Industri perbankan butuh cetak biru

Selasa, 30 Oktober 2012 - 10:07 WIB
Industri perbankan butuh...
Industri perbankan butuh cetak biru
A A A
Sindonews.com – Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) menilai Indonesia memerlukan cetak biru perbankan yang jelas. Cetak biru tersebut untuk memberikan arahkan industri perbankan Indonesia ke depan.

Ketua Perbanas Sigit Pramono mengungkapkan, sebenarnya Bank Indonesia telah membuat Arsitektur Perbankan Indonesia (API) pada 2004, namun kenyataannya pemikiran-pemikiran yang tercantum dalam API, seperti mewujudkan bank internasional, nasional dan regional tidak bisa direalisasikan.

Dari segi hukum, sambung Sigit, produk hukum API hanya dalam bentuk Peraturan Bank Indonesia (PBI), sehingga selama ini API hanya mengikat BI dan perbankan, tapi tidak otoritas fiskal ataupun pemerintah sebagai salah satu pemilik bank.

“Pemerintah kan pemilik bank, apakah mereka ikuti arah API? Dalam kenyataannya kalau pemerintah mau wujudkan bank berskala nasional dan regional agar bisa bersaing dengan regional yang besar-besar maka perlu pemikiran yang serius,” ujar Sigit dalam Jumpa Pers Kongres XVIII dan Paparan tentang Sumbangan Pemikiran untuk Cetak Biru Arah Strategi Perbankan Nasional ke Depan, di Jakarta, kemarin.

Keberadaan cetak biru perbankan sangat penting agar semua pihak, baik itu regulator seperti Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), pelaku industri perbankan dan sektor riil bisa duduk bersama untuk susun cetak biru.

Menurut Sigit, dalam cetak biru perbankan nasional, perlu ditekankan asas keseimbangan antara bank besar dan bank kecil, bank milik negara dan swasta, serta untuk bank domestik dan bank asing. “Yang penting itu, bank harus kokoh, efisien, layanan baik dan sehat. Jadi, tidak hanya terbatas bank besar dan bank kecil,” tuturnya.

Perbanas pun mengusulkan, diperlukan adanya pembagian jenis bank menjadi bank umum dan bank khusus dalam cetak biru perbankan nasional. Menurut Sigit, pembagian jenis bank menjadi bank umum dan bank khusus akan membantu perekonomian di masa mendatang karena adanya dua jenis bank ini dalam cetak biru perbankan diharapkan tidak akan membuat para pemangku kepentingan kesulitan menyesuaikan kebijakan demi perekonomian Indonesia.

“Kalau kita punya cetak biru perbankan nasional, itu tidak akan Bapindo gabung jadi Bank Mandiri. Sekarang kita mau biayai infrastruktur bingung, sampai mau buat bank infrastruktur. UU yang lama itu, bank hanya bank umum dan BPR. Makanya, ini kalau ada bank infrastruktur, masuk mana,” tuturnya.

Sigit berharap, cetak biru perbankan memiliki kekuatan hukum yang cukup tinggi, sehingga bisa mengikat seluruh pemangku kepentingan dalam membuat keputusan. Perbanas sendiri, kata Sigit, telah mengusulkan kepada BI, OJK dan DPR terkait cetak biru perbankan nasional, di mana untuk bank umum tetap sebagai badan usaha yang mengumpulkan simpanan masyarakat untuk disalurkan kembali melalui pinjaman.

Sedangkan bank khusus, memiliki sumber dana yang lebih variatif,bisa dari luar negeri. “Istilahnya, kita bangun jalan tol saja tidak bisa-bisa. Ini bank umum kan dananya missmatch kalau digunakan untuk membiaya proyek jangka panjang. Sekarang ini mayoritas deposito masyarakat saja jangka pendek, sebulanan dan roll over (diperpanjang) terus. Jadi, perlu ada bank khusus,” tandasnya
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pemerintah Target Bank...
Pemerintah Target Bank Syariah Indonesia Tbk Masuk Top 10 Dunia
Ada dari Negara Tetangga,...
Ada dari Negara Tetangga, Berikut 5 Bank Syariah Terbesar di Dunia
MNC Bank Ditunjuk Jadi...
MNC Bank Ditunjuk Jadi Bank RDN Periode 2024-2029
Pembobol Dana Nasahah...
Pembobol Dana Nasahah Bank BJB Ditangkap
Uang di Rekening Hilang...
Uang di Rekening Hilang Nasabah Datangi Kantor Bank Sulselbar
Satu Pelaku Perampokan...
Satu Pelaku Perampokan Bank di Bandar Lampung Ditangkap
Berita Terkini
S&P Tahan RI Masih Investment...
S&P Tahan RI Masih Investment Grade, Fuad Bawazier Prediksi Ekonomi Bangkit 6 Bulan Lagi!
6 jam yang lalu
Transaksi Serba Digital,...
Transaksi Serba Digital, Pembelian Token Listrik Semakin Praktis
7 jam yang lalu
BI Injeksi Likuiditas...
BI Injeksi Likuiditas Rp837,11 Triliun, Tekanan di Pasar Uang Mulai Reda
7 jam yang lalu
Mantan Menkeu Ungkap...
Mantan Menkeu Ungkap 3 Gol Besar Sistem Ekspor Satu Pintu yang Dipuji S&P
8 jam yang lalu
MAMI Kelola Aset Rp125...
MAMI Kelola Aset Rp125 Triliun hingga Juni 2026, Catat Lebih 2,6 Juta Investor
8 jam yang lalu
Elnusa Petrofin Pastikan...
Elnusa Petrofin Pastikan Distribusi BBM di Sumatra Utara Kembali Normal
8 jam yang lalu
Infografis
AS Butuh Rp15.919 Triliun...
AS Butuh Rp15.919 Triliun untuk Memodernisasi Senjata Nuklirnya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved