1.028 koperasi belum bisa terlibat proyek migas
Jum'at, 26 Oktober 2012 - 16:42 WIB
1.028 koperasi belum bisa terlibat proyek migas
A
A
A
Sindonews.com - Koperasi di Kabupaten Bojonegoro masih belum bisa terlibat dalam kegiatan proyek industri minyak dan gas bumi di Blok Cepu maupun Lapangan Sukowati di Bojonegoro. Koperasi masih banyak berkutat di usaha simpan pinjam, serba usaha, dan pertokoan.
Jumlah koperasi baik yang bergerak dalam usaha simpan pinjam, serba usaha, dan pertokoan yang tercatat di Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinkop dan UKM) Pemkab Bojonegoro tercatat sebanyak 1.028. Koperasi itu tersebar di 28 kecamatan di Bojonegoro.
Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi dan UKM Pemkab Bojonegoro, Heri Santoso, koperasi masih mempunyai kendala yakni terbatasnya sumber daya manusia (SDM) dan pendanaan untuk terlibat dalam kegiatan di proyek migas.
“Memang ironis Bojonegoro dikenal sebagai daerah tambang migas tetapi koperasinya belum ada satu pun yang terlibat dalam kegiatan di sektor itu,” ujar Heri Santoso, Jumat (26/10/2012).
Menurutnya, kendala koperasi yang belum bisa terlibat dalam kegiatan proyek migas itu sebetulnya bisa diatasi. Yakni dengan memajukan sumber daya manusia yang mengelola koperasi tersebut dan menguatkan permodalan. Di samping itu, koperasi juga mempunyai jaringan dengan kalangan usaha yang bergerak di proyek migas.
Ia menyebutkan, terakhir ada salah satu koperasi di Desa/Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro yang mendaftar sebagai jasa penyedia penyewaan truk untuk pengangkutan tanah uruk di sekitar lapangan Banyu Urip, Blok Cepu di Bojonegoro. “Namun, sampai sekarang juga belum ada kelanjutannya,” ujarnya.
Sebagian besar koperasi di Bojonegoro, kata dia, bergerak dalam bidang koperasi simpan pinjam, koperasi serba usaha, dan bergerak dalam bidang pertokoan. Selain itu, ada yang bergerak di bidang distributor pupuk, pengadaan pangan, pelayanan rekening listrik, apotik, dan usaha tembakau.
Menurut Totok Agung Purnomo, pengurus Koperasi Media Mandiri di Jalan Brigjen Sutoyo Bojonegoro, mengatakan, semestinya pihak Dinkop dan UKM memberikan pelatihan secara berkelanjutan pada pengurus dan pengelola koperasi agar lebih maju. Selain itu, Dinkop dan UKM bisa menjadi penghubung antara koperasi dengan usaha di sektor migas.
“Memang dari sisi sumber daya manusia dan permodalan itu koperasi masih lemah. Tetapi, semestinya koperasi harus diberdayakan agar bisa mendapatkan manfaat dari berkah migas yang melimpah di daerahnya,” ujarnya.
Menurut Direktur PT Bangun Bangkit Sarana (BBS) Dedy Afidick, selain potensi minyak mentah, di perut bumi Bojonegoro juga terkandung melimpah cadangan gas bumi. Bahkan, cadangan gas bumi diperkirakan mencapai 350 juta kaki kubik per hari.
“Nah, potensi gas bumi itu yang nantinya dapat dikelola sebagian oleh daerah. Perusahaan daerah dan pengusaha lokal nantinya dapat terlibat mengelola potensi gas itu,” tandasnya.
Jumlah koperasi baik yang bergerak dalam usaha simpan pinjam, serba usaha, dan pertokoan yang tercatat di Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinkop dan UKM) Pemkab Bojonegoro tercatat sebanyak 1.028. Koperasi itu tersebar di 28 kecamatan di Bojonegoro.
Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi dan UKM Pemkab Bojonegoro, Heri Santoso, koperasi masih mempunyai kendala yakni terbatasnya sumber daya manusia (SDM) dan pendanaan untuk terlibat dalam kegiatan di proyek migas.
“Memang ironis Bojonegoro dikenal sebagai daerah tambang migas tetapi koperasinya belum ada satu pun yang terlibat dalam kegiatan di sektor itu,” ujar Heri Santoso, Jumat (26/10/2012).
Menurutnya, kendala koperasi yang belum bisa terlibat dalam kegiatan proyek migas itu sebetulnya bisa diatasi. Yakni dengan memajukan sumber daya manusia yang mengelola koperasi tersebut dan menguatkan permodalan. Di samping itu, koperasi juga mempunyai jaringan dengan kalangan usaha yang bergerak di proyek migas.
Ia menyebutkan, terakhir ada salah satu koperasi di Desa/Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro yang mendaftar sebagai jasa penyedia penyewaan truk untuk pengangkutan tanah uruk di sekitar lapangan Banyu Urip, Blok Cepu di Bojonegoro. “Namun, sampai sekarang juga belum ada kelanjutannya,” ujarnya.
Sebagian besar koperasi di Bojonegoro, kata dia, bergerak dalam bidang koperasi simpan pinjam, koperasi serba usaha, dan bergerak dalam bidang pertokoan. Selain itu, ada yang bergerak di bidang distributor pupuk, pengadaan pangan, pelayanan rekening listrik, apotik, dan usaha tembakau.
Menurut Totok Agung Purnomo, pengurus Koperasi Media Mandiri di Jalan Brigjen Sutoyo Bojonegoro, mengatakan, semestinya pihak Dinkop dan UKM memberikan pelatihan secara berkelanjutan pada pengurus dan pengelola koperasi agar lebih maju. Selain itu, Dinkop dan UKM bisa menjadi penghubung antara koperasi dengan usaha di sektor migas.
“Memang dari sisi sumber daya manusia dan permodalan itu koperasi masih lemah. Tetapi, semestinya koperasi harus diberdayakan agar bisa mendapatkan manfaat dari berkah migas yang melimpah di daerahnya,” ujarnya.
Menurut Direktur PT Bangun Bangkit Sarana (BBS) Dedy Afidick, selain potensi minyak mentah, di perut bumi Bojonegoro juga terkandung melimpah cadangan gas bumi. Bahkan, cadangan gas bumi diperkirakan mencapai 350 juta kaki kubik per hari.
“Nah, potensi gas bumi itu yang nantinya dapat dikelola sebagian oleh daerah. Perusahaan daerah dan pengusaha lokal nantinya dapat terlibat mengelola potensi gas itu,” tandasnya.
(gpr)
Lihat Juga :