Paling lambat 2045, RI jadi negara maju

Rabu, 14 November 2012 - 09:34 WIB
Paling lambat 2045,...
Paling lambat 2045, RI jadi negara maju
A A A
Sindonews.com - Visi menjadikan Indonesia sebagai negara maju seharusnya tidak hanya dipandang sebagai sebuah mimpi. Alasannya, Indonesia memiliki cukup modal untuk mewujudkannya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meyakini bahwa abad ke-21 akan menjadi abad bagi Indonesia. Indonesia pada 2020 atau paling lambat 2045 akan menjadi negara maju.

Presiden meyakini, pada tahun tersebut Indonesia sudah naik kelas dari negara emerging country kelas menengah menjadi emerging country papan atas. Indonesia pada saat itu juga telah memiliki peradaban yang unggul.

”Indonesia akan memiliki ekonomi yang kuat serta berkeadilan dan ramah lingkungan serta menjadi productive innovative dan sustainable high economy,” ujar Presiden SBY saat menyampaikan sambutan dalam acara Penyatuan Visi ”Bersama Menuju Indonesia Maju 2030” yang diselenggarakan Komite Ekonomi Nasional (KEN) di Jakarta, kemarin.

Presiden mengingatkan, Indonesia memiliki cukup potensi untuk menuju negara maju. Selain dilimpahi sumber daya alam, Indonesia kaya dengan sumber daya manusia serta pangsa ekonomi domestik yang sangat besar.

Pasar domestik yang sangat besar inilah,yang menurut Presiden, harus terus dimanfaatkan. ”Kita tidak boleh berorientasi ekspor sementara. Dalam resesi global, negara yang menggantungkan ekspor sering mengalami kesulitan yang besar,” ujarnya.

Presiden mengakui masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan untuk mewujudkan mimpi besar menjadi negara maju pada 2030, terutama PR memperbaiki kualitas sumber daya manusia (SDM). Karena itulah, perbaikan di bidang pendidikan harus segera ditingkatkan.

Selain SDM, perbaikan konektivitas serta ketahanan pangan dan energi juga harus dilakukan. ”Mari kita pahami potensi ekonomi Indonesia. Sumber daya alam, SDM, serta ukuran ekonomi domestiknya. Kecuali ada global shock yang luar biasa (visi menjadi negara maju pada 2030) tidak terpenuhi,” paparnya.

Secara khusus, Presiden menggarisbawahi pentingnya konsumsi masyarakat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan. Menurutnya, konsumsi masyarakat sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi harus tetap dijaga, bahkan di tengah krisis ekonomi sekalipun.

Presiden SBY mengingatkan, keep buying strategy menjadi penyelamat bagi perekonomian Indonesia di tengah krisis global pada 2008 dan 2009 lalu. Strategi serupa bisa diterapkan bila ada krisis baru yang mengancam. ”Di masa krisis, janganberhenti membeli barang dan jasa.

Kalau ada yang mau beli, maka perusahaan akan tetap hidup, (mereka) tidak mem-PHK dan karyawan tetap bisa membeli barang, konsumsi hidup lagi dan ekonomi jalan lagi,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama,Ketua KEN Chairul Tanjung menegaskan bahwa visi menjadikan Indonesia negara maju pada 2030 adalah impian yang bisa digapai. Chairul mengatakan, Indonesia memiliki sumber daya alam yang bisa menjadi input produksi dalam penciptaan nilai tambah produksi.

Selain itu, letak geografis di jantung perdagangan Asia Pasifik juga menjadikan Indonesia memiliki peluang untuk memanfaatkan itu sebagai rantai produksi global. Keragaman budaya, tradisi, dan alam yang memiliki nilai jual tinggi juga menjadi kelebihan lain Indonesia.

”Indonesia negara maju bukanlah sekadar mimpi. Kemajuan Indonesia harus bertumpu pada sesuatu yang menjadi kekhususan Indonesia, kekayaan alam dengan spektrum yang luas,” ucap Chairul.

Dia mengingatkan, Indonesia juga memiliki modal lain dalam hal jumlah penduduk berusia muda serta kemampuan daya beli masyarakat. Namun, Chairul mengatakan bahwa kekayaan alam yang melimpah tidak boleh menjadi input produksi selamanya karena Indonesia harus mampu bertransformasi menjadi negara yang lebih bertumpu pada produksi yang mengandalkan SDM dan teknologi.

Chairman McKinsey Global Institute (MGI) Indonesia Raoul Oberman menuturkan, pada 2030 mendatang Indonesia diprediksi telah memiliki produk domestik bruto (PDB) sekitar USD1,8 triliun, jauh di atas PDB saat ini yang hanya USD1,1 miliar.

Besarnya PDB Indonesia didorong oleh bertambahnya kelas konsumen dari 45 juta saat ini menjadi 135 juta orang. ”Saat itu Indonesia bakal memiliki 90 juta konsumen baru dengan income USD3.600 per kapita. Ada 60 juta penduduk yang hidup di perkotaan serta potensi bagi usaha jasa sebesar USD1,1 triliun,” tutur Oberman.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Hutan Gundul, Cadangan...
Hutan Gundul, Cadangan Devisa Menguap! Mantan Menkeu Bongkar Patgulipat Ekspor Tambang
18 menit yang lalu
Dari Medan hingga Jakarta,...
Dari Medan hingga Jakarta, Keseruan Nobar Piala Dunia 2026 Bersama BRI Satukan Kita!
1 jam yang lalu
Jaga Pasokan BBM di...
Jaga Pasokan BBM di Sumut: Pertamina Tindak Mobil Tangki Nakal, Terminal dan SPBU Siaga 24 Jam
2 jam yang lalu
Daftar Saham Paling...
Daftar Saham Paling Cuan hingga Boncos dalam Sepekan saat IHSG Melejit 4,42 Persen
3 jam yang lalu
IHSG Kembali ke Level...
IHSG Kembali ke Level 6 Ribuan usai Melesat 4,24%, Kapitalisasi Pasar Jadi Rp10.749 Triliun
4 jam yang lalu
S&P Tahan RI Masih Investment...
S&P Tahan RI Masih Investment Grade, Fuad Bawazier Prediksi Ekonomi Bangkit 6 Bulan Lagi!
12 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Jalan...
10 Negara dengan Jalan Terbaik di Dunia, Juaranya Tetangga Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved