Peningkatan peringkat dorong sektor riil

Jum'at, 02 November 2012 - 09:28 WIB
Peningkatan peringkat...
Peningkatan peringkat dorong sektor riil
A A A
Sindonews.com – Peningkatan rating (peringkat) Indonesia menjadi investment grade merupakan peluang untuk mendorong pertumbuhan sektor riil. Kenaikan rating akan mendorong semakin besarnya arus masuk modal asing.

“Perkembangan ini akan memperkuat neraca pembayaran, cadangan devisa, dan nilai tukar rupiah. Yang kita harapkan adalah arus modal asing yang berjangka panjang untuk pembiayaan investasi di sektor riil, khususnya dalam PMA, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Perry Warjiyo di Jakarta kemarin.

Indonesia pekan lalu kembali mendapatkan kenaikan peringkat ke investment grade dari Rating and Investment Information, Inc (R&I). Kenaikan ini yang keempat setelah Fitch, Moodys dan Japan Credit Rating (JCR).

Menurut Perry, manfaat terbesar dari kenaikan rating memerlukan peningkatan daya serap sektor riil yang tidak hanya mengandalkan investasi asing, tetapi justru investasi dari dalam negeri. Perlu kebijakan investasi, industri dan perdagangan untuk memperbaiki struktur perekonomian Indonesia, baik antarsektor, antarskala usaha, maupun antardaerah.

“Kalau ini dapat dilakukan, tidak hanya pertumbuhan akan lebih tinggi, tetapi penciptaan lapangan kerja dan pengentasan rakyat dari kemiskinan akan lebih baik. Ketergantungan impor juga akan berkurang, dan mendukung kesehatan neraca pembayaran,” katanya.

Secara sektoral, lanjut dia, pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama ini ditopang oleh sektor yang kurang dapat menyerap tenaga kerja, seperti sektor pengangkutan dan komunikasi tumbuh 10,1 persen pada kuartal II/2012. Sementara, sektor yang daya penyerapan tenaga kerjanya terbesar, yaitu sektor pertanian tumbuh lambat hanya 3,7 persen.

Menurut dia, gejala deindustrialisasi semakin jelas terjadi dengan menurunkan kontribusi industri pengolahan dalam PDB, yaitu dari 27,8 persen pada tahun 2008 menjadi 23,5 persen pada kuartal II/2012.

Untuk itu,lanjutnya kebijakan fiskal pemerintah diharapkan mampu memberikan stimulus fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi selain yang disediakan dalam APBN 2012 Rp15,4 triliun dan yang direncanakan di APBN 2013.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
IHSG Kembali ke Level...
IHSG Kembali ke Level 6 Ribuan usai Melesat 4,24%, Kapitalisasi Pasar Jadi Rp10.749 Triliun
42 menit yang lalu
S&P Tahan RI Masih Investment...
S&P Tahan RI Masih Investment Grade, Fuad Bawazier Prediksi Ekonomi Bangkit 6 Bulan Lagi!
9 jam yang lalu
Transaksi Serba Digital,...
Transaksi Serba Digital, Pembelian Token Listrik Semakin Praktis
10 jam yang lalu
BI Injeksi Likuiditas...
BI Injeksi Likuiditas Rp837,11 Triliun, Tekanan di Pasar Uang Mulai Reda
10 jam yang lalu
Mantan Menkeu Ungkap...
Mantan Menkeu Ungkap 3 Gol Besar Sistem Ekspor Satu Pintu yang Dipuji S&P
11 jam yang lalu
MAMI Kelola Aset Rp125...
MAMI Kelola Aset Rp125 Triliun hingga Juni 2026, Catat Lebih 2,6 Juta Investor
11 jam yang lalu
Infografis
Gubernur DKI Dorong...
Gubernur DKI Dorong Pasar di Jakarta Lakukan Digitalisasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved