yang dialami Pertamina tidak perlu dipermasalahkan secara hukum selama proses pengambilan keputusan dilakukan dengan proses yang baik dan benar. Namun pihaknya berpendapat, investasi tersebut sebaiknya dihentikan saja agar kerugian tidak bertambah besar.

“Kalau menurut saya disetop saja. Kalau memang tidak feasible ya memang harus pull out,” ujar Dahlan.

Sebagaimana diketahui, BPK baru-baru ini menemukan kegiatan investasi Pertamina di Australia tidak dicatat dan dimasukkan ke Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Bahkan, kegiatan investasi senilai AUSD66,2 juta atau Rp568 miliar di Blok Basker Manta Gummy Australia itu dihapuskan dari aset minyak dan gas bumi.

Pemeriksaan juga menemukan bahwa target akuisisi dan harga beli belum diketahui saat RKAP disusun. Selain itu, RKAP revisi 2010 tidak bisa menunjukkan adanya peningkatan kuota produksi minyak.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Petani Mendapat Sosialisasi...
Petani Mendapat Sosialisasi Keamanan Seiring Gas JTB Mulai Dialirkan
Pertamina Mulai Berlakukan...
Pertamina Mulai Berlakukan Transaksi Non Tunai
Penjualan Kondensat...
Penjualan Kondensat Pertamina EP Subang Field
Pertamina EP Donggi...
Pertamina EP Donggi Matindok Field Dorong Perekonomian Kelompok Wanita Banggai
PEP Prabumulih Field...
PEP Prabumulih Field Dukung Gerakan Ketahanan Pangan
Restrukturisasi Pertamina...
Restrukturisasi Pertamina Ditegaskan Sesuai Buku Putih dan Roadmap BUMN
Berita Terkini
Keruntuhan Dolar AS...
Keruntuhan Dolar AS Bukan Lagi Dongeng, BRICS Ubah dari Khayalan Menjadi Ancaman Nyata
51 menit yang lalu
RI-India Bidik Nilai...
RI-India Bidik Nilai Kerja Sama Ekonomi Tembus Rp445,8 Triliun, dari Infrastruktur hingga SDA
1 jam yang lalu
Genera-Z Berbakti BCA...
Genera-Z Berbakti BCA Siapkan Mahasiswa Implementasikan Solusi bagi Desa Wisata
10 jam yang lalu
Kapal Tanker Kembali...
Kapal Tanker Kembali Diserang di Selat Hormuz, Harga Minyak Langsung Terbang
11 jam yang lalu
Pertamina Evaluasi Insiden...
Pertamina Evaluasi Insiden Mobil Tangki di Cianjur, Pasokan BBM Dipastikan Aman
11 jam yang lalu
Bertemu PM Modi, Prabowo...
Bertemu PM Modi, Prabowo Minta QRIS Segera Bisa Dipakai di India
11 jam yang lalu
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved