PTBA genjot batu bara kalori tinggi
Rabu, 07 November 2012 - 10:12 WIB
PTBA genjot batu bara kalori tinggi
A
A
A
Sindonews.com - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menggunakan strategi bisnis dengan penjualan batu bara kalori tinggi. Langkah tersebut untuk meningkatkan pendapatan perseroan.
Direktur Utama PTBA Milawarman mengatakan, perseroan menjual batu bara dengan kalori tinggi sejak kuartal II tahun ini. Hal ini dilakukan agar pendapatan perseroan tidak tergerus karena turunnya harga batu bara.
“Karena kita memproduksi batu bara kalori 6.700 dan 7.000,hal itu menjadi sedikit terkontrol dan membuat harga batu bara tidak semakin jatuh,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta kemarin.
Menurutnya, perseroan akan tetap menjual batu bara kalori 6.700 dan 7.000 hingga akhir tahun sehingga tidak akan terlalu menggerus pendapatan dan laba pada kuartal IV/2012. Dia mengakui, posisi harga batu bara per September memang tidak setinggi posisi Juni yang tercatat di angka Rp787.000 per ton.
Diharapkan, kuartal IV/2012 bisa di atas Rp767.000 per ton. “Makin banyak jual kalori 67.000–7.000 maka rata-rata harga akan naik. Jika tidak menyiasati dengan itu, kita akan ikut turun sesuai pasar/indeks,” tandasnya.
Milawarman menjelaskan, dengan metode penjualan batu bara kalori tinggi, perseroan nantinya akan mampu menekan bottom line dengan tidak tertekan dari rata-rata indeks.
Perseroan pun tidak perlu melakukan revisi karena memanfaatkan kondisi batu bara yang turun ini untuk meningkatkan ekspor kalori tinggi.
Dia menambahkan, di tengah kondisi pasar yang menurun, perseroan akan menekan biaya antara lain jumlah alat beroperasi khususnya yang memakan BBM seperti truk dan kontainer dan meningkatkan alat-alat yang digerakkan listrik.
Cara ini menurutnya mampu mengontrol biaya. Perseroan juga telah menyelesaikan pembangkit listrik dengan kapasitas 3x10 untuk mengendalikan biaya.
Selain itu, perseroan berencana melakukan akuisisi untuk lahan green dan brown field namun masih menunggu kondisi harga batu bara stabil.
Dari sisi kinerja, PTBA membukukan pendapatan Rp8,72 triliun selama sembilan bulan tahun ini, naik 12 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yaitu Rp7,75 triliun. Pendapatan didorong dari volume penjualan yang naik 15 persen.
Corporate Secretary PTBA Joko Pramonomengatakan,kontribusi volume penjualan kuartal III/2012 mengalami pertumbuhan menjadi 11,36 juta ton dari 9,86 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.
Kepala riset Trust Securities Reza Priymabada menilai metode yang dilakukan PTBA dengan menjual batu bara kalori tinggi akan mampu meningkatkan pendapatan dan laba perseroan.
“Setidaknya, PTBA bisa memperoleh kontrak pembelian batu bara dan paling tidak bisa meningkatkan laba akhir tahun,” katanya.
Menurut Reza, permintaan batu bara dunia masih menungguupaya pemulihanekonomisetelah pemilu Amerika. “Setelah itu, kita akan tahu arah kebijakan mereka seperti apa.Jika dari sisiituadaupaya pemulihan,maka kita akan melihat harga komoditas akan naik,” paparnya.
Reza memprediksi harga saham perusahaan tambang milik BUMN ini hingga akhir tahun akan berada di level Rp17.500. Dengan asumsi, ada potensi rebound harga batu bara global.
Direktur Utama PTBA Milawarman mengatakan, perseroan menjual batu bara dengan kalori tinggi sejak kuartal II tahun ini. Hal ini dilakukan agar pendapatan perseroan tidak tergerus karena turunnya harga batu bara.
“Karena kita memproduksi batu bara kalori 6.700 dan 7.000,hal itu menjadi sedikit terkontrol dan membuat harga batu bara tidak semakin jatuh,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta kemarin.
Menurutnya, perseroan akan tetap menjual batu bara kalori 6.700 dan 7.000 hingga akhir tahun sehingga tidak akan terlalu menggerus pendapatan dan laba pada kuartal IV/2012. Dia mengakui, posisi harga batu bara per September memang tidak setinggi posisi Juni yang tercatat di angka Rp787.000 per ton.
Diharapkan, kuartal IV/2012 bisa di atas Rp767.000 per ton. “Makin banyak jual kalori 67.000–7.000 maka rata-rata harga akan naik. Jika tidak menyiasati dengan itu, kita akan ikut turun sesuai pasar/indeks,” tandasnya.
Milawarman menjelaskan, dengan metode penjualan batu bara kalori tinggi, perseroan nantinya akan mampu menekan bottom line dengan tidak tertekan dari rata-rata indeks.
Perseroan pun tidak perlu melakukan revisi karena memanfaatkan kondisi batu bara yang turun ini untuk meningkatkan ekspor kalori tinggi.
Dia menambahkan, di tengah kondisi pasar yang menurun, perseroan akan menekan biaya antara lain jumlah alat beroperasi khususnya yang memakan BBM seperti truk dan kontainer dan meningkatkan alat-alat yang digerakkan listrik.
Cara ini menurutnya mampu mengontrol biaya. Perseroan juga telah menyelesaikan pembangkit listrik dengan kapasitas 3x10 untuk mengendalikan biaya.
Selain itu, perseroan berencana melakukan akuisisi untuk lahan green dan brown field namun masih menunggu kondisi harga batu bara stabil.
Dari sisi kinerja, PTBA membukukan pendapatan Rp8,72 triliun selama sembilan bulan tahun ini, naik 12 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yaitu Rp7,75 triliun. Pendapatan didorong dari volume penjualan yang naik 15 persen.
Corporate Secretary PTBA Joko Pramonomengatakan,kontribusi volume penjualan kuartal III/2012 mengalami pertumbuhan menjadi 11,36 juta ton dari 9,86 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.
Kepala riset Trust Securities Reza Priymabada menilai metode yang dilakukan PTBA dengan menjual batu bara kalori tinggi akan mampu meningkatkan pendapatan dan laba perseroan.
“Setidaknya, PTBA bisa memperoleh kontrak pembelian batu bara dan paling tidak bisa meningkatkan laba akhir tahun,” katanya.
Menurut Reza, permintaan batu bara dunia masih menungguupaya pemulihanekonomisetelah pemilu Amerika. “Setelah itu, kita akan tahu arah kebijakan mereka seperti apa.Jika dari sisiituadaupaya pemulihan,maka kita akan melihat harga komoditas akan naik,” paparnya.
Reza memprediksi harga saham perusahaan tambang milik BUMN ini hingga akhir tahun akan berada di level Rp17.500. Dengan asumsi, ada potensi rebound harga batu bara global.
(gpr)
Lihat Juga :