Ekonomi RI diprediksi melambat
Senin, 05 November 2012 - 09:56 WIB
Ekonomi RI diprediksi melambat
A
A
A
Sindonews.com - Pertumbuhan ekonomi diperkirakan melambat pada kuartal III dibandingkan dengan kuartal II yang mencapai 6,4 persen.
Ekonom dan Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM) A Tony Prasetiantono memperkirakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III hanya bisa mencapai 6,3 persen. Penurunan pertumbuhan salah satunya dipicu oleh menurunnya konsumsi pasca-Lebaran pertengahan Agustus silam.
Penurunan pertumbuhan, menurut Tony, juga dipengaruhi oleh dampak dari penerapan kebijakan Bank Indonesia (BI) mengenai uang muka (down payment) pembayaran kendaraan dan rumah masing-masing sebesar 20–25 persen dan 30 persen. Kebijakan tersebut bakal menekan konsumsi kendaraan dan rumah.
“Memang ada kenaikan demand untuk barang-barang konsumsi karena dipicu bulan puasa dan Lebaran. Namun sesudah itu terjadi penurunan, misalnya penjualan mobil dan motor yang menurun,” tutur Tony kepada SINDO kemarin.
Tony menambahkan, kinerja ekspor yang belum membaik juga memegang andil dalam penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Terlebih, harga komoditas yang selama ini menjadi andalan ekspor Indonesia seperti minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan karet masih belum merangkak naik.
Sebagai catatan,pada kuartal II nilai ekspor Indonesia mencapai sekitar USD48,444, sementara kuartal III hanya sekitar USD46,040 miliar. “Namun, kelemahan-kelemahan ini terkompensasi dengan kenaikan investasi. Ini cukup menolong pertumbuhan ekonomi kuartal III,” imbuhnya.
Terkait peran belanja pemerintah, Tony memperkirakan belanja pemerintah belum mampu mendorong pertumbuhan secara signifikan karena kontribusinya yang masih kecil.
Senada dengan Tony, Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III lebih lambat dibandingkan dengan kuartal II. “
Perkiraan kuartal III tumbuh 6,21 persen. Terjadi perlambatan dibanding dengan kuartal II,karena pengaruh perlambatan ekonomi global mulai memengaruhi ekonomi domestik,” ujarnya.
Destry menambahkan, kebijakan BI terkait uang muka juga memengaruhi perlambatan di sektor konsumsi rumah tangga domestik. Padahal, konsumsi selama ini menjadi motor pertumbuhan Indonesia dengan kontribusi mencapai 55 persen. Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar mengaku tidak mudah bagi Indonesia untuk menyamai pencapaian konsumsi seperti pada kuartal II.
Namun, kinerja ekspor seperti yang tercermin dalam neraca perdagangan sudah mulai membaik. Peningkatan belanja pemerintah di kuartal III juga akan menolong sehingga pertumbuhan kuartal III hampir pasti di atas 6 persen.
“Mungkin konsumsi tidak sekuat di kuartal sebelumnya (karena) ada pengaruh dari inflasi sedikit, tapi toh akan dikompensasi dari pengeluaran pemerintah. Netekspornya juga baik. Mungkin (pertumbuhannya) kurang sedikit (dengan kuartal I dan II) tapi mestinya tidak jauh,” tandas Mahendra.
Optimisme juga diutarakan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa. Dia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III masih pada kisaran 6,3–6,4 persen. “Saya optimistis target pertumbuhan ekonomi tidak akan meleset dari rencana semula,” kata Hatta kemarin.
Menurut dia, kenaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia itu disebabkan oleh kondisi investasi di dalam negeri yang terus menggeliat. Selain itu, kondisi APBN juga dinilai lebih baik dibandingkan kuartal II/2012. Apalagi, kata Hatta, daya beli masyarakat juga masih bisa menopang pertumbuhan ekonomi seperti selama ini.
Ekonom dan Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM) A Tony Prasetiantono memperkirakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III hanya bisa mencapai 6,3 persen. Penurunan pertumbuhan salah satunya dipicu oleh menurunnya konsumsi pasca-Lebaran pertengahan Agustus silam.
Penurunan pertumbuhan, menurut Tony, juga dipengaruhi oleh dampak dari penerapan kebijakan Bank Indonesia (BI) mengenai uang muka (down payment) pembayaran kendaraan dan rumah masing-masing sebesar 20–25 persen dan 30 persen. Kebijakan tersebut bakal menekan konsumsi kendaraan dan rumah.
“Memang ada kenaikan demand untuk barang-barang konsumsi karena dipicu bulan puasa dan Lebaran. Namun sesudah itu terjadi penurunan, misalnya penjualan mobil dan motor yang menurun,” tutur Tony kepada SINDO kemarin.
Tony menambahkan, kinerja ekspor yang belum membaik juga memegang andil dalam penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Terlebih, harga komoditas yang selama ini menjadi andalan ekspor Indonesia seperti minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan karet masih belum merangkak naik.
Sebagai catatan,pada kuartal II nilai ekspor Indonesia mencapai sekitar USD48,444, sementara kuartal III hanya sekitar USD46,040 miliar. “Namun, kelemahan-kelemahan ini terkompensasi dengan kenaikan investasi. Ini cukup menolong pertumbuhan ekonomi kuartal III,” imbuhnya.
Terkait peran belanja pemerintah, Tony memperkirakan belanja pemerintah belum mampu mendorong pertumbuhan secara signifikan karena kontribusinya yang masih kecil.
Senada dengan Tony, Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III lebih lambat dibandingkan dengan kuartal II. “
Perkiraan kuartal III tumbuh 6,21 persen. Terjadi perlambatan dibanding dengan kuartal II,karena pengaruh perlambatan ekonomi global mulai memengaruhi ekonomi domestik,” ujarnya.
Destry menambahkan, kebijakan BI terkait uang muka juga memengaruhi perlambatan di sektor konsumsi rumah tangga domestik. Padahal, konsumsi selama ini menjadi motor pertumbuhan Indonesia dengan kontribusi mencapai 55 persen. Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar mengaku tidak mudah bagi Indonesia untuk menyamai pencapaian konsumsi seperti pada kuartal II.
Namun, kinerja ekspor seperti yang tercermin dalam neraca perdagangan sudah mulai membaik. Peningkatan belanja pemerintah di kuartal III juga akan menolong sehingga pertumbuhan kuartal III hampir pasti di atas 6 persen.
“Mungkin konsumsi tidak sekuat di kuartal sebelumnya (karena) ada pengaruh dari inflasi sedikit, tapi toh akan dikompensasi dari pengeluaran pemerintah. Netekspornya juga baik. Mungkin (pertumbuhannya) kurang sedikit (dengan kuartal I dan II) tapi mestinya tidak jauh,” tandas Mahendra.
Optimisme juga diutarakan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa. Dia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III masih pada kisaran 6,3–6,4 persen. “Saya optimistis target pertumbuhan ekonomi tidak akan meleset dari rencana semula,” kata Hatta kemarin.
Menurut dia, kenaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia itu disebabkan oleh kondisi investasi di dalam negeri yang terus menggeliat. Selain itu, kondisi APBN juga dinilai lebih baik dibandingkan kuartal II/2012. Apalagi, kata Hatta, daya beli masyarakat juga masih bisa menopang pertumbuhan ekonomi seperti selama ini.
(gpr)
Lihat Juga :