Pertumbuhan DPK melambat
Rabu, 14 November 2012 - 10:08 WIB
Pertumbuhan DPK melambat
A
A
A
Sindonews.com – Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) di perbankan nasional mengalami perlambatan pada September 2012. Penyebab utamanya karena pertumbuhan deposito dan giro mengalami penurunan.
Berdasarkan Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) Bank Indonesia (BI) pada September 2012, DPK hanya tumbuh 19,8 persen atau melambat jika dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 21,3 persen atau sebesar Rp2.763,9 triliun.
Sementara, dari sisi kredit, hingga akhir September 2012 pertumbuhan mencapai 22,9 persen, melambat dari 23,6 persen pada bulan Agustus. Perlambatan ini merupakan perlambatan kedua, pasalnya pada bulan Juli 2012 pertumbuhan kredit mencapai 25,2 persen.
“Pelambatan tersebut sejalan dengan pola historis DPK terkait pola konsumsi masyarakat pasca-Lebaran,” ungkap BI dalam laporan tersebut kemarin.
Jika ditelisik berdasarkan valuta, perlambatan DPK ditopang baik DPK dalam nominal Rupiah maupun valuta asing. DPK Rupiah turun dari 19,9 persen pada Agustus 2012 yang mencapai Rp2.336,65 triliun melambat 1,2 persen menjadi 18,7 persen di September 2012.
Adapun, DPK valas menurun 2,8 persen dari 29,7 persen di Agustus yang sebesar Rp397,287 triliun menjadi 26,9 persen pada September 2012. Dari kalangan perbankan, Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini menilai, faktor perlambatan DPK ini tentunya tidak terpisah dari efek ekonomi global.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/ 2011 yang sebesar 6,5 persen harus turun ke posisi 6,2 persen di September 2012. Hal ini tentunya memengaruhi permintaan kredit di Indonesia.
“Ekspor turun tapi tidak sedrastis yang terjadi di China ataupun yang lain. Kalau ekspor turun dengan sendirinya pengaruh ke DPK yang masuk ke bank,” tutur Zulkifli.
Zulkifli berpandangan, perlambatan DPK secara industri maupun di bank tidaklah tergolong drastis. Di Bank Mandiri pertumbuhan DPK per September masih 14,5 persen atau menjadi Rp430,9 triliun, sementara kredit tumbuh 22,8 persen menjadi Rp365,2 triliun.
Menurut Zulkifli, perseroan akan terus berinovasi agar DPK bank meningkat baik melalui cabang, ATM, EDC dan berinovasi dalam produk.
“Kami berinovasi pada waktu- waktu yang akan datang untuk mendorong DPK lewat penambahan cabang, ATM, EDC. Subdebt belum, belum kami pertimbangkan. Tapi, tahun depan kami lihat lagi,” tutur Zulkifli.
Sementara, Direktur Global Wholesale Banking BII Frans Rahardja Alimhamzah mengatakan, perseroan akan berusaha menjaga pertumbuhan DPK sesuai dengan pertumbuhan kredit. Jika tidak berimbang, bank akan sulit untuk menjaga rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR),yang merupakan rasio yang menunjukkan posisi DPK dibandingkan kredit yang disalurkan.
Untuk mengantisipasi miss match pendanaan yang disebabkan DPK yang bertenor pendek dan penyaluran pembiayaan yang banyak bertenor panjang, kata Frans, maka perseroan kerap menerbitkan senior debt (obligasi) maupun obligasi subordinasi (subdebt).
“Subdebt atau obligasi itu untuk imbangi pertumbuhan DPK, tapi dalam LDR senior debt tidak membantu, jadi kita akan tetap mencari DPK. Senior debt untuk kurangi risiko likuiditas,” tuturnya.
Hingga September 2012, total DPK perseroan tercatat sebesar Rp79,8 triliun, tumbuh 20 persen dari Rp66,7 triliun dibandingkan September 2011. Adapun, kredit tumbuh 22 persen dari Rp62 triliun menjadi Rp75,9 triliun.
Lain halnya dengan PT Bank Mega Tbk, Direktur Utama Bank Mega JB Kendarto mengaku kesulitan dalam merealisasikan target perolehan DPK yang dipatok 20 persen. Hingga September, pertumbuhan DPK bank milik pengusaha Chairul Tanjung ini hanya tumbuh 5 persen.
Kendarto menilai, persaingan perbankan dalam mencari pendanaan menjadi salah satu faktor penyebab tidak maksimalnya pertumbuhan DPK Bank Mega. “DPK kita masih tumbuh, kecil sekali tidak sesuai rencana, hanya 5 persen, target 20 persen. Kita terus berupaya meningkatkannya, seperti dengan meluncurkan kembali undian Mega pasti plus,” tuturnya.
Berdasarkan Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) Bank Indonesia (BI) pada September 2012, DPK hanya tumbuh 19,8 persen atau melambat jika dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 21,3 persen atau sebesar Rp2.763,9 triliun.
Sementara, dari sisi kredit, hingga akhir September 2012 pertumbuhan mencapai 22,9 persen, melambat dari 23,6 persen pada bulan Agustus. Perlambatan ini merupakan perlambatan kedua, pasalnya pada bulan Juli 2012 pertumbuhan kredit mencapai 25,2 persen.
“Pelambatan tersebut sejalan dengan pola historis DPK terkait pola konsumsi masyarakat pasca-Lebaran,” ungkap BI dalam laporan tersebut kemarin.
Jika ditelisik berdasarkan valuta, perlambatan DPK ditopang baik DPK dalam nominal Rupiah maupun valuta asing. DPK Rupiah turun dari 19,9 persen pada Agustus 2012 yang mencapai Rp2.336,65 triliun melambat 1,2 persen menjadi 18,7 persen di September 2012.
Adapun, DPK valas menurun 2,8 persen dari 29,7 persen di Agustus yang sebesar Rp397,287 triliun menjadi 26,9 persen pada September 2012. Dari kalangan perbankan, Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini menilai, faktor perlambatan DPK ini tentunya tidak terpisah dari efek ekonomi global.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/ 2011 yang sebesar 6,5 persen harus turun ke posisi 6,2 persen di September 2012. Hal ini tentunya memengaruhi permintaan kredit di Indonesia.
“Ekspor turun tapi tidak sedrastis yang terjadi di China ataupun yang lain. Kalau ekspor turun dengan sendirinya pengaruh ke DPK yang masuk ke bank,” tutur Zulkifli.
Zulkifli berpandangan, perlambatan DPK secara industri maupun di bank tidaklah tergolong drastis. Di Bank Mandiri pertumbuhan DPK per September masih 14,5 persen atau menjadi Rp430,9 triliun, sementara kredit tumbuh 22,8 persen menjadi Rp365,2 triliun.
Menurut Zulkifli, perseroan akan terus berinovasi agar DPK bank meningkat baik melalui cabang, ATM, EDC dan berinovasi dalam produk.
“Kami berinovasi pada waktu- waktu yang akan datang untuk mendorong DPK lewat penambahan cabang, ATM, EDC. Subdebt belum, belum kami pertimbangkan. Tapi, tahun depan kami lihat lagi,” tutur Zulkifli.
Sementara, Direktur Global Wholesale Banking BII Frans Rahardja Alimhamzah mengatakan, perseroan akan berusaha menjaga pertumbuhan DPK sesuai dengan pertumbuhan kredit. Jika tidak berimbang, bank akan sulit untuk menjaga rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR),yang merupakan rasio yang menunjukkan posisi DPK dibandingkan kredit yang disalurkan.
Untuk mengantisipasi miss match pendanaan yang disebabkan DPK yang bertenor pendek dan penyaluran pembiayaan yang banyak bertenor panjang, kata Frans, maka perseroan kerap menerbitkan senior debt (obligasi) maupun obligasi subordinasi (subdebt).
“Subdebt atau obligasi itu untuk imbangi pertumbuhan DPK, tapi dalam LDR senior debt tidak membantu, jadi kita akan tetap mencari DPK. Senior debt untuk kurangi risiko likuiditas,” tuturnya.
Hingga September 2012, total DPK perseroan tercatat sebesar Rp79,8 triliun, tumbuh 20 persen dari Rp66,7 triliun dibandingkan September 2011. Adapun, kredit tumbuh 22 persen dari Rp62 triliun menjadi Rp75,9 triliun.
Lain halnya dengan PT Bank Mega Tbk, Direktur Utama Bank Mega JB Kendarto mengaku kesulitan dalam merealisasikan target perolehan DPK yang dipatok 20 persen. Hingga September, pertumbuhan DPK bank milik pengusaha Chairul Tanjung ini hanya tumbuh 5 persen.
Kendarto menilai, persaingan perbankan dalam mencari pendanaan menjadi salah satu faktor penyebab tidak maksimalnya pertumbuhan DPK Bank Mega. “DPK kita masih tumbuh, kecil sekali tidak sesuai rencana, hanya 5 persen, target 20 persen. Kita terus berupaya meningkatkannya, seperti dengan meluncurkan kembali undian Mega pasti plus,” tuturnya.
(rna)
Lihat Juga :