Neraca perdagangan diprediksi surplus
Sabtu, 27 Oktober 2012 - 10:54 WIB
Neraca perdagangan diprediksi surplus
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah optimistis neraca perdagangan pada September bisa kembali mencatat surplus. Melemahnya impor menjadi pendorongnya.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa meyakini, catatan neraca perdagangan pada September akan mengikuti tren Agustus lalu, dimana pada bulan tersebut terjadi surplus sebesar USD248,5 juta.
Torehan surplus tersebut merupakan yang pertama kalinya setelah empat bulan defisit, yakni sejak April hingga Juli 2012. Pada April, neraca perdagangan tercatat defisit sebesar USD764,7 juta, Mei sebesar USD485,9 juta, Juni sebesar UD1,32 miliar serta Juli mencapai USD176,5 juta.
“Kita yakin setelah empat bulan berturut-turut mengalami defisit, September akan kembali surplus seperti Agustus. Impornya akan menurun karena investor sudah punya cukup barang modal,” tutur Hatta, di kantornya, Jakarta, belum lama ini.
Hatta berpendapat, impor barang modal akan mengalami penurunan karena selama April–Juli, saat neraca perdagangan Indonesia terus tercatat defisit, investor sudah mendatangkan barang modal dan barang baku/penolong bagi industri mereka. Dengan demikian, mereka sudah cukup punya cadangan hingga akhir tahun.
Sebagai catatan, impor Indonesia selama Januari–Agustus didominasi barang modal dan barang baku/penolong. Nilai impor komoditas tersebut mencapai USD117,76 miliar atau 92,97 persen dari total impor Indonesia yang mencapai USD126,67 miliar.
“Impor kemarin tinggi karena investasi barang modal juga tinggi. Barang modal masuk sudah masuk semua jadi drop barang baku dan modal juga sudah mulai berkurang,” jelasnya.
Dengan keyakinan impor barang modal sudah tercukupi, Hatta optimistis tren surplus akan terus terjadi hingga akhir tahun. Hal yang sama dikatakan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan.
Dia yakin surplus neraca perdagangan akan kembali terjadi pada September. Namun, Gita melihat nilai surplusnya tidak akan terlalu besar mengingat kinerja ekspor yang belum juga membaik di tengah krisis global.
“Ekspor kita dengan trade expo kemarin itu bagus. Jadinya, kalau kita bisa mencapai sedikit surplus saja sudah sesuai harapan,” ucapnya.
Meskipun neraca perdagangan Agustus sudah kembali mencatatkan surplus, Gita mengakui sangat berat bagi Indonesia untuk menyamai perolehan nilai ekspor seperti tahun lalu, yakni USD203 miliar. Terlebih, hingga selama Januari–Agustus, kinerja ekspor hanya bisa membukukan nilai sebesar USD127,17 miliar atau turun 5,58 persen dibandingkan tahun lalu.
“Tahun ini, kalau sama dengan tahun lalu sudah bagus. Kalau kita lihat delapan bulan pertama (ekspor tercatat) USD130-an miliar. Jadi, kurang lebih (harus bisa membukukan) USD17,5-18 miliar per bulan (pada September–Desember),” paparnya.
Gita mengatakan, jika nilai ekspor pada September mampu mencapai USD17,5 miliar, maka target ekspor USD203 miliar pada tahun ini akan sangat memungkinkan dicapai. Namun, jika kinerja ekspor September lebih rendah dari itu, maka akan sangat berat bagi Indonesia untuk meraih target.
“Yang penting gap-nya (hingga akhir tahun), eksporimpor positif atau negatif. Mudah-mudahan positif,” tuturnya.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa meyakini, catatan neraca perdagangan pada September akan mengikuti tren Agustus lalu, dimana pada bulan tersebut terjadi surplus sebesar USD248,5 juta.
Torehan surplus tersebut merupakan yang pertama kalinya setelah empat bulan defisit, yakni sejak April hingga Juli 2012. Pada April, neraca perdagangan tercatat defisit sebesar USD764,7 juta, Mei sebesar USD485,9 juta, Juni sebesar UD1,32 miliar serta Juli mencapai USD176,5 juta.
“Kita yakin setelah empat bulan berturut-turut mengalami defisit, September akan kembali surplus seperti Agustus. Impornya akan menurun karena investor sudah punya cukup barang modal,” tutur Hatta, di kantornya, Jakarta, belum lama ini.
Hatta berpendapat, impor barang modal akan mengalami penurunan karena selama April–Juli, saat neraca perdagangan Indonesia terus tercatat defisit, investor sudah mendatangkan barang modal dan barang baku/penolong bagi industri mereka. Dengan demikian, mereka sudah cukup punya cadangan hingga akhir tahun.
Sebagai catatan, impor Indonesia selama Januari–Agustus didominasi barang modal dan barang baku/penolong. Nilai impor komoditas tersebut mencapai USD117,76 miliar atau 92,97 persen dari total impor Indonesia yang mencapai USD126,67 miliar.
“Impor kemarin tinggi karena investasi barang modal juga tinggi. Barang modal masuk sudah masuk semua jadi drop barang baku dan modal juga sudah mulai berkurang,” jelasnya.
Dengan keyakinan impor barang modal sudah tercukupi, Hatta optimistis tren surplus akan terus terjadi hingga akhir tahun. Hal yang sama dikatakan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan.
Dia yakin surplus neraca perdagangan akan kembali terjadi pada September. Namun, Gita melihat nilai surplusnya tidak akan terlalu besar mengingat kinerja ekspor yang belum juga membaik di tengah krisis global.
“Ekspor kita dengan trade expo kemarin itu bagus. Jadinya, kalau kita bisa mencapai sedikit surplus saja sudah sesuai harapan,” ucapnya.
Meskipun neraca perdagangan Agustus sudah kembali mencatatkan surplus, Gita mengakui sangat berat bagi Indonesia untuk menyamai perolehan nilai ekspor seperti tahun lalu, yakni USD203 miliar. Terlebih, hingga selama Januari–Agustus, kinerja ekspor hanya bisa membukukan nilai sebesar USD127,17 miliar atau turun 5,58 persen dibandingkan tahun lalu.
“Tahun ini, kalau sama dengan tahun lalu sudah bagus. Kalau kita lihat delapan bulan pertama (ekspor tercatat) USD130-an miliar. Jadi, kurang lebih (harus bisa membukukan) USD17,5-18 miliar per bulan (pada September–Desember),” paparnya.
Gita mengatakan, jika nilai ekspor pada September mampu mencapai USD17,5 miliar, maka target ekspor USD203 miliar pada tahun ini akan sangat memungkinkan dicapai. Namun, jika kinerja ekspor September lebih rendah dari itu, maka akan sangat berat bagi Indonesia untuk meraih target.
“Yang penting gap-nya (hingga akhir tahun), eksporimpor positif atau negatif. Mudah-mudahan positif,” tuturnya.
(rna)
Lihat Juga :