Elpiji 3 Kg di Muaraenim langka
Rabu, 28 November 2012 - 20:34 WIB
Elpiji 3 Kg di Muaraenim langka
A
A
A
Sindonews.com - Warga Muaraenim mulai kesulitan mendapatkan bahan bakar gas elpiji 3 kilogram. Pasalnya, Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) juga melayani pengisian bagi truk agen Baturaja.
Pemilik pangkalan yang menjual tabung gas elpiji tiga kilogram yang enggan disebutkan namanya mengatakan, sejak beberapa pekan terakhir dirinya sangat kesulitan untuk mendapatkan tabung gas elpiji tiga kilogram dari agen.
Akibat tidak stabilnya pasokan gas, menyebabkan dirinya mengalami kerugian biaya operasional karena tidak bisa mensuplai kebutuhan dan pesanan para konsumen melalui warung-warung. Padahal, dirinya memiliki pelanggan di beberapa Kecamatan Kabupaten Muaraenim. Diantaranya, Kecamtan Muaraenim, Ujan Mas, Tanjung Enim dan sekitarnya.
"Kelangkaan ini sudah mulai terjadi sejak satu bulan, tepatnya pasca lebaran Idul Adha. Jadinya saya kesulitan buat mensuplai langganan," ujar dia di Muaraenim, Rabu (28/11/2012).
Menurut dia, dari informasi agennya kondisi ini terjadi akibat masuknya beberapa truk agen tabung gas elpiji tiga kilogram dari Kota Baturaja Ogan Komering Ulu (OKU) yang membeli elpiji SPPBE Kabupaten Muaraenim.
Sehingga, terjadi dominasi pembelian yang berakibat antrian agen dari Kabupaten Muaraenim tertahan.Sehingga pasokan untuk agen Kabupaten Muara Enim ke pangkalan - pangkalan menjadi berkurang.
"Pada akhirnya terjadinya kelangkaan tabung gas elpiji tiga kilogram yang ada di Kabupaten Muaraenim. Sebab, sudah dijual semua ke Baturaja," sesal dia.
Pastinya, lanjut dia, pasokan tabung gas untuk kebutuhan satu truk saja berkisar 560 tabung jadinya menjadi berkurang.
Senada, pemilik pangkalan tabung gas di Desa Tanjung Jati (Lubuk Ampelas) Muaraenim, Husni Thamrin menuturkan, pasokan untuk pangkalannya berkurang karena telah masuknya order pembelian dari agen tabung gas tiga kilogram dari Kota Baturaja. Sehingga, dirinya hanya mendapatkan enam truk saja per minggu dari sebelumnya delapan truk.
"Bahkan bila hari libur atau tanggal merah dan hari minggu bisa tidak ada pasokan," ucap dia
Thamrin berharap, dalam waktu secepatnya keadaan kelangkaan gas tiga kilogram ini dapat kembali normal. Untuk truk agen tabung gas dari Baturaja segera kembali ke asalnya atau tidak membeli di SPPBE Muaraenim.
Keterangan dari supir pangkalannya, Rudi, mengakui bahwa memang kesulitan mendapatkan tabung gas tiga kilogram. Dirinya, harus rela antri berhari-hari.
Terkadang dalam satu hari, kata dia, bisa antri hingga tidak mendapatkan barang baru tiga hari kedepan baru mendapatkan tabung gas tiga kilogaram. "Padahal pasokan banyak, karena tadi, untuk Kabupaten Muaraenim tidak diprioritaskan," jelas dia.
Sementara Manager SPPBE Muaraenim, Erwan, membenarkan bahwa telah terjadi antrian dari truk agen-agen tabung gas elpiji tiga kilogram dari Baturaja Kabupaten OKU di SPPBE Muaraenim.
Meski demikian tidak benar bahwa telah terjadi kekurangan pasokan gas dari Pertamina sehingga menyebabkan kelangkaan di pasaran Kabupaten Muaraenim. Dia merinci ,dalam sehari pasokan dari Pertamina yakni 45 ton sehari sedangkan untuk pasokan ke agen yakni 42 ton sehari.
Dirinya mengakui bahwa sejak satu bulan terakhir memang terjadi peningkatan pembelian tabung gas tiga kilogram dari agen Kota Baturaja OKU. Sehingga, menyebabkan kuota menjadi berbagi untuk kebutuhan Muaraenim dan Baturaja. Dalam sehari ada 25 truk, jadi untuk pembagian dibagi rata.
Kendalanya sekarang ini banyak agen dari Kabupaten Muaraenim hanya memiliki sedikit armada truk pengakutan berkisar hanya 1-2 truk. Sehingga kalah bersaing dengan truk agen dari Baturaja yang memiliki jumlah armada truk yang banyak.
Hal inilah, lanjut dia, yang menjadi penyebab kelangkaan di pasaran karena telah di dominasi dari agen Baturaja, sehingga agen Muaraenim kalah cepat. Dan menyebabkan sebagian besar beredarnya tabung gas elpiji yang disuplai SPPBE Muaraenim beredar di Baturaja OKU. Sedangkan antrian kita menggunakan sistem antri berdasarkan nomor mobil antri.
"Pastinya bukan kita tidak memprioritaskan agen dari Muaraenim.Dalam hal ini bisa dibilang siapa cepat dia dapat," tukas dia.
Erwan menerangkan bahwa terkait ini SPPBE Muaraenim mengacu pada kebijakan yang ditetapkan Pertamina, yakni tidak ada larangan untuk menerima order (pesanan) dari luar Muaraenim meski SPPBE berlokasi di Muaraenim.
Untuk Muaraenim, sambung dia, ada tujuh agen dari Muaraenim-Prabumulih yang telah menjadi Loading Order (masuk daftar pesanan) SPPBE Muaraenim. Dengan ketetapan hargapun mengacu pada ketetapan Pertamina. Dari harga Pertamina ke agen yakni Rp11.580, agen ke pangkalan Rp12.750 dan pangkalan ke warung Rp13.800.
Sedangkan harga diwarung-warung harga diluar ketetapan, berkisar paling tinggi Rp16.000. "Kemungkinan bulan depan keadaan ini kembali normal," ungkapnya.
Dari penjelasan singkatnya, apakah benar ada skorsing terhadap SPPBE Baturaja sehingga banyak agen yang membeli di SPPBE Muaraenim. Menurutnya memang ada kaitannya,karena SPPBE Baturaja saat ini sedang berada dalam skorsing Pertamina.
Salah satu pedagang nasi di Kota Muaraenim Usi menuturkan, sejak beberapa pekan terakhir dirinya kesulitan dalam mendapatkan gas elpiji tiga kilogram. Tak hanya itu, harga gas juga mulai mengalami kenaikan. Dari sebelumnya Rp16 ribu kini berkisar antara Rp.19 ribu hingga Rp.20 ribu.
"Sudah berapa hari ini, saya kesulitan mendapatkan gas elpiji. Hampir semua toko atau warung yang jual tidak punya stok. Saya juga gak tahu kenapa?" ujar Usi.
Usi mengungkapkan, jika kelangkaan ini terus terjadi maka dapat mengancam usaha warung nasi miliknya. Terlebih bila harga gas elpiji tiga kilogram juga mengalami kenaikan. Untuk itu, kata Usi, dirinya berharap agar peredaran dan harga gas elpiji dapat kembali normal.
"Sebagai pedagang nasi dan sayur masak tentunya kelangkaan elpiji akan jadi masalah buat saya. Sebab, saya sangat tergantung dengan gas untuk kebutuhan bahan bakar memasak," pungkasnya.
Pemilik pangkalan yang menjual tabung gas elpiji tiga kilogram yang enggan disebutkan namanya mengatakan, sejak beberapa pekan terakhir dirinya sangat kesulitan untuk mendapatkan tabung gas elpiji tiga kilogram dari agen.
Akibat tidak stabilnya pasokan gas, menyebabkan dirinya mengalami kerugian biaya operasional karena tidak bisa mensuplai kebutuhan dan pesanan para konsumen melalui warung-warung. Padahal, dirinya memiliki pelanggan di beberapa Kecamatan Kabupaten Muaraenim. Diantaranya, Kecamtan Muaraenim, Ujan Mas, Tanjung Enim dan sekitarnya.
"Kelangkaan ini sudah mulai terjadi sejak satu bulan, tepatnya pasca lebaran Idul Adha. Jadinya saya kesulitan buat mensuplai langganan," ujar dia di Muaraenim, Rabu (28/11/2012).
Menurut dia, dari informasi agennya kondisi ini terjadi akibat masuknya beberapa truk agen tabung gas elpiji tiga kilogram dari Kota Baturaja Ogan Komering Ulu (OKU) yang membeli elpiji SPPBE Kabupaten Muaraenim.
Sehingga, terjadi dominasi pembelian yang berakibat antrian agen dari Kabupaten Muaraenim tertahan.Sehingga pasokan untuk agen Kabupaten Muara Enim ke pangkalan - pangkalan menjadi berkurang.
"Pada akhirnya terjadinya kelangkaan tabung gas elpiji tiga kilogram yang ada di Kabupaten Muaraenim. Sebab, sudah dijual semua ke Baturaja," sesal dia.
Pastinya, lanjut dia, pasokan tabung gas untuk kebutuhan satu truk saja berkisar 560 tabung jadinya menjadi berkurang.
Senada, pemilik pangkalan tabung gas di Desa Tanjung Jati (Lubuk Ampelas) Muaraenim, Husni Thamrin menuturkan, pasokan untuk pangkalannya berkurang karena telah masuknya order pembelian dari agen tabung gas tiga kilogram dari Kota Baturaja. Sehingga, dirinya hanya mendapatkan enam truk saja per minggu dari sebelumnya delapan truk.
"Bahkan bila hari libur atau tanggal merah dan hari minggu bisa tidak ada pasokan," ucap dia
Thamrin berharap, dalam waktu secepatnya keadaan kelangkaan gas tiga kilogram ini dapat kembali normal. Untuk truk agen tabung gas dari Baturaja segera kembali ke asalnya atau tidak membeli di SPPBE Muaraenim.
Keterangan dari supir pangkalannya, Rudi, mengakui bahwa memang kesulitan mendapatkan tabung gas tiga kilogram. Dirinya, harus rela antri berhari-hari.
Terkadang dalam satu hari, kata dia, bisa antri hingga tidak mendapatkan barang baru tiga hari kedepan baru mendapatkan tabung gas tiga kilogaram. "Padahal pasokan banyak, karena tadi, untuk Kabupaten Muaraenim tidak diprioritaskan," jelas dia.
Sementara Manager SPPBE Muaraenim, Erwan, membenarkan bahwa telah terjadi antrian dari truk agen-agen tabung gas elpiji tiga kilogram dari Baturaja Kabupaten OKU di SPPBE Muaraenim.
Meski demikian tidak benar bahwa telah terjadi kekurangan pasokan gas dari Pertamina sehingga menyebabkan kelangkaan di pasaran Kabupaten Muaraenim. Dia merinci ,dalam sehari pasokan dari Pertamina yakni 45 ton sehari sedangkan untuk pasokan ke agen yakni 42 ton sehari.
Dirinya mengakui bahwa sejak satu bulan terakhir memang terjadi peningkatan pembelian tabung gas tiga kilogram dari agen Kota Baturaja OKU. Sehingga, menyebabkan kuota menjadi berbagi untuk kebutuhan Muaraenim dan Baturaja. Dalam sehari ada 25 truk, jadi untuk pembagian dibagi rata.
Kendalanya sekarang ini banyak agen dari Kabupaten Muaraenim hanya memiliki sedikit armada truk pengakutan berkisar hanya 1-2 truk. Sehingga kalah bersaing dengan truk agen dari Baturaja yang memiliki jumlah armada truk yang banyak.
Hal inilah, lanjut dia, yang menjadi penyebab kelangkaan di pasaran karena telah di dominasi dari agen Baturaja, sehingga agen Muaraenim kalah cepat. Dan menyebabkan sebagian besar beredarnya tabung gas elpiji yang disuplai SPPBE Muaraenim beredar di Baturaja OKU. Sedangkan antrian kita menggunakan sistem antri berdasarkan nomor mobil antri.
"Pastinya bukan kita tidak memprioritaskan agen dari Muaraenim.Dalam hal ini bisa dibilang siapa cepat dia dapat," tukas dia.
Erwan menerangkan bahwa terkait ini SPPBE Muaraenim mengacu pada kebijakan yang ditetapkan Pertamina, yakni tidak ada larangan untuk menerima order (pesanan) dari luar Muaraenim meski SPPBE berlokasi di Muaraenim.
Untuk Muaraenim, sambung dia, ada tujuh agen dari Muaraenim-Prabumulih yang telah menjadi Loading Order (masuk daftar pesanan) SPPBE Muaraenim. Dengan ketetapan hargapun mengacu pada ketetapan Pertamina. Dari harga Pertamina ke agen yakni Rp11.580, agen ke pangkalan Rp12.750 dan pangkalan ke warung Rp13.800.
Sedangkan harga diwarung-warung harga diluar ketetapan, berkisar paling tinggi Rp16.000. "Kemungkinan bulan depan keadaan ini kembali normal," ungkapnya.
Dari penjelasan singkatnya, apakah benar ada skorsing terhadap SPPBE Baturaja sehingga banyak agen yang membeli di SPPBE Muaraenim. Menurutnya memang ada kaitannya,karena SPPBE Baturaja saat ini sedang berada dalam skorsing Pertamina.
Salah satu pedagang nasi di Kota Muaraenim Usi menuturkan, sejak beberapa pekan terakhir dirinya kesulitan dalam mendapatkan gas elpiji tiga kilogram. Tak hanya itu, harga gas juga mulai mengalami kenaikan. Dari sebelumnya Rp16 ribu kini berkisar antara Rp.19 ribu hingga Rp.20 ribu.
"Sudah berapa hari ini, saya kesulitan mendapatkan gas elpiji. Hampir semua toko atau warung yang jual tidak punya stok. Saya juga gak tahu kenapa?" ujar Usi.
Usi mengungkapkan, jika kelangkaan ini terus terjadi maka dapat mengancam usaha warung nasi miliknya. Terlebih bila harga gas elpiji tiga kilogram juga mengalami kenaikan. Untuk itu, kata Usi, dirinya berharap agar peredaran dan harga gas elpiji dapat kembali normal.
"Sebagai pedagang nasi dan sayur masak tentunya kelangkaan elpiji akan jadi masalah buat saya. Sebab, saya sangat tergantung dengan gas untuk kebutuhan bahan bakar memasak," pungkasnya.
(gpr)
Lihat Juga :