Ini langkah GAPMMI siasati kenaikan TDL
Kamis, 18 Oktober 2012 - 16:50 WIB
Ini langkah GAPMMI siasati kenaikan TDL
A
A
A
Sindonews.com - Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) mengaku telah menyiapkan langkah-langkah untuk menekan biaya produksi. Hal ini dilakukan untuk menghadapi rencana pemerintah menaikkan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 15 persen pada Januari 2013 mendatang.
"Tentunya pengusaha makanan dan minuman akan melakukan efisiensi," ungkap Ketua Umum GAPMMI Adhi S Lukman seusai menghadiri konferensi pers Trade Expo Indonesia (TEI) 2012 di JI Expo, Jakarta, Kamis (18/10/2012).
Adhi menerangkan, biaya energi listrik merupakan 15 persen dari seluruh biaya produksi. Artinya, kenaikan TDL sebesar 15 persen akan menyebabkan pembengkakan biaya produksi kurang lebih 1,5-2 persen.
Selain TDL, dia juga mengkhawatirkan adanya kenaikan biaya-biaya lain seperti upah minimum dan gas. "Belum nanti kenaikan gas, UMP, dan sebagainya. Perkiraan saya akan terjadi peningkatan 5 persen dari biaya produksi," tambahnya.
Lebih lanjut, Adhi memaparkan, para pengusaha makanan dan minuman akan melakukan sejumlah langkah efisiensi, seperti substitusi bahan baku dan bahan pelengkap untuk menyiasati kenaikan TDL.
"Yang perlu kita lakukan adalah substitusi bahan baku dan bahan tambahan pangan. Kita perlu cari produk-produk yang lebih kompetitif yang bisa menggantikan bahan yang mahal," jelasnya.
Bila usaha-usaha efisiensi yang dilakukan masih kurang efektif, mau tidak mau langkah menaikkan harga jual diambil sebagai opsi terburuk. "Kalau ternyata margin tidak bisa menipis, kita harus naik harga. Tapi itu upaya terakhir," tutur Adhi.
"Tentunya pengusaha makanan dan minuman akan melakukan efisiensi," ungkap Ketua Umum GAPMMI Adhi S Lukman seusai menghadiri konferensi pers Trade Expo Indonesia (TEI) 2012 di JI Expo, Jakarta, Kamis (18/10/2012).
Adhi menerangkan, biaya energi listrik merupakan 15 persen dari seluruh biaya produksi. Artinya, kenaikan TDL sebesar 15 persen akan menyebabkan pembengkakan biaya produksi kurang lebih 1,5-2 persen.
Selain TDL, dia juga mengkhawatirkan adanya kenaikan biaya-biaya lain seperti upah minimum dan gas. "Belum nanti kenaikan gas, UMP, dan sebagainya. Perkiraan saya akan terjadi peningkatan 5 persen dari biaya produksi," tambahnya.
Lebih lanjut, Adhi memaparkan, para pengusaha makanan dan minuman akan melakukan sejumlah langkah efisiensi, seperti substitusi bahan baku dan bahan pelengkap untuk menyiasati kenaikan TDL.
"Yang perlu kita lakukan adalah substitusi bahan baku dan bahan tambahan pangan. Kita perlu cari produk-produk yang lebih kompetitif yang bisa menggantikan bahan yang mahal," jelasnya.
Bila usaha-usaha efisiensi yang dilakukan masih kurang efektif, mau tidak mau langkah menaikkan harga jual diambil sebagai opsi terburuk. "Kalau ternyata margin tidak bisa menipis, kita harus naik harga. Tapi itu upaya terakhir," tutur Adhi.
(rna)
Lihat Juga :