HIPSI targetkan cetak 1 juta pengusaha santri
Selasa, 13 November 2012 - 11:07 WIB
HIPSI targetkan cetak 1 juta pengusaha santri
A
A
A
Sindonews.com - Angka pengangguran di Indonesia yang masih didominasi oleh kaum muda, membuat Nahdlatul Ulama (NU) melahirkan Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (Hipsi). HIPSI membidik sekitar 4 juta santri di seluruh Indonesia untuk menjadi wirausaha mandiri.
HIPSI sendiri adalah organisasi yang secara langsung dibina berdad dalam induk organisasi RMI NU Pusat (Rabithah Ma'ahid Islamiyah NU).
Menurut Ketua Hipsi Pusat Muchammad Ghozali, Hipsi berdiri adalah untuk menciptakan peluang dengan menciptakan pengusaha-pengusaha baru untuk menyerap tenaga kerja.
Bahkan, kata Ghozali, Hipsi berdiri karena bentuk kepedulian dengan banyaknya pengangguran yang didominasi oleh kaum muda.
"Sebagai organisasi di bawah NU menjadi wadah pengembangan pendidikan wirausaha santri yang mendiri. Dengan target 1 juta pengusaha santri dalam 10 tahun kedepan," katanya di sela acara Bussines Gathering di aula Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim, Surabaya, Selasa (13/11/2012).
Selain itu, Hipsi akan menyinergikan kekuatan ekonomi di seluruh Indonesia serta pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dalam mencetak pengusaha, Hipsi akan mengajarkan prilaku jujur sebagai pengusaha. Pasalnya, kejujuran adalah landasan utama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Berdirinya Hipsi ini tentunya mendobrak paradigma bahwa santri itu tidak hanya di Pesantren saja. Santri jadi bidang garapan dalam arti yang luas. Santri itu belajar agama tapi realita di masyarakat berbeda.
"Realitanya santri yang menjadi kiai berapa sih? Paling untuk menjadi kiai itu ya anaknya pak kiai atau mantunya kiai. Nah sisanya ke mana? Ada yang jadi ustadz atau ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Tapi kebanyakkan sekitar 50 persen menganggur. Di sinilah peran Hipsi diperlukan," paparnya.
Untuk menuju 1 Juta pengusaha santri ini, Hipsi melakukan pembinaan dan pembentukan delapan kluster budidaya lele sangkuriang bekerja sama dengan Bank Mandiri di delapan Ponpes besar Jawa Timur.
Tak hanya itu, ada pembinaan 10 hektar lahan di Bondowoso dan Pasuruan. Kemudian, pembentukan usaha bersama di bidang kuliner di Jawa Timur dan Jakarta. Kemudian, pelatihan agrobisnis, kerajinan, peternakkan bahkan properti dan IT company.
"Terbaru HIPSI juga mengirimkan perwakilan santri untuk mengikuti shrot course bidang pertanian di Australia Barat," tukasnya.
HIPSI sendiri adalah organisasi yang secara langsung dibina berdad dalam induk organisasi RMI NU Pusat (Rabithah Ma'ahid Islamiyah NU).
Menurut Ketua Hipsi Pusat Muchammad Ghozali, Hipsi berdiri adalah untuk menciptakan peluang dengan menciptakan pengusaha-pengusaha baru untuk menyerap tenaga kerja.
Bahkan, kata Ghozali, Hipsi berdiri karena bentuk kepedulian dengan banyaknya pengangguran yang didominasi oleh kaum muda.
"Sebagai organisasi di bawah NU menjadi wadah pengembangan pendidikan wirausaha santri yang mendiri. Dengan target 1 juta pengusaha santri dalam 10 tahun kedepan," katanya di sela acara Bussines Gathering di aula Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim, Surabaya, Selasa (13/11/2012).
Selain itu, Hipsi akan menyinergikan kekuatan ekonomi di seluruh Indonesia serta pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dalam mencetak pengusaha, Hipsi akan mengajarkan prilaku jujur sebagai pengusaha. Pasalnya, kejujuran adalah landasan utama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Berdirinya Hipsi ini tentunya mendobrak paradigma bahwa santri itu tidak hanya di Pesantren saja. Santri jadi bidang garapan dalam arti yang luas. Santri itu belajar agama tapi realita di masyarakat berbeda.
"Realitanya santri yang menjadi kiai berapa sih? Paling untuk menjadi kiai itu ya anaknya pak kiai atau mantunya kiai. Nah sisanya ke mana? Ada yang jadi ustadz atau ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Tapi kebanyakkan sekitar 50 persen menganggur. Di sinilah peran Hipsi diperlukan," paparnya.
Untuk menuju 1 Juta pengusaha santri ini, Hipsi melakukan pembinaan dan pembentukan delapan kluster budidaya lele sangkuriang bekerja sama dengan Bank Mandiri di delapan Ponpes besar Jawa Timur.
Tak hanya itu, ada pembinaan 10 hektar lahan di Bondowoso dan Pasuruan. Kemudian, pembentukan usaha bersama di bidang kuliner di Jawa Timur dan Jakarta. Kemudian, pelatihan agrobisnis, kerajinan, peternakkan bahkan properti dan IT company.
"Terbaru HIPSI juga mengirimkan perwakilan santri untuk mengikuti shrot course bidang pertanian di Australia Barat," tukasnya.
(gpr)