Pertamina sulit atasi penyelundupan BBM subsidi
Selasa, 30 Oktober 2012 - 09:22 WIB
Pertamina sulit atasi penyelundupan BBM subsidi
A
A
A
Sindonews.com - PT Pertamina (Persero) secara terbuka mengakui bahwa pihaknya kesulitan mengatasi penyelundupan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar. Disparitas harga yang terlampau lebar ditengarai sebagai penyebab maraknya penyalahgunaan solar.
"Kita terbuka saja, memang banyak solar bersubsidi yang diselundupkan untuk industri," ungkap Vice President Fuel Retail Marketing Pertamina, Suhartoko dalam paparannya pada acara Media Gathering Pertamina di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Senin (29/10/2012) malam.
Suhartoko memaparkan, rentang perbedaan harga solar untuk kebutuhan industri dan non-industri harus diperkecil untuk menghentikan penyalahgunaan solar bersubsidi. "Yang perlu kita pikirkan bersama ialah perbedaan harga solar. Perbedaan harga antara solar untuk industri dan non industri terlalu besar," jelasnya.
Seperti diketahui, saat ini harga solar bersubsidi yang dijual di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) hanya Rp4.500 per liter. Sedangkan, harga solar non-subsidi untuk industri mencapai lebih dari sepuluh Rp10.000 per liternya.
Perbedaan harga yang sangat besar inilah yang mendorong terjadinya penyalahgunaan solar bersubsidi untuk kebutuhan industri. Dengan kondisi seperti ini, lanjut Suhartoko, pihak manapun akan sangat kesulitan menangkal penyelundupan.
"Siapa pun akan sulit mengawasi bila kondisinya seperti itu," tutupnya.
"Kita terbuka saja, memang banyak solar bersubsidi yang diselundupkan untuk industri," ungkap Vice President Fuel Retail Marketing Pertamina, Suhartoko dalam paparannya pada acara Media Gathering Pertamina di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Senin (29/10/2012) malam.
Suhartoko memaparkan, rentang perbedaan harga solar untuk kebutuhan industri dan non-industri harus diperkecil untuk menghentikan penyalahgunaan solar bersubsidi. "Yang perlu kita pikirkan bersama ialah perbedaan harga solar. Perbedaan harga antara solar untuk industri dan non industri terlalu besar," jelasnya.
Seperti diketahui, saat ini harga solar bersubsidi yang dijual di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) hanya Rp4.500 per liter. Sedangkan, harga solar non-subsidi untuk industri mencapai lebih dari sepuluh Rp10.000 per liternya.
Perbedaan harga yang sangat besar inilah yang mendorong terjadinya penyalahgunaan solar bersubsidi untuk kebutuhan industri. Dengan kondisi seperti ini, lanjut Suhartoko, pihak manapun akan sangat kesulitan menangkal penyelundupan.
"Siapa pun akan sulit mengawasi bila kondisinya seperti itu," tutupnya.
(rna)
Lihat Juga :